Langit sore itu jingga, seperti luka yang tak kunjung sembuh. Aku duduk di bangku taman yang sama, di bawah pohon mahoni yang sama, sejak enam bulan terakhir. Sebuah kebiasaan yang lahir dari kehilangan.
Namaku Tari. Dua tahun lalu, aku masih bisa melihat warna-warni dunia. Kini yang tersisa hanya gelap—sebuah kanvas hitam tanpa ujung. Kecelakaan mobil di ruas tol dalam kota mengambil semuanya. Penglihatanku, calon suamiku, dan harapan yang dulu bersemi begitu indah.
Aku tidak pernah menceritakan ini kepada siapa pun. Tapi setiap sore, aku datang ke sini, memegang ponsel buta di pangkuan, dan menekan tombol putar.
Klik.
Suaramu mengalun pelan dari speaker. Rekaman terakhir yang sempat aku simpan sebelum semuanya lenyap.
“Tari, lihat ke kanan. Matahari terbenam hari ini seperti lukisan. Ada gradasi oranye ke merah, seperti hatiku yang terbakar setiap kali melihat senyummu.”
Aku tersenyum pahit. Dulu aku tertawa mendengar kalimat puitis yang kau ucapkan dengan datar, seperti sedang membaca berita. Kini, aku menangis diam-diam setiap kali mendengarnya.
Rekaman itu hanya berdurasi tiga menit. Tiga menit kebahagiaan yang harus cukup untuk menghidupkan 23 jam 57 menit lainnya dalam hariku.
Tapi hari ini berbeda.
Saat rekaman itu berakhir, aku mendengar sesuatu. Langkah kaki. Mendekat. Berhenti tepat di depanku.
“Maaf,” suara laki-laki. Bukan suaramu. Suara ini lebih dalam, sedikit serak, seperti seseorang yang jarang bicara. “Aku sering melihatmu di sini. Setiap sore.”
Aku menegang. Tanganku meremas ponsel. “Kau mengawasiku?”
“Bukan begitu. Aku tinggal di apartemen seberang taman.” Aku mendengar suara jari menunjuk ke suatu arah. “Jendela kamarku tepat menghadap ke sini. Dan aku melihat... kau selalu sendirian. Memegang ponsel itu seperti memegang sesuatu yang sangat berharga.”
Aku tidak menjawab.
“Aku Aldo,” katanya lagi. “Boleh aku duduk?”
Aku mengangguk ragu.
Aldo duduk di ujung bangku, memberi jarak yang sopan. Aku mendengar sesuatu—suara besi beradu. Tongkat. Dia menyandarkannya di samping bangku.
“Kau juga?” tanyaku pelan.
Dia terkekeh kecil. “Kecelakaan konstruksi dua tahun lalu. Kaki kirinya hancur. Aku beruntung masih bisa berjalan walau pincang.”
Keheningan mengembang di antara kami. Bukan yang canggung, tapi seperti dua luka yang saling mengenali.
“Siapa suara di rekaman itu?” tanyanya akhirnya.
Aku menelan ludah. “Calon suamiku. Dia meninggal dalam kecelakaan yang sama yang membuatku buta.”
Aldo diam lama. Lalu aku mendengar napasnya memburu. “Maaf. Aku... aku tidak tahu.”
“Tidak apa. Aku sudah terbiasa.”
“Tidak,” katanya tegas. “Kau tidak terbiasa. Kau hanya belajar hidup dengan rasa sakit itu. Itu berbeda.”
Aku terhenyak. Tidak ada yang pernah berkata seperti itu sebelumnya.
“Aku dulu tukang bangunan,” Aldo memulai cerita. “Setiap hari memanjat gedung-gedung tinggi, merasakan angin di wajah, melihat kota dari atas. Setelah kakiku... setelah itu, dunia terasa sempit. Aku benci apartemenku karena dari jendela, aku bisa melihat orang-orang berjalan normal sementara aku terbata-bata.”
“Lalu kenapa kau tidak pindah?”
“Karena suatu sore, aku melihat seorang perempuan duduk di bangku taman. Matanya buta, tapi wajahnya—kau tersenyum, Tari. Kau tersenyum mendengar suara dari ponsel itu. Dan aku berpikir, jika dia bisa tersenyum dalam gelapnya, kenapa aku mengeluh tentang kakiku yang hanya pincang?”
Air mataku jatuh. Aku tidak menyadarinya.
“Aku benci suaraku sendiri,” bisikku. “Karena setiap hari aku mendengar rekaman itu, aku sadar bahwa aku tidak akan pernah mendengar suara itu lagi di dunia nyata. Tapi aku juga takut jika aku berhenti mendengarkannya, aku akan lupa bagaimana suaranya.”
Aldo tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi aku mendengar sesuatu—dia meraih sesuatu dari sakunya. Lalu suara gesekan, napasnya yang mengatur ritme. Dan kemudian...
Sebuah melodi.
Dia memainkan harmonika. Lagu yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Sederhana, pelan, seperti hujan rintik-rintik di atas daun mahoni.
Aku menahan napas.
Lagu itu tidak menggantikan suaramu. Tidak akan pernah. Tapi untuk pertama kalinya dalam enam bulan, aku tidak menekan tombol putar ulang setelah rekaman itu selesai.
Aku hanya mendengarkan.
Dan di sela-sela nada yang mengalun, aku mendengar suara Aldo yang hampir berbisik, “Aku tidak bisa mengembalikan matamu. Tapi mungkin aku bisa menemanimu di gelapmu.”
Sore itu, untuk pertama kalinya, aku tidak pulang sendirian. Aldo menggandeng tanganku dengan lembut, tongkatnya beradu pelan dengan aspal, dan kakiku melangkah mengikuti irama yang asing.
Ada banyak cara untuk menemukan jalan pulang.
Dan mungkin, hanya mungkin, suara baru bisa membawaku ke tempat yang tidak pernah aku bayangkan akan kutemukan lagi.
Rumah