Malam itu, langit di atas Jakarta tampak seolah-olah sedang menahan napas, berat oleh mendung yang tak kunjung pecah menjadi hujan. Aku duduk di sudut sebuah kedai kopi yang hampir tutup, menatap pantulan wajahku di permukaan meja kayu yang sudah kusam. Namaku Fahmi. Selama dua puluh tujuh tahun, aku percaya bahwa identitas adalah sesuatu yang kokoh, sesuatu yang diwariskan lewat garis darah yang sah, meski darah itu pahit dan penuh luka. Namun, malam ini, sebuah surat lama yang terselip di balik buku harian almarhumah nenek telah menghancurkan pondasi itu hingga menjadi abu.
Ibu tidak pernah banyak bicara tentang Bapak. Sejak aku masih bayi, sosoknya hanyalah ruang hampa dalam ingatan. Ibu berjuang sendirian di tengah cemoohan tetangga, bekerja sebagai buruh cuci hingga punggungnya membungkuk sebelum waktunya. Setiap kali aku bertanya di mana Bapak, Ibu hanya akan menatap ke luar jendela dengan mata yang kosong, lalu menjawab singkat bahwa Bapak telah memilih jalan yang berbeda. Aku tumbuh dengan narasi "anak korban perceraian". Aku merasa menjadi korban dari sebuah janji suci yang gagal dipertahankan. Aku membenci Bapak karena dia tidak bertanggung jawab, karena dia menghilang saat aku masih membutuhkan pelukannya untuk belajar bersepeda, karena dia meninggalkan Ibu yang begitu rapuh.
Lalu datanglah hari itu, saat aku berusia tujuh belas tahun. Sebuah pertemuan yang aku yakini sebagai takdir, namun sekarang kusadari hanyalah sebuah ironi yang kejam. Aku sedang bekerja paruh waktu sebagai pengantar barang di sebuah kompleks perumahan elit di pinggiran kota. Di depan sebuah rumah dengan taman bunga yang asri, aku melihat seorang pria sedang menggendong anak kecil sambil tertawa. Wajah itu... wajah yang selama ini hanya kulihat di foto usang milik nenek. Tanpa sadar, aku menghentikan motor dan berdiri terpaku.
Pria itu menoleh. Matanya bertemu denganku. Ada jeda panjang yang menyesakkan dada. Dia menurunkan anak kecil itu, menyuruhnya masuk ke dalam rumah, lalu melangkah ragu ke arahku. "Fahmi?" bisiknya. Suaranya tidak terdengar seperti monster yang aku bayangkan selama ini. Suaranya lembut, namun penuh dengan ketakutan. Kami duduk di sebuah bangku taman di luar kompleks. Di sana, untuk pertama dan terakhir kalinya, aku menatap mata lelaki yang memberiku kehidupan.
Dia bercerita tentang kehidupannya yang baru. Dia memiliki istri yang cantik, dua anak yang lucu, dan karier yang mapan. Dia berbicara tentang "kesalahan masa lalu" tanpa pernah merinci apa kesalahan itu. Dia memberikan uang segepok padaku, yang langsung kutolak dengan tangan gemetar. Aku tidak butuh uangnya; aku butuh penjelasan mengapa aku tidak ada dalam gambaran bahagianya itu. Namun, dia hanya menunduk, tidak sanggup membalas tatapanku. Hari itu aku pulang dengan hati yang hancur, melihat dia kembali masuk ke rumah indahnya, kembali ke pelukan keluarganya yang "sempurna", sementara aku kembali ke kontrakan sempit dan Ibu yang sedang terbatuk-batuk.
Selama sepuluh tahun berikutnya, aku memendam kemarahan itu. Aku berjanji akan menjadi pria yang lebih baik darinya. Aku bekerja keras, menyelesaikan kuliah dengan beasiswa, dan akhirnya memiliki posisi yang cukup baik. Aku merasa telah menang melawan takdir. Hingga hari ini, di usiaku yang ke-27, saat aku menemukan kebenaran yang jauh lebih gelap dari sekadar perceraian.
Surat itu tertulis dengan tinta yang sudah memudar, dari Bapak untuk Nenek, dikirimkan beberapa bulan setelah aku lahir. Di sana tertulis dengan jelas permohonan maaf karena dia tidak bisa menikahi Ibu. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena dia sudah memiliki tunangan pilihan orang tua yang tidak bisa dia tinggalkan. Aku bukan anak dari sebuah pernikahan yang gagal. Aku adalah hasil dari sebuah "kekhilafan" yang tidak pernah diikat oleh kata sah di mata hukum maupun agama. Aku adalah anak di luar nikah.
Rasanya seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungku hingga tak bersisa. Seluruh perjuanganku, harga diriku, dan kemarahanku selama ini terasa sia-sia. Ternyata, alasan dia menghilang bukan hanya karena dia tidak bertanggung jawab, tapi karena kehadiranku adalah sebuah aib yang harus dihapus dari sejarah hidupnya yang bersih. Itu sebabnya saat kami bertemu di umur 17 tahun, dia menatapku dengan ketakutan, bukan kerinduan. Aku adalah bukti nyata dari dosa yang ingin dia lupakan.
Ya Allah, entah apa yang salah denganku. Mengapa takdir ini begitu menyakitkan? Aku berdiri dari kursi kedai kopi, melangkah keluar ke udara malam yang dingin. Aku merasa seolah-olah seluruh dunia sedang menunjuk ke arahku. Aku memikirkan Ibu. Betapa berat beban yang dia tanggung sendirian selama dua puluh tujuh tahun ini. Dia tidak hanya menanggung beban kemiskinan, tapi juga rahasia yang menghancurkan jiwanya setiap kali dia menatap wajahku yang sangat mirip dengan pria itu.
Aku menyadari sekarang mengapa Ibu selalu menghindar dari topik pernikahan. Dia mungkin takut aku akan mengalami penolakan yang sama, atau dia mungkin merasa bersalah telah membawaku ke dunia dengan status yang dianggap hina oleh banyak orang. Air mata mulai membasahi pipiku, mengalir tanpa bisa kutahan. Aku bukan hanya seorang anak yang ditinggalkan; aku adalah sebuah eksistensi yang tidak pernah direncanakan, tidak pernah diinginkan oleh garis keturunan manapun.
Pikiranku kembali ke pertemuan sepuluh tahun lalu itu. Jika aku tahu saat itu bahwa aku adalah anak di luar nikah, apakah aku akan tetap menatapnya dengan harga diri yang tinggi? Ataukah aku akan bersimpuh di kakinya, memohon agar dia mengakui keberadaanku meski hanya di dalam hati? Sekarang aku tahu mengapa itu menjadi pertemuan pertama dan terakhir kami. Dia telah menutup pintu masa lalunya rapat-rapat, dan aku adalah kunci yang dia buang ke dasar laut.
Dunia ini terasa begitu tidak adil. Di saat orang lain bangga dengan silsilah keluarga mereka, aku bahkan tidak tahu di mana tempatku berdiri. Aku merasa seperti orang asing di dalam tubuhku sendiri. Namun, di tengah badai emosi ini, aku teringat pada wajah Ibu. Ibu yang tidak pernah menyerah padaku, meskipun kehadiranku adalah pengingat akan luka terdalamnya. Dia tidak membuangku. Dia tidak meninggalkanku di depan panti asuhan. Dia memilih untuk hancur demi menjagaku tetap utuh.
Mungkin aku memang anak yang tak diinginkan oleh dunia, tapi aku adalah segalanya bagi Ibu. Takdir ini memang menyakitkan, sangat menyakitkan hingga rasanya aku ingin hilang saja dari bumi ini. Namun, jika Tuhan mengizinkanku bernapas hingga detik ini, bukankah itu berarti aku memiliki hak untuk ada? Statusku mungkin dianggap "salah" oleh manusia, tapi napas yang kuhela adalah nyata.
Aku menghapus air mataku dengan kasar. Malam semakin larut, dan lampu-lampu jalan mulai terlihat buram karena mataku yang sembab. Aku akan pulang. Aku akan memeluk Ibu lebih erat dari biasanya. Aku tidak akan bertanya tentang surat itu, aku tidak akan menuntut penjelasan lagi. Aku hanya ingin dia tahu bahwa meski dunia menganggap kami sebuah kesalahan, bagiku, keberaniannya mencintaiku adalah kebenaran yang paling suci. Aku adalah Fahmi, dan meski garis takdirku patah di sana-sini, aku akan belajar untuk berjalan di atas retakannya, meski setiap langkah terasa seperti menginjak duri.