Lampu neon di langit-langit minimarket berkedip ritmis, menciptakan bayangan yang tampak seperti jemari hitam yang berusaha meraih tengkuk Seno. Pria itu berdiri mematung di depan rak susu kotak. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh permukaan dingin karton Ultra Milk ukuran satu liter. Di kepalanya, sebuah komentar media sosial berputar seperti kaset rusak, sebuah kalimat yang ia baca tadi siang: "In this economy, semua harus serba realistis aja Om. Jangan paksakan diri kalau belum mampu ataupun tidak mau. Cukup sudah mengalah waktu kecil dulu."
Seno tertawa kecil, suara yang lebih mirip sedu sedan. "Realistis," bisiknya. Kata itu terasa seperti empedu di lidahnya.
Tahun ini Seno akan menginjak usia dua puluh tujuh. Usia yang dalam bayangan masa kecilnya adalah puncak kedewasaan—sebuah rumah dengan halaman luas, tawa anak-anak, dan aroma masakan istri yang menyambut di depan pintu. Namun, realita adalah monster dengan taring yang terbuat dari tagihan listrik, cicilan motor yang menunggak, dan harga beras yang merangkak naik setiap kali ia berkedip.
Ia mengambil kotak susu itu, membayarnya dengan uang receh yang ia kumpulkan dari laci meja kerjanya, lalu melangkah keluar menuju kegelapan Bandung Timur yang dingin.
---
Seno tidak pulang ke rumah. Ia tidak bisa. Di rumah yang ia sebut sebagai "warisan keluarga" itu, ada aroma masa lalu yang mencekik. Ia justru memacu motor tuanya menuju sebuah jembatan layang yang sepi. Di sana, ia duduk di pembatas beton, menatap lampu-lampu kota yang tampak seperti kunang-kunang yang sekarat.
Ia membuka kotak susunya, meneguknya kasar. Rasa manis cokelat itu justru memicu sebuah memori yang selama ini ia kunci rapat di dasar jiwanya. Memori tentang "mengalah."
Seno kecil berusia tujuh tahun. Ia berdiri di pojok dapur, melihat ibunya membagi sepotong telur dadar menjadi lima bagian kecil. "Seno, kamu yang paling besar, kamu mengalah ya buat adik-adik," kata ibunya dengan suara yang terdengar seperti amplas. Seno mengangguk. Ia selalu mengangguk.
Mengalah menjadi identitasnya. Mengalah untuk mainan, mengalah untuk baju baru, hingga mengalah untuk cita-citanya masuk sekolah seni karena ayahnya bilang menjadi guru honorer lebih "terhormat" meski gajinya habis untuk ongkos bensin.
"Jangan paksakan diri kalau belum mampu," Seno mengulang kalimat dari komentar itu lagi.
Tetapi dunia tidak membiarkannya berhenti memaksa. Di sekolah tempatnya mengajar, ia melihat anak-anak dengan sepatu bermerek yang harganya setara dengan tiga bulan gajinya. Di media sosial, teman-temannya memamerkan foto pernikahan di hotel berbintang, sementara Seno bahkan tidak berani mengajak pacarnya makan di kafe yang memiliki daftar menu bergambar.
Telepon di sakunya bergetar. Sebuah pesan dari ibunya.
“Sen, adikmu butuh uang semesteran. Bisa pinjam dulu? Ibu tahu kamu baru gajian.”
Seno menatap layar ponselnya hingga matanya perih. Ia baru saja gajian, benar. Dan setengah dari gaji itu sudah ia gunakan untuk membayar bunga pinjaman online yang ia ambil bulan lalu untuk memperbaiki atap rumah yang bocor.
Ia tidak membalas. Ia melempar ponselnya ke aspal. Bunyi retakan layar itu terdengar sangat memuaskan di tengah kesunyian malam.
---
Trauma bukanlah sebuah kejadian besar yang meledak sekali. Bagi Seno, trauma adalah tetesan air yang jatuh di atas batu secara konsisten selama dua puluh enam tahun hingga batu itu berlubang.
Ia mulai membayangkan masa depannya. Jika ia menikah sekarang, seperti tuntutan bibi-bibinya setiap kali lebaran, apa yang akan ia berikan? Ia akan menciptakan Seno-Seno kecil yang baru. Anak-anak yang harus belajar seni mengalah sejak dalam kandungan. Anak-anak yang akan menatap kotak susu di minimarket sebagai barang mewah yang hanya bisa dibeli saat "realita" sedang berbaik hati.
"Aku tidak mau punya anak," bisik Seno pada angin malam. "Aku tidak mau menjadi ayah yang meminta anaknya mengalah."
Pikiran itu mulai berubah menjadi gelap. Sangat gelap. Seno melihat tangannya sendiri. Tangan yang sudah bekerja keras namun tetap kasar dan kering. Tangan yang tidak bisa menggenggam apa pun selain kekosongan.
Ia bangkit berdiri di atas pembatas jembatan. Angin malam menerpa wajahnya, terasa seperti belaian yang sudah lama tidak ia rasakan. Di bawah sana, arus kendaraan mengalir deras. Ia membayangkan tubuhnya jatuh, menjadi satu dengan aspal, menjadi bagian dari ekonomi yang ia benci.
Tiba-tiba, ia teringat bagian akhir dari komentar itu: "Dimasa sekarang apapun keputusannya, harus dari diri sendiri bukan dari kata orang lain."
Seno tersenyum lebar. Senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang mengerikan.
"Keputusan dari diri sendiri," katanya.
Ia mengeluarkan korek api dari sakunya. Ia tidak melompat. Belum. Ia kembali ke motornya, berkendara pulang dengan tenang yang tidak wajar.
---
Rumah itu gelap saat Seno tiba. Bau kayu lapuk menyambutnya. Ia berjalan ke dapur, melihat sisa makanan di meja. Ia melihat foto keluarganya di dinding—ayah yang sudah tiada, ibu yang menua dengan tuntutan, dan adik-adik yang selalu bergantung padanya.
Seno mengambil jerigen bensin yang biasa ia simpan untuk cadangan motor. Dengan gerakan metodis, ia mulai menyiramkan cairan berbau tajam itu ke sofa ruang tamu, ke tumpukan buku-buku pedagogi di mejanya, ke tempat tidur yang selalu memberikan mimpi buruk.
"Cukup sudah mengalah," bisiknya.
Ia menyalakan korek. Api kecil itu tampak sangat indah di tengah kegelapan. Ia menjatuhkannya ke lantai.
Dalam hitungan detik, api menjilat gorden, merambat ke langit-langit. Seno tidak lari. Ia justru duduk di kursi kayu di tengah ruangan, mengambil kotak Ultra Milk-nya yang masih tersisa separuh, dan meneguknya perlahan sambil menonton rumah itu mulai runtuh.
Ia tidak merasa takut. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun, ia merasa memegang kendali. Ia tidak mengalah pada api. Ia membiarkan api itu menjadi keputusannya sendiri.
Suara sirine terdengar di kejauhan, tapi bagi Seno, itu hanyalah musik latar untuk kebebasannya. Kulitnya mulai merasakan panas yang luar biasa, rambutnya mulai terbakar, tapi ia tetap duduk diam. Bayangan Seno kecil yang sedang membagi telur dadar muncul di depannya, tersenyum dan berkata, "Terima kasih sudah berhenti mengalah, Kak."
Seno memejamkan mata saat seluruh ruangan berubah menjadi putih terang yang menyakitkan.
Besok, orang-orang akan membaca berita tentang seorang guru honorer yang tewas dalam kebakaran rumah akibat "arus pendek". Mereka akan berkata betapa malangnya pria itu, betapa berat beban hidupnya. Namun tidak akan ada yang tahu bahwa di detik terakhir hidupnya, Seno akhirnya merasa kaya. Ia kaya akan rasa sakit yang akhirnya ia miliki sepenuhnya, tanpa perlu dibagi dengan siapa pun.
Di reruntuhan dapur yang menghitam, hanya satu benda yang tersisa: sebuah kotak susu yang gosong, dengan logo biru yang masih samar terlihat di antara debu dan abu. Sebuah monumen bisu bagi seseorang yang memilih untuk "realistis" dengan cara yang paling traumatis.