Lala tak pernah menyangka, perkenalan singkat lewat media sosial bisa mengubah hidupnya begitu dalam.
Semua bermula dari sebuah pesan sederhana. Kael, pria yang baru dikenalnya tiga bulan lalu, masuk ke hidupnya dengan cara yang tak terduga. Obrolan mereka ringan, kadang konyol, kadang serius. Tapi selalu ada sesuatu yang membuat Lala menunggu pesan berikutnya.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu.
Hari itu, jantung Lala berdebar lebih cepat dari biasanya. Saat Kael muncul di hadapannya, Lala sempat terdiam.
Kael… jauh lebih dari yang ia bayangkan.
Masih muda, wajahnya tampan dengan aura dingin yang justru membuatnya semakin menarik. Cara bicaranya santai, tapi tatapannya tajam. “Jadi ini Lala,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Sejak saat itu, semuanya berjalan terlalu cepat.
Tanpa banyak pertimbangan, Kael mengajak Lala pergi ke sebuah hotel. Lala tahu itu salah. Ia tahu batasan. Ia bahkan sudah memiliki tunangan. Tapi entah kenapa, hari itu logikanya kalah oleh perasaan dan rasa penasaran.
Malam itu menjadi rahasia yang tak pernah mereka bicarakan dengan siapa pun.
Bukan yang pertama bagi keduanya, tapi tetap saja… meninggalkan kesan yang berbeda.
Setelah malam itu, hubungan mereka justru semakin dekat.
Mereka menjadi sepasang kekasih yang saling terikat kuat. Chat tak pernah putus, telepon sampai larut malam, dan rindu yang selalu terasa berlebihan. Kael yang awalnya terlihat dingin, berubah menjadi sosok yang begitu perhatian. Sementara Lala, semakin tenggelam dalam hubungan yang ia tahu sejak awal salah arah.
Mereka seperti lupa dunia.
Lupa bahwa Lala sudah memiliki seseorang yang menunggunya di masa depan.
Waktu berjalan cepat.
Satu tahun berlalu.
Hingga akhirnya, kenyataan datang tanpa bisa ditolak.
“Aku mau menikah…” ucap Lala suatu malam dengan suara pelan.
Kael terdiam.
“Dengan tunanganku.”
Kalimat itu seperti menghancurkan segalanya.
Kael tertawa kecil, tapi matanya tak bisa berbohong. Ada luka besar di sana. “Jadi selama ini… aku cuma singgah?” tanyanya lirih.
Lala tak mampu menjawab.
Ia tahu, pilihannya jelas. Tunangannya adalah pria mapan, masa depan yang pasti, hidup yang terjamin. Sementara Kael… hanyalah cerita yang indah tapi rapuh.
Hari itu mereka berpisah.
Tanpa drama besar. Tanpa teriakan.
Hanya dua hati yang sama-sama tahu… ini akhir.
Namun bagi Kael, itu bukan sekadar perpisahan.
Itu adalah patah hati terbesar dalam hidupnya.
Malam setelah ia mengetahui kebenaran sepenuhnya—bahwa Lala memang sejak awal adalah milik orang lain—Kael duduk sendiri di kamarnya. Tak ada yang menemaninya.
Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu… menangis.
Bukan karena kehilangan semata.
Tapi karena ia sadar, ia telah mencintai seseorang yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Sementara di tempat lain, Lala melanjutkan hidupnya.
Menjadi istri dari pria yang “seharusnya”.
Namun jauh di dalam hatinya, ada satu kenangan yang tak akan pernah benar-benar hilang.
Tentang tiga bulan yang berubah menjadi satu tahun.
Dan tentang seseorang bernama Kael… yang datang terlalu cepat, dan pergi terlalu dalam.
Tamat