Lulu tidak pernah menyangka, semester tiganya akan diwarnai kisah yang begitu rumit.
Ia hanya seorang mahasiswi biasa—kuliah, tugas, dan sesekali nongkrong dengan teman. Hidupnya sederhana, bahkan cenderung membosankan. Sampai suatu sore, saat ia pulang dari kampus, semuanya berubah.
Di sebuah lampu merah, matanya bertemu dengan seorang pria berseragam polisi. Tinggi, berwajah tegas, dengan senyum tipis yang entah kenapa terasa hangat. Lulu langsung salah tingkah, buru-buru mengalihkan pandangan.
Namun, sejak hari itu, pria itu seperti tak sengaja terus muncul di hidupnya.
Namanya Pram.
Awalnya hanya sapa singkat saat bertemu di jalan. Lalu berkembang jadi obrolan ringan. Hingga akhirnya, mereka saling bertukar nomor.
“Jangan sering-sering keluar malam ya, Lulu. Bahaya,” kata Pram suatu kali lewat chat.
Lulu tersenyum sendiri membaca pesan itu. Perhatian sederhana yang entah kenapa terasa istimewa.
Hari-hari berikutnya, komunikasi mereka makin intens. Pram sering mengirim pesan, menanyakan kabar, bahkan mengingatkan Lulu makan dan istirahat. Sosoknya yang dewasa membuat Lulu merasa aman.
Hingga suatu malam, Pram mengajaknya keluar.
“Sekadar keliling aja. Kalau nggak mau, nggak apa-apa.”
Lulu ragu. Tapi hatinya terlalu penasaran.
Akhirnya ia mengiyakan.
Malam itu, Lulu duduk di belakang motor Pram. Angin malam menyapu wajahnya, sementara jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Mereka tidak pergi ke tempat mewah. Hanya menyusuri jalan kota, berhenti di pinggir jalan untuk membeli minuman, lalu duduk di trotoar sambil bercanda.
Sederhana.
Tapi terasa sangat berarti.
“Lulu,” panggil Pram pelan.
“Iya?”
“Kamu itu… beda.”
Lulu menunduk, pipinya memanas.
Namun di balik semua itu, ada satu hal yang mengganjal di hatinya.
Pram terlalu sempurna.
Dan kesempurnaan itu justru membuat Lulu takut.
Beberapa hari setelah malam itu, Lulu tanpa sengaja melihat sesuatu yang menghancurkan perasaannya.
Sebuah foto di media sosial.
Pram… bersama seorang wanita dan seorang anak kecil.
Tersenyum bahagia.
Caption-nya sederhana: “Keluarga kecilku.”
Dunia Lulu seakan berhenti.
Tangannya gemetar. Dadanya sesak.
Ternyata… Pram sudah punya istri.
Semua perhatian, semua kata manis, semua kebersamaan malam itu—tiba-tiba terasa salah.
Sangat salah.
Malam itu juga, Lulu menangis diam-diam di kamarnya.
Ia tidak marah.
Tidak juga membenci.
Tapi ia sadar… ia sudah berada di tempat yang tidak seharusnya.
Keesokan harinya, Pram mengirim pesan.
“Lulu, nanti malam mau keluar lagi?”
Lulu menatap layar ponselnya lama.
Air matanya jatuh lagi.
Dengan tangan gemetar, ia akhirnya membalas:
“Maaf, Om… Lulu nggak bisa lagi.”
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
“Kenapa?”
Lulu menarik napas panjang.
Karena aku takut jatuh lebih dalam, batinnya.
Namun yang ia tulis hanya:
“Lulu nggak mau jadi orang jahat.”
Setelah itu, ia memblokir nomor Pram.
Bukan karena benci.
Tapi karena ia tahu… jika tetap bertahan, ia akan terluka lebih dalam.
Hari-hari setelahnya terasa sepi.
Lulu sering teringat malam itu—angin, tawa, dan perhatian sederhana yang kini tak bisa ia miliki lagi.
Tapi di balik rasa sakit itu, ada satu hal yang membuatnya tetap kuat.
Ia memilih berhenti.
Sebelum semuanya terlambat.
Dan untuk pertama kalinya, Lulu merasa… ia telah menyelamatkan dirinya sendiri.
Selesai