Di Jakarta yang kini lebih sering terlihat seperti gurun beton berlapis debu, Savier menatap layar ponselnya yang hanya menampilkan ikon silang merah. Sudah tiga minggu transmisi satelit di wilayah utara terganggu akibat badai pasir yang tak kunjung usai. Di seberang sana, ribuan kilometer jauhnya di pesisir Sumatra, Sheila mungkin sedang meringkuk di bunker, mendengarkan deru angin yang sanggup menerbangkan atap seng. Hubungan jarak jauh mereka dulu bergantung pada serat optik dan sinyal 5G yang stabil, tetapi kini, cinta mereka hanyalah sekumpulan paket data yang gagal terkirim.
Kekeringan panjang telah mengubah Jakarta menjadi medan tempur bagi setetes air jernih. Savier, yang dulu seorang desainer grafis, kini menghabiskan malamnya sebagai "pencuri air" demi bertahan hidup. Ia bukan mencuri dari sesama warga miskin, melainkan meretas pipa-pipa cadangan milik korporasi besar yang masih memiliki suplai air melimpah untuk lapangan golf artifisial mereka. Setiap tetes yang ia ambil adalah risiko nyawa, tetapi setiap tetes itu pula yang ia gunakan untuk menyiram tanaman tomat layu di balkonnya, satu-satunya hal yang mengingatkannya pada dunia hijau yang pernah diceritakan ibunya.
Konflik batin Savier memuncak saat ia mendapati seorang anak kecil tetangganya pingsan karena dehidrasi parah di lorong apartemen yang panasnya mencapai 45°C. Di tas punggungnya, ada dua botol air hasil curian semalam yang seharusnya ia simpan untuk dirinya sendiri agar kuat bekerja esok hari. Logikanya berteriak bahwa ia harus egois jika ingin melihat hari esok, tetapi nuraninya menolak untuk menjadi monster di dunia yang sudah sekarat. Dengan tangan gemetar, ia memberikan air itu, menyadari bahwa tindakannya memperpendek harapan hidupnya sendiri.
Di saat yang sama, sebuah sinyal lemah berhasil menembus gangguan atmosfer. Ponselnya bergetar. Satu pesan dari Sheila masuk, tetapi isinya justru menghancurkan sisa semangatnya: "Savier, bandara di sini tenggelam, internet akan mati total malam ini. Aku tidak bisa menunggu sesuatu yang tidak pasti lagi. Maaf, aku harus fokus untuk tetap hidup di sini sendirian." Hubungan mereka gagal bukan karena hilangnya rasa, melainkan karena dunia tidak lagi mengizinkan mereka untuk saling terhubung.
Elias duduk di lantai apartemennya yang berdebu, menatap langit merah tanpa awan, menyadari bahwa dalam perang antara iklim dan kemanusiaan, terkadang kehilangan orang yang dicintai adalah harga yang harus dibayar demi satu napas tambahan.