Malam ini, langit seolah sedang pamer kecantikan. Bulan purnama menggantung sempurna di atas danau, persis di balik jendela besar ruang tamu kita—ah, maksudku rumah yang kini terasa terlalu luas untukku sendiri. Namaku Wulandriana Purnama Aesthetica. Ayah memberiku nama itu karena aku lahir saat bulan sedang bulat-bulatnya, tapi lucu ya, malam ini namaku justru terasa seperti beban yang menyesakkan dada.
Aku meringkuk di sofa hijau, memeluk lutut. Di sampingku, Brownies—kucing cokelat kesayangan kita—mendengkur halus. Dia satu-satunya saksi bisu betapa seringnya aku melamun sejak Pras, suamiku, memutuskan angkat kaki dan pulang ke rumah orang tuanya.
Semua cuma karena masalah sepele. Hal kecil yang kalau dipikir lagi sekarang, rasanya bodoh sekali kalau harus dibayar dengan perpisahan. Pras dengan keras kepalanya, dan aku dengan gengsi setinggi langit. Akhirnya, dia pergi. Meninggalkan aku, Brownies, dan tumpukan buku di rak yang kini berdebu karena tak ada lagi yang semangat membacanya.
"Brownies, menurutmu Pras sedang lihat bulan yang sama nggak di sana?" bisikku pelan.
Brownies hanya menggeliat, mengusap kepalanya ke tanganku.
Aku menatap pantulan bulan di air danau yang tenang. Di dalam hati, aku merapal doa yang sama setiap malam: Semoga Pras ingat aku. Semoga dia sadar kalau rumah ini sepi tanpa tawanya. Aku rindu aroma kopinya di pagi hari, rindu caranya mengomel kalau aku lupa mematikan lampu.
Tiba-tiba, keheningan malam pecah oleh getaran ponsel di atas meja kayu. Jantungku mencelos. Sebuah nama muncul di layar: Dilan Prasetyo Suherman.
Tanganku gemetar saat mengangkatnya. Aku diam, takut kalau suaraku pecah.
"Rian?" Suaranya terdengar di seberang sana. Serak, seperti orang yang sudah lama menahan beban. "Aku sedang di luar, menatap bulan. Purnama malam ini cantik sekali... tapi rasanya ada yang hilang."
Aku masih terdiam, air mata mulai mengaburkan pandanganku.
"Aku minta maaf, Rian," lanjutnya, suaranya kini lebih lembut. "Aku egois. Aku membiarkan amarah kecil menghancurkan apa yang kita bangun. Melihat purnama tahun ini terlewati tanpa kamu di sampingku... itu adalah hal tersulit yang pernah aku alami. Aku ingin pulang. Bolehkah aku pulang ke rumah kita?"
Tangis yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah juga. Bukan tangis sedih, tapi tangis lega yang luar biasa. "Pras... cepatlah pulang. Brownies sudah rindu, dan aku... aku lebih rindu lagi."
Malam itu, purnama tidak lagi terasa dingin. Cahayanya yang masuk melalui celah jendela seolah merestui babak baru yang akan kami mulai. Pras akan kembali, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan ego memadamkan cahaya di rumah kami lagi.
***
Satu tahun sudah lewat sejak malam yang penuh air mata itu. Malam ini, bulan purnama kembali bertahta di langit yang sama, memantulkan cahaya perak di atas danau yang tenang. Tapi, suasana di dalam rumah sudah jauh beda. Tidak ada lagi sepi yang menyesakkan atau napas Brownies yang sendirian di sofa.
Pras duduk di sampingku, tangannya merangkul bahuku hangat. Tangannya yang besar pelan-pelan turun, mengusap lembut perutku yang kini sudah membuncit. Di sana, ada nyawa baru yang sedang tumbuh—buah cinta kami yang sempat diuji ego, tapi sekarang malah jadi makin kuat.
"Tahun lalu aku hampir kehilangan momen ini, Rian," bisik Pras tepat di telingaku, suaranya agak bergetar karena syukur. "Terima kasih ya, sudah kasih aku kesempatan untuk pulang."
Aku cuma bisa nyender di bahunya, dengerin detak jantungnya yang bikin aku tenang. Brownies juga mengeong manja di kaki kami, seolah dia ikut ngerasain bahagia yang meluap di ruangan ini. Kami menatap rembulan bareng-bareng, sadar kalau purnama kali ini adalah yang paling cantik yang pernah kami lihat. Bukan cuma karena sinarnya, tapi karena sebentar lagi, bakal ada tangis mungil yang bikin keluarga kecil kami lengkap.