Hening malam di Pondok Pesantren Al-Ikhlas, kaki Gunung Salak, adalah jenis hening yang sakral. Ketika ribuan santri terlelap dalam mimpi, hanya suara jangkrik dan deru angin gunung yang sesekali memecah sunyi. Namun, di dalam masjid jami’ yang hanya diterangi lampu remang-remang, ada kehidupan lain yang berdenyut deras.
Di pojok paling kanan shaf depan, seorang pemuda bersimpuh dengan khusyuk. Bahunya sesekali bergetar. Tangannya menengadah tinggi-tinggi, melangitkan doa yang tak pernah jemu diulangnya setiap malam selama lima tahun terakhir. Dia adalah Alif Hakim. Santri teladan yang ketampanannya tenang, tidak meledak-ledak, namun menghanyutkan. Keceritaannya setara dengan kealiman dan ketawadhu’annya.
Alif adalah "bintang" di pondok putra. Dan malam ini, dia sedang mengadu.
"Yaa Allah, Hamba bukanlah sesiapa. Hamba hanyalah fakir ilmu yang mendamba rida-Mu. Di sepertiga malam ini, saat pintu langit-Mu terbuka lebar, Hamba memohon... mudahkanlah jalan Hamba menuju Al-Azhar, Cairo. Izinkan Hamba menimba ilmu di bumi seribu menara itu. Jagalah niat Hamba, Yaa Rabb..."
Air mata Alif menetes, membasahi sajadah lusuh yang menjadi saksi bisu perjuangannya. Solat di sepertiga malam baginya bukan sekadar kewajiban, tapi adalah 'oksigen' bagi jiwanya. Itu adalah saat paling intim, di mana ia bisa "berbicara" langsung tanpa sekat dengan Sang Pencipta, memohon kekuatan untuk mimpinya yang setinggi langit.
***
Namun, malam itu Alif tidak sendirian.
Tepat di balik tabir pembatas antara area putra dan putri, ada mata yang mengawasi. Anselma Bidadari Jelita. Nama yang bukan main indahnya, seindah orangnya. Jika Alif adalah bintang putra, Anselma adalah purnama putri. Cantik, cerdas, dengan lesung pipit yang bikin pingsan santri putra jika dia tersenyum (walau dia sangat jarang tersenyum di depan lawan jenis).
Anselma, yang biasa dipanggil Selma, adalah "Pengagum Rahasia Nomor Satu Alif Hakim". Ini adalah rahasia terbesar Selma yang bahkan sahabat karibnya pun tak tahu.
Asmara di asrama ponpes itu berjalan lambat, sangat lambat, layaknya siput yang sedang maraton. Alif tidak pernah melirik santri putri, dia terlalu sibuk dengan kitab kuning dan target hafalan Al-Qur'annya. Sedangkan Selma, dia cukup puas menjadi 'pengawas' setia Alif.
Setiap sepertiga malam, saat bel pembangun tahajud berbunyi, Selma adalah orang pertama yang bangun. Dia bukan hanya ingin shalat, dia ingin memastikan Alif juga bangun. Dan setiap kali dia mengintip dari celah tabir, Alif selalu sudah di sana, di shaf depan, menangisi doanya.
Duh, Kak Alif kalau lagi doa gitu gantengnya nambah seribu persen, batin Selma, pipinya merona merah di kegelapan.
Malam ini, Selma memberanikan diri. Setelah menyelesaikan shalatnya, dia tidak beranjak. Dia duduk diam, mendengarkan sayup-sayup suara Alif.
"Dan Yaa Allah, jika Engkau mengizinkan, Hamba memohon..." Alif menghela napas panjang, suaranya mengecil. "Hamba mohon, jagalah seorang hamba wanita-Mu yang selalu hadir dalam pikiran Hamba akhir-akhir ini. Hamba tak berani menyebut namanya, karena Hamba takut ini nafsu, bukan cinta karena-Mu. Tapi jika dia adalah yang terbaik, pertemukanlah kami di jalan yang Engkau rida..."
Deg! Jantung Selma serasa berhenti berdetak.
Siapa? Siapa cewek itu?! Selma ingin berteriak rasanya. Gregetan setengah mati. Apakah itu santriwati baru yang kemarin memberinya air minum? Atau ukhti yang menang lomba Qira’ah?
Cemburu itu datang tiba-tiba, menyesakkan. Tapi, Selma segera istighfar.
Ah, Selma! Kamu itu bukan siapa-siapa. Dia juga belum tentu mikirin kamu, batinnya sedih. Dia lalu menengadahkan tangannya juga.
"Yaa Allah, jika Engkau mencatat Kak Alif di lauhul mahfuz sebagai jodoh hamba, jagalah dia. Mudahkan urusannya. Pertemukanlah kami di saat kami berdua sudah pantas," doa Selma lirih, air matanya juga mulai menetes.
Maka, di sepertiga malam itu, dua doa yang berbeda, namun mungkin dengan tujuan yang sama, melesat ke langit, bersaing dengan ribuan doa lainnya. Sebuah momen manis yang hanya diketahui oleh Allah dan mereka sendiri, tanpa pernah saling bertukar sapa.
***
Tahun berlalu. Kelulusan tiba. Takdir mulai memainkan perannya.
Ternyata, dahsyatnya solat tahajud benar-benar terbukti. Alif Hakim, dengan nilai Mumtaz (Istimewa), berangkat ke Cairo dengan beasiswa penuh. Takdir yang lucu (atau mungkin direncanakan Allah?), Anselma Bidadari Jelita, dengan segala kecerdasannya, juga diterima di Al-Azhar, Cairo!
Tapi, apakah mereka bertemu di sana?
Al-Azhar itu luas. Ribuan mahasiswa dari seluruh dunia berkumpul. Dan Alif, dia tetap Alif yang sibuk. Dia fokus pada kuliah di Fakultas Ushuluddin, sedangkan Selma di Fakultas Dirasat Islamiyah.
Ada satu dua momen mereka berpapasan di pelataran masjid Al-Azhar, atau di depan toko buku di kawasan Al-Husein. Selma selalu menunduk, jantungnya berdegup kencang, berharap Alif mengenalnya. Alif? Dia hanya menunduk balik, sopan, tanpa sadar bahwa gadis yang dulu sering shalat di balik tabir dengannya, sekarang hanya berjarak beberapa meter.
Momen-momen di Cairo itu 'gemes-able' banget bagi pembaca setianya. Selma selalu curhat di buku diarinya tentang betapa gantengnya Alif saat memakai peci Mesir, atau betapa merdunya suara Alif saat tilawah di asrama mahasiswa Indonesia. Tapi, untuk menyapa? Tidak, Selma terlalu takut merusak rida Allah.
Cinta diam itu berlanjut terus, berjalan pelan namun pasti. Selma belajar bersabar, belajar bahwa cinta sejati tidak perlu diumbar, cukup dijaga dalam doa-doa tahajudnya yang tak pernah putus.
***
Lima tahun di Cairo selesai. Alif pulang dengan gelar Lc, Selma pun sama. Mereka kembali ke tanah air, siap berbakti pada bangsa.
Dan di sinilah kejutan yang sesungguhnya dimulai. Di tengah hiruk pikuk Jakarta Raya, kota yang tak pernah tidur, kota yang kejam bagi pemimpi, takdir menyiapkan panggung yang luar biasa.
Alif bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan buku Islam besar di daerah Slipi. Sedangkan Selma, dia bekerja sebagai penerjemah lepas untuk beberapa kedutaan dan lembaga internasional di area Sudirman.
Mereka tinggal di satu kota, tapi tidak pernah bertemu. Jakarta itu luas, tapi sempit jika Allah berkehendak.
Suatu hari, penerbitan tempat Alif bekerja ingin menerbitkan buku terjemahan dari seorang ulama besar Mesir. Mereka butuh penerjemah handal, yang paham bahasa Arab fusha (standar) dan bahasa gaul Mesir. Atasan Alif, Pak Badru, berkata, "Lif, saya sudah cari satu kandidat penerjemah. Katanya dia lulusan Al-Azhar juga, nilai terjemahannya bagus banget. Dia bakal datang hari ini."
Alif hanya mengangguk. "Siap, Pak."
Siang itu, hujan deras mengguyur Jakarta. Alif sedang sibuk memeriksa naskah ketika pintu ruangannya diketuk.
"Mas Alif, tamu Pak Badru sudah datang," kata resepsionis.
"Oh, ya. Silakan suruh masuk." Alif masih menunduk pada naskahnya.
Pintu terbuka. Langkah kaki terdengar pelan. Alif akhirnya mendongak.
Dia tertegun. Detak jantungnya tiba-tiba berpacu dengan ritme yang dia tahu persis. Ritme yang sama seperti saat dia berdoa di sepertiga malam lima tahun lalu.
Di depannya, berdiri seorang wanita dengan gamis hitam anggun dan jilbab senada. Di pipinya, ada sedikit rona merah, bukan karena makeup, tapi karena dinginnya hujan di luar. Dan di wajahnya... ada senyum tipis, senyum yang sangat jarang diperlihatkan, dengan lesung pipit yang Alif pikir hanya ada dalam mimpinya.
"Alif... Alif Hakim?" Suara itu lembut, bergetar.
Alif mencoba menelan ludah. "Selma? Anselma Bidadari Jelita?"
Selma tersenyum lebih lebar. "Iya, Kak Alif. Saya yang akan jadi penerjemah buku itu."
Gregetan tingkat dewa! Alif hanya bisa bengong selama sepuluh detik. Pipinya ikut memerah. Pikirannya melayang kembali ke pondok. Gadis ini... gadis yang aku tak berani sebut namanya dalam doa... dia ada di sini?
Pertemuan itu adalah momen paling 'senyam-senyum' sedunia. Mereka mendadak canggung. Mereka harus profesional membahas pekerjaan, tapi di setiap tatapan mata, ada ribuan kenangan tanpa kata yang mereka simpan selama bertahun-tahun.
"Ini draf kontraknya, Mbak Selma," kata Alif, suaranya terdengar kaku.
"Iya, Mas Alif. Terima kasih," jawab Selma, sama kakunya.
Tapi, Allah tidak pernah main-main dengan janji-Nya. Dahsyatnya solat sepertiga malam itu nyata.
Setelah pertemuan itu, mereka mulai sering berkomunikasi lewat WhatsApp, awalnya hanya untuk urusan naskah. Tapi lambat laun, percakapan mereka meluas. Mereka mengenang masa-masa di pondok (Selma akhirnya mengaku dia tahu Alif selalu tahajud di shaf depan), masa-masa di Cairo, dan mimpi-mimpi mereka untuk masa depan.
Asmara yang dulu berjalan siput, sekarang mendadak jadi mobil balap Formula 1.
Suatu sore, di sebuah kafe di daerah Senopati, setelah menyelesaikan naskah buku tersebut, Alif mengumpulkan keberaniannya. Dia menatap Selma dalam-dalam.
"Selma, kamu masih ingat doa sepertiga malamku lima tahun lalu di pondok?" tanya Alif.
Selma mengangguk, jantungnya berdebar kencang. Apakah ini saatnya?
"Aku dulu berdoa minta dijagain seorang hamba wanita, yang namanya aku tak berani sebut karena takut nafsu," Alif menghela napas. "Tapi sepertinya, Allah tidak mau aku terus-terusan jadi penakut."
Alif mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil dari sakunya. Dia meletakkannya di depan Selma.
"Anselma Bidadari Jelita, aku tahu kita tidak pernah pacaran, kita tidak pernah saling sapa secara langsung sebelumnya. Tapi, aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita masih sama-sama menengadahkan tangan di balik tabir itu. Aku sudah mencintaimu dalam diam, dan sekarang aku ingin mencintaimu dalam rida Allah. Maukah kamu menjadi makmum dalam setiap shalatku, terutama di sepertiga malam?"
Gregetan, gemes, senyam-senyum, dan air mata haru campur aduk! Selma menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia menetes. Ini adalah plot twist terindah dalam hidupnya. Doanya selama bertahun-tahun, kesabarannya dalam diam, air matanya di sepertiga malam, semuanya terjawab hari ini.
"Iya, Kak Alif. Dengan senang hati. Aku sudah menunggu momen ini lebih lama dari yang Kakak bayangkan," jawab Selma lirih di balik isak tangisnya.
Maka, di tengah hiruk pikuk Jakarta, dua hati yang telah lama dipersatukan oleh Allah di sepertiga malam, akhirnya resmi bersatu dalam takdir-Nya. Kisah mereka adalah bukti bahwa cinta yang dijaga dengan doa, yang diperjuangkan dalam sunyi di hadapan Sang Pencipta, akan berbuah manis di waktu yang paling tepat.
Pembaca Novel Toon pasti akan berteriak, "AAAAAKH, GEMES BANGET!" Dan mereka memang berhak merasa begitu. Karena kisah Alif dan Selma adalah bukti bahwa dahsyatnya solat sepertiga malam itu... ah, sudahlah, silakan senyam-senyum sendiri.