Langit Jakarta sore itu berwarna jingga pekat, seolah-olah semesta sedang menumpahkan seluruh tinta kesedihan ke atas cakrawala. Di sebuah kafe kecil di sudut Senopati, udara terasa berat oleh aroma kopi yang dipanggang dan parfum maskulin yang sangat aku kenali—aroma yang dulu selalu menjadi rumah bagiku. Kamu duduk di depanku, memutar-mutar cangkir keramik yang isinya sudah mendingin. Kita sudah duduk di sini selama satu jam, namun hanya sepuluh menit yang kita habiskan untuk bicara. Sisanya? Hening yang menyayat.
Suara musik di latar belakang tiba-tiba berubah. Denting piano yang familiar mulai mengalun, disusul suara rendah Bernadya yang membawakan lagu "Untungnya, Hidup Terus Berjalan". Lagu itu seperti sembilu yang sengaja diseret di atas luka yang baru saja menganga. “Untungnya bumi masih berputar...” lirik itu menggema, seolah mengejekku yang merasa duniaku baru saja berhenti berotasi tepat di titik kamu melepaskan genggaman tanganmu tadi.
Aku menatap matamu, mencari sisa-sisa binar yang biasanya ada di sana khusus untukku. Tapi nihil. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus keteguhan yang mengerikan. Kamu sudah memutuskan. Dan aku, dengan segala kerapuhanku, dipaksa untuk menerima.
"Jika perpisahan kita kemarin adalah kehendak Tuhan, aku ikhlas," ucapku pelan, memecah keheningan. Suaraku bergetar, hampir hilang ditelan bising mesin espresso. Kamu mendongak, ada sedikit keterkejutan di matamu, tapi kamu tetap diam.
Aku menarik napas panjang, mencoba menelan bongkahan sesak di tenggorokan. "Aku akan mencoba melupakanmu, dengan segala kesadaranku. Meski berat, aku berharap kamu pun begitu. Jadi tidak ada akhir untuk kembali, karena pasti itu yang aku harapkan saat ini. Aku tidak mau kita menjadi hantu bagi masa depan masing-masing."
Kalimat itu terasa asing di lidahku. Sejujurnya, setiap sel dalam tubuhku ingin berteriak agar kamu jangan pergi. Aku ingin memohon, berlutut, atau melakukan apa pun agar kita bisa kembali ke hari Minggu yang tenang di mana kita hanya meributkan mau makan siang apa. Namun, melihat betapa mantapnya pundakmu tegak, aku tahu memohon hanya akan merendahkan harga diriku tanpa mengubah keputusanmu.
"Aku harap kamu yakin jika meninggalkanku adalah keputusan terbaikmu," lanjutku lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas, meski mataku mulai memanas. "Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Dan aku pun akan bahagia dengan kesendirianku lagi."
Kamu akhirnya bersuara, suaramu serak. "Maafkan aku."
Hanya itu. Dua kata yang paling tidak berguna di dunia saat ini. Maaf tidak bisa merangkai kembali pecahan hati yang sudah menjadi debu. Maaf tidak bisa menghapus ribuan memori tentang bagaimana kita merencanakan nama anak di bawah rintik hujan setahun yang lalu.
Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang lebih menyakitkan daripada tangisan. Di kepalaku, lirik lagu Bernadya itu terus berputar. Untungnya, kau tak ada di sini. Benarkah itu sebuah keuntungan? Ataukah itu hanya mekanisme pertahanan diri agar aku tidak gila karena kehilangan?
Kita keluar dari kafe itu saat gerimis mulai turun. Jakarta seolah ikut menangis bersamaku. Di parkiran, kamu berhenti dan berbalik. Ada kilatan keraguan di matamu selama sepersekian detik. Kamu mengulurkan tangan, seolah ingin menyentuh pipiku untuk terakhir kalinya, tapi kamu menariknya kembali sebelum jemarimu sempat menyentuh kulitku. Jarak sepuluh sentimeter itu terasa seperti ribuan kilometer.
"Aku pergi dulu," katamu.
Aku hanya mengangguk. Aku berdiri di sana, membiarkan rintik hujan membasahi kaos tipis yang aku kenakan. Aku melihatmu masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan perlahan bergerak menjauh. Lampu merah belakang mobilmu perlahan mengecil, lalu hilang ditelan kepadatan lalu lintas dan kabut hujan.
Aku pulang ke apartemen yang kini terasa seluas lapangan bola. Sunyi. Aku mematikan lampu, hanya menyisakan lampu jalanan yang menembus jendela kaca. Aku duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur yang dulu sering kita gunakan untuk menonton film hingga tertidur. Aku meraih ponselku, membuka aplikasi musik, dan memutar lagu itu lagi. Kali ini dengan volume maksimal.
“Ada masa-masa yang kau ingin aku ada di sana... tapi untungnya, hidup terus berjalan.”
Air mataku tumpah. Bukan lagi rintik-rintik kecil, tapi sebuah badai yang pecah. Aku menangis hingga dadaku sesak, hingga suaraku habis. Aku menangis untuk setiap janji yang kamu ingkari, untuk setiap tawa yang kini berubah menjadi duri, dan untuk diriku sendiri yang harus belajar berjalan lagi tanpa tongkat penyangga yang bernama 'kita'.
Aku harus bahagia dengan kesendirianku lagi. Begitu kataku tadi, bukan? Tapi bagaimana caranya? Saat setiap sudut ruangan ini berteriak namamu. Saat aroma sabun mandimu masih tertinggal di handuk yang belum sempat kucuci.
Tiba-tiba, ponselku bergetar di lantai. Sebuah notifikasi masuk. Jantungku mencelos. Nama yang tertera di layar adalah namamu.
Tanganku gemetar saat meraih ponsel itu. Apakah kamu berubah pikiran? Apakah kamu sedang menepi di pinggir jalan dan menyadari bahwa hidup tanpaku adalah sebuah kesalahan? Harapan yang tadi coba kubunuh mati-matian, tiba-tiba tumbuh lagi seperti tunas liar yang keras kepala.
Aku membuka pesan itu dengan napas tertahan.
"Ada satu hal yang lupa aku sampaikan tadi..."
Aku menunggu. Tanda tiga titik di bawah pesan itu bergerak-gerak, menunjukkan kamu sedang mengetik. Satu menit berlalu. Dua menit. Tiga menit. Jantungku berpacu begitu cepat hingga rasanya menyakitkan. Aku menatap layar itu tanpa berkedip, air mata yang tersisa menggantung di pelupuk mata, membuat pandanganku buram.
Lalu, tanda mengetik itu hilang.
Hanya ada satu kalimat pendek yang menyusul, kalimat yang membuat seluruh duniaku seketika menjadi hampa dan hancur berkeping-keping melebihi apa pun yang pernah kubayangkan. Sebuah kalimat yang membuatku menyadari bahwa "untungnya" dalam lagu itu hanyalah sebuah kebohongan yang kita ciptakan agar kita bisa terus bernapas.
Aku membaca pesan itu sekali lagi, lalu ponsel itu terlepas dari genggamanku, jatuh ke lantai yang dingin bersamaan dengan suara petir yang menggelegar di luar sana. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, meraung dalam sunyi yang paling dalam, menyadari bahwa mulai malam ini, aku benar-benar kehilangan arah untuk selamanya.
Dan di luar sana, hujan turun semakin deras, menghapus jejak ban mobilmu di aspal, meninggalkan aku yang masih menunggu kelanjutan pesan yang tak akan pernah selesai diketik itu.