Malam mulai turun menyelimuti desa terpencil yang terletak di kaki bukit. Udara terasa sangat dingin dan menusuk kulit, seolah membawa pesan agar semua orang segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Di desa ini, kebiasaan orang keluar rumah setelah matahari terbenam sudah jarang dilakukan, apalagi jika tidak ada keperluan yang sangat mendesak.
Desa itu dikenal sebagai tempat yang tenang dan jauh dari keramaian kota. Namun, di balik ketenangannya, tersimpan cerita-cerita menyeramkan yang sudah turun temurun diceritakan dari mulut ke mulut. Salah satu cerita yang paling ditakuti dan sering dibicarakan adalah tentang makhluk halus yang disebut Kuyang.
Konon, makhluk itu sebenarnya adalah manusia biasa yang memiliki ilmu hitam. Mereka bisa memisahkan kepala dan organ dalam tubuhnya dari badannya untuk terbang mencari mangsa di malam hari. Mangsa favorit mereka adalah wanita hamil atau bayi yang baru lahir, karena mereka menginginkan darah dan janin untuk memperkuat ilmu mereka.
Di sebuah rumah kayu yang tidak terlalu besar, tinggal sebuah keluarga kecil. Keluarga itu terdiri dari suami istri dan seorang anak perempuan yang sedang mengandung anak pertama mereka.
Nama gadis yang sedang hamil itu adalah Rina. Usianya baru menginjak dua puluh dua tahun. Kehamilannya sudah memasuki usia tujuh bulan, dan perutnya sudah mulai terlihat besar dan membuncit.
Rina tinggal bersama suaminya yang bernama Jono. Mereka berdua tinggal serumah dengan orang tua Jono di rumah tua itu. Suasana di dalam rumah terasa hangat karena adanya lampu pelita yang menyala redup di ruang tengah.
"Malam ini anginnya kencang sekali ya, Pa," ucap Rina sambil mengelus perutnya yang besar. Ia duduk di atas tikar anyaman yang diletakkan di lantai kayu.
Jono yang sedang duduk di sampingnya mengangguk setuju. Ia sedang mengasah parang yang sudah tumpul dengan batu asahan. Suara gesekan besi dan batu terdengar berulang-ulang di ruangan itu.
"Iya, Rin. Angin gunung memang biasanya kencang kalau sudah masuk malam begini. Kamu hati-hati saja, jangan sampai masuk angin," jawab Jono sambil terus mengasah senjatanya.
Ibu Jono, yang biasa dipanggil Mak Uwah, ikut menyambung pembicaraan. Wanita tua itu sedang duduk di kursi goyang sambil memintal benang dengan alat tradisionalnya.
"Benar kata Jono. Kalau malam begini, lebih baik kamu jangan keluar rumah. Di luar sudah gelap dan anginnya pun terasa tidak enak," pesan Mak Uwah dengan suara yang lembut namun terdengar tegas.
Rina hanya mengangguk patuh. Ia tahu betul nasihat ibu mertuanya itu demi kebaikan dirinya dan janin yang ada di dalam kandungannya.
"Rina tahu, Mak. Rina tidak akan keluar kok. Lagipula rasanya juga malas bergerak, badan terasa berat sekali," jawab Rina sambil tersenyum kecil.
Malam semakin larut, dan akhirnya seluruh keluarga memutuskan untuk tidur. Mereka masuk ke kamar masing-masing dan mematikan semua sumber cahaya di dalam rumah.
Kegelapan segera menyelimuti seluruh penjuru ruangan. Hanya suara desiran angin yang menerpa dinding rumah yang bisa terdengar dari dalam kamar.
Sekitar pukul dua dini hari, Rina tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia merasa haus dan ingin sekali minum air putih. Suaminya, Jono, sudah tidur pulas di sebelahnya dan mendengkur pelan.
Rina berusaha bangun dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan suaminya. Ia berjalan tertatih-tatih menuju dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang tengah.
Saat sampai di dapur, Rina mengambil kendi tanah liat dan menuangkan air ke dalam gelas. Ia meminumnya dengan lahap karena tenggorokannya terasa sangat kering.
Namun, saat ia hendak kembali ke kamar, tiba-tiba ia mencium bau yang sangat menyengat dan tidak sedap.
Bau itu sangat amis, bercampur dengan bau tanah basah dan sesuatu yang mirip seperti bau bangkai yang sudah membusuk lama. Bau itu sangat kuat dan menusuk hidung hingga membuat Rina merasa mual dan ingin muntah.
Rina menjadi waspada. Ia mencoba mencari sumber bau itu berasal dari mana. Matanya yang sudah mulai terbiasa dengan gelap melihat ke arah jendela dapur yang terbuka sedikit.
Di luar, langit terlihat mendung gelap. Tidak ada bulan dan tidak ada bintang yang bersinar malam itu.
Tiba-tiba, Rina melihat sesuatu yang bergerak di atas atap rumah tetangga. Bentuknya besar dan gelap, namun memiliki mata yang bersinar merah menyala seperti dua bola api.
Makhluk itu terlihat melayang di udara, tidak menyentuh atap sama sekali. Lehernya terlihat sangat panjang menjulur ke bawah, seolah sedang mencari sesuatu di bawah sana.
Jantung Rina seakan berhenti berdetak sejenak. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak keras. Ia sadar betul apa yang dilihatnya itu.
Itu adalah Kuyang.
Makhluk itu terlihat berputar-putar di udara dengan posisi kepala terbalik. Organ-organ dalam seperti usus dan jantung terlihat menjuntai panjang mengikuti bentuk lehernya yang memanjang.
Rina gemetar hebat. Kakinya terasa lemas dan sulit untuk digerakkan. Ia ingin lari kembali ke kamar dan membangunkan suaminya, tapi tubuhnya seakan terkunci di tempat.
Kuyang itu seolah mencium bau mangsa. Matanya yang merah tiba-tiba menatap lurus tepat ke arah jendela tempat Rina bersembunyi.
Rina bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya tua dan keriput, dengan mulut yang sangat lebar dan bergigi tajam seperti gigi binatang buas. Lidahnya panjang dan menjulur keluar, terus menerus menjilat udara.
Tanpa sadar, Rina menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Gelas itu terlempar ke lantai dan pecah berkeping-keping. Suara pecahan kaca itu memecah keheningan malam.
Kuyang itu langsung bergerak cepat menukik turun ke arah jendela dapur. Lehernya yang panjang semakin memanjang hingga hampir mencapai lantai dapur tempat Rina berdiri.
"Pergi! Jangan dekati aku!" teriak Rina akhirnya kehilangan kendali. Ia mundur selangkah demi selangkah menjauhi jendela.
Suara teriakan Rina membangunkan seluruh penghuni rumah. Jono dan ayahnya langsung berlari keluar kamar membawa obor dan senjata tajam. Mak Uwah juga menyusul di belakang mereka dengan wajah panik.
"Ada apa, Rin? Kenapa kamu berteriak?" tanya Jono panik saat melihat istrinya yang pucat pasi dan gemetar hebat.
Rina menunjuk ke arah jendela dengan tangan yang gemetar. "Di sana! Ada di sana! Itu Kuyang! Dia mau masuk ke sini!"
Jono dan ayahnya segera melihat ke arah luar. Namun saat itu, makhluk itu sudah tidak terlihat lagi. Mungkin ia terbang menjauh karena mendengar suara keributan.
Namun, bau amis yang sangat menyengat itu masih sangat terasa kuat di udara, membuktikan bahwa apa yang dikatakan Rina itu benar-benar nyata.
"Ya Allah, benar juga baunya. Bau bangkai yang sangat menyengat," ucap ayah Jono sambil mencium udara. Wajahnya terlihat sangat serius dan khawatir.
Mak Uwah langsung memeluk Rina untuk menenangkannya. "Sudah sudah, jangan takut. Kamu masuk ke kamar saja, tutup pintu rapat-rapat. Kami yang akan berjaga di sini."
Malam itu, Jono dan ayahnya memutuskan untuk tidak tidur lagi. Mereka duduk berjaga di ruang tengah dengan api unggun kecil yang dinyalakan di tengah rumah. Mereka tahu bahwa makhluk itu tidak akan menyerang jika ada api dan orang yang masih terjaga.
Keesokan harinya, kabar tentang kedatangan Kuyang di desa itu menyebar dengan sangat cepat. Warga desa menjadi heboh dan merasa tidak aman.
Banyak warga yang menceritakan bahwa mereka juga melihat hal yang sama malam sebelumnya. Beberapa orang bahkan mendengar suara seperti burung hantu tapi dengan nada yang sangat aneh dan memekakkan telinga.
Para tetua desa berkumpul dan mengadakan musyawarah. Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di desa mereka akhir-akhir ini. Banyak hewan ternak yang mati mendadak tanpa sebab yang jelas, dan sekarang makhluk itu mulai berani mendekati pemukiman warga.
"Kita harus waspada. Kalau benar Kuyang itu sudah mulai berani muncul, berarti dia sedang mencari mangsa yang besar," kata salah satu tetua desa yang bernama Pak RT.
"Katanya makhluk itu paling suka darah dan janin bayi. Kita harus melindungi semua wanita hamil yang ada di desa ini," tambah warga lain.
Rina menjadi semakin takut keluar rumah. Ia merasa seolah-olah ada yang terus mengawasinya dari jauh. Setiap kali ia melihat bayangan atau mendengar suara aneh, jantungnya langsung berdegup kencang.
Suaminya, Jono, juga tidak tega meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Ia meminta cuti kerja selama beberapa hari untuk menjaga Rina di rumah.
Hingga pada suatu sore, saat Rina sedang duduk santai di beranda rumah, ia melihat seorang wanita tua yang berjalan melewati depan rumahnya.
Wanita itu tidak dikenal oleh Rina. Pakaiannya lusuh dan kotor, wajahnya sangat keriput dan hitam, namun matanya terlihat sangat tajam dan licik.
Wanita asing itu berhenti berjalan tepat di depan pagar rumah Rina. Ia menatap Rina dengan tatapan yang sangat aneh dan tidak berkedip sama sekali.
"Selamat siang, Nak. Perutnya sudah besar sekali ya. Pasti senang sekali ya sebentar lagi mau punya anak," ucap wanita tua itu dengan suara yang serak dan terdengar tidak wajar.
Rina merasa sangat tidak nyaman dan merinding melihat tatapan wanita itu. Ia tidak menjawab sapaan itu, malah ia langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
Rina merasa yakin bahwa ada sesuatu yang salah dengan wanita asing itu. Tatapan matanya sama persis dengan tatapan mata merah yang dilihatnya malam itu.
Ia segera menceritakan hal itu kepada Jono dan Mak Uwah.
"Wanita tua macam apa yang kamu maksud, Rin? Apakah dia memakai kain hitam dan membawa keranjang?" tanya Mak Uwah dengan wajah berubah pucat.
"Iya Mak! Betul sekali! Dia pakai baju hitam lusuh dan bawa keranjang di tangannya," jawab Rina cepat.
Mak Uwah langsung menghela napas panjang dan memijat dadanya. "Ya ampun. Itu pasti Nini Sarih. Orang bilang dia itu pawang dan dukun terkenal di daerah seberang sana. Sudah lama dia tidak muncul, tapi katanya ilmu hitamnya sangat tinggi."
Jono menjadi marah mendengarnya. "Jadi dia itu Kuyang yang kemarin malam? Berarti dia yang mau mencelakai istriku?"
"Belum tentu dia itu Kuyang, tapi bisa jadi dia yang mengirimnya atau memang dia itu sendiri yang bisa berubah wujud. Kita harus hati-hati sekali sekarang," jawab ayah Jono dengan nada serius.
Malam itu terasa lebih panjang dan mencekam dari biasanya. Jono sudah mempersiapkan banyak dupa dan benda-benda keramat penolak bala yang didapatkan dari tetua desa.
Pintu dan jendela rumah sudah dikunci ganda dan ditutup rapat. Tidak ada celah sedikitpun yang dibiarkan terbuka.
Sekitar pukul sebelas malam, suara angin kembali bertiup dengan sangat kencang. Daun-daun pohon di halaman rumah bergesekan satu sama lain menciptakan suara berisik.
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari arah pintu depan. Ketukan itu tidak keras, tapi sangat jelas dan berirama pelan.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa di luar?" teriak Jono dari dalam rumah sambil memegang parang dengan erat.
Tidak ada jawaban dari luar. Namun ketukan itu terus berlanjut, kali ini berpindah ke jendela kamar.
Tok... Tok... Tok...
Rina memeluk tubuhnya ketakutan. Ia bersembunyi di balik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Jono... tolong aku... Dia datang lagi..." isak Rina pelan.
Jono tidak tinggal diam. Ia mengambil obor yang sudah menyala dan membuka sedikit pintu depan dengan sangat hati-hati.
Di luar sana, tidak terlihat sosok manusia sama sekali. Namun di udara, tepat di atas atap rumah, tergantung sosok kepala besar dengan leher yang sangat panjang.
Mata merahnya menatap tajam ke arah Jono. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan gigi-gigi yang tajam dan kotor. Usus-ususnya terlihat menjuntai panjang dan berdarah.
Kuyang itu mengeluarkan suara desisan seperti ular saat melihat Jono.
"Pergi kau dari sini! Ini rumahku! Jangan ganggu keluargaku!" teriak Jono sekuat tenaga. Ia mengayunkan parangnya ke udara dan melemparkan beberapa butir garam kasar ke arah makhluk itu.
Sepertinya garam dan api itu menyakitkan bagi Kuyang. Ia bergerak mundur dan menjerit dengan suara yang sangat tinggi dan melengking.
Suara jeritan itu membuat telinga terasa perih dan membuat bulu kuduk merinding seluruh tubuh.
Dari dalam rumah, Mak Uwah dan ayah Jono ikut keluar membantu. Mereka membakar kemenyan dan membacakan doa-doa penolak bala dengan suara lantang.
Kuyang itu tampak kesakitan dan kewalahan. Ia akhirnya terbang tinggi menjauh meninggalkan halaman rumah mereka, menghilang ke dalam kegelapan hutan di belakang desa.
Suasana kembali tenang, namun rasa takut masih sangat terasa mengental di udara.
Keesokan paginya, warga desa dikejutkan oleh sebuah berita mengejutkan. Ditemukan seorang wanita tua yang tewas di gubuk reyot di pinggir hutan.
Wanita itu dikenal sebagai Nini Sarih, dukun yang dicurigai warga.
Kondisi mayatnya sangat mengerikan. Tubuhnya terlihat kering kerontang seperti tidak memiliki darah sama sekali. Wajahnya tampak mencekam dan penuh ketakutan seolah melihat sesuatu yang sangat mengerikan sebelum ajal menjemputnya.
Para tetua desa menduga bahwa Nini Sarih itu memang benar adalah Kuyang yang selama ini meneror desa. Diduga saat ia sedang melakukan ritual atau memisahkan kepalanya, terjadi sesuatu yang salah atau mungkin ia diserang oleh makhluk lain sehingga kepalanya tidak bisa kembali menyatu dengan badannya.
Akibatnya, ia mati dengan cara yang sangat menyakitkan.
Sejak kematian Nini Sarih itu, suasana di desa kembali menjadi aman dan tenang. Tidak ada lagi penampakan makhluk mengerikan di malam hari. Bau amis yang menyengat pun sudah tidak pernah tercium lagi.
Rina dan keluarganya bisa bernapas lega. Ancaman maut yang selama ini menghantui mereka akhirnya berlalu sudah. Beberapa bulan kemudian, Rina melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan sehat.
Namun, cerita tentang Kuyang Pemakan Janin itu masih tetap hidup di ingatan warga desa. Mereka selalu mengingatkan anak cucu mereka untuk selalu berhati-hati dan tidak boleh sembarangan keluar rumah di malam hari.
Karena mereka tahu, di dunia ini masih banyak hal misterius yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat. Dan hawa nafsu manusia untuk mencari kekuatan lewat jalan yang salah, terkadang bisa mengubah mereka menjadi monster yang menakutkan bagi sesama.