Elena pernah percaya bahwa cinta adalah tentang bertahan, sekuat apa pun badai yang datang. Tapi ia lupa, tidak semua yang dipertahankan itu layak diperjuangkan.
Awalnya, hubungan Elena dengan Dandi terasa seperti mimpi. Dandi perhatian, sering mengirim pesan manis, dan selalu ingin tahu kabar Elena.
Elena merasa dicintai sepenuhnya. Ia bangga memiliki seseorang yang begitu “peduli”.
Namun perlahan, perhatian itu berubah menjadi kendali.
“Lagi sama siapa?”
“Kenapa lama balas chat?”
“Jangan terlalu dekat sama teman cowok itu, aku gak suka.”
Awalnya Elena menganggap itu bentuk rasa sayang. Ia menuruti semuanya. Mengurangi pergaulan, membatasi diri, bahkan mulai merasa bersalah hanya karena tertawa terlalu lepas dengan teman-temannya.
Hari demi hari, Elena semakin kehilangan dirinya sendiri.
Dandi bukan hanya mengatur, tapi juga sering merendahkan.
“Kamu tuh gak ngerti aku.”
“Kalau bukan aku, siapa lagi yang tahan sama kamu?”
Kalimat itu seperti racun. Perlahan merusak kepercayaan diri Elena. Ia mulai merasa tidak cukup baik, merasa harus terus berubah agar tetap dicintai.
Sampai suatu malam, Elena duduk sendiri di kamar. Matanya sembab. Hatinya lelah.
Ia membuka galeri ponselnya—foto-foto lamanya. Senyum lepas, mata berbinar, dan tawa yang tulus.
“Sejak kapan aku berhenti jadi diriku sendiri?” gumamnya pelan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Elena jujur pada dirinya sendiri.
Ini bukan cinta.
Ini luka yang dibungkus perhatian.
Keesokan harinya, Dandi kembali marah hanya karena Elena tidak langsung membalas pesan.
Dan entah dari mana datangnya keberanian itu, Elena mengetik dengan tangan gemetar:
“Aku capek, Dan. Ini bukan hubungan yang sehat. Aku gak bahagia. Aku mau selesai.”
Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.
Balasan Dandi datang cepat.
“Kamu lebay. Gak ada yang bakal sayang sama kamu selain aku.”
Dulu, kata-kata itu akan membuat Elena takut. Tapi kali ini, tidak.
Elena menarik napas dalam. Air matanya jatuh, tapi hatinya terasa lebih ringan.
“Kalau begitu, biar aku belajar sayang sama diriku sendiri dulu.”
Dan… Elena menekan tombol kirim.
Hari-hari setelahnya tidak mudah. Ada rindu. Ada kebiasaan yang sulit dilepas. Ada rasa ingin kembali, hanya karena kesepian.
Tapi Elena bertahan.
Ia mulai kembali bertemu teman-temannya. Mulai melakukan hal-hal yang ia suka. Mulai belajar bahwa bahagia tidak harus bergantung pada seseorang yang menyakitinya.
Perlahan, ia menemukan dirinya lagi.
Dan suatu pagi, saat bercermin, Elena tersenyum.
Senyum yang dulu sempat hilang.
“Aku berhasil,” bisiknya.
Bukan karena ia menemukan cinta baru…
Tapi karena ia berhasil melepaskan yang salah.
🌿Selesai