Hujan turun pelan malam itu.
Bukan hujan deras yang gaduh—hanya rintik kecil yang jatuh satu per satu, seperti seseorang yang sedang belajar menangis tanpa suara.
Alya duduk di halte yang sepi.
Tangannya menggenggam ponsel.
Layar itu menyala, menampilkan satu nama yang tidak pernah ia hapus.
Raka.
Sudah satu tahun.
Satu tahun sejak Raka pergi.
Bukan pergi karena bertengkar.
Bukan karena jarak.
Tapi… karena takdir yang tidak bisa ditawar.
—
“Alya… kalau suatu hari aku pergi…”
Suara itu kembali terngiang di kepalanya.
Alya menutup matanya.
Air matanya jatuh tanpa izin.
“Jangan nunggu aku, ya.”
—
“Aku benci kamu…” bisiknya pelan.
Namun tangannya tetap tidak bisa berhenti membuka chat lama mereka.
Pesan terakhir dari Raka masih ada.
“Jangan lupa makan. Aku selalu ada, walaupun nanti kamu nggak bisa lihat aku.”
Alya tertawa kecil.
Pahit.
“Pembohong…”
—
Hujan semakin deras.
Orang-orang berlari mencari tempat teduh.
Namun Alya tetap diam.
Seolah hujan itu… adalah satu-satunya yang mengerti hatinya.
—
Dulu, di tempat yang sama—
Raka pernah duduk di sampingnya.
“Kalau hujan gini enak ya…” katanya sambil tersenyum.
“Enak dari mana?” Alya cemberut. “Basah.”
Raka tertawa.
“Karena hujan itu jujur.”
Alya mengernyit. “Maksudnya?”
“Dia nggak pernah pura-pura kuat.”
—
Alya menggigit bibirnya.
Kenangan itu terlalu jelas.
Terlalu hidup.
Seolah Raka… masih di sini.
—
Tiba-tiba—
angin berhembus pelan.
Dingin.
Namun… familiar.
Alya mengangkat wajahnya.
Dan untuk sesaat—
ia merasa…
tidak sendirian.
—
“Ly…”
Suara itu.
Sangat pelan.
Namun cukup untuk membuat jantungnya berhenti.
—
Alya menoleh cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya hujan.
Hanya malam.
—
“Aku mulai gila…” ia tertawa kecil.
Namun air matanya semakin deras.
—
“Aku capek, Ka…”
Suaranya pecah.
“Aku capek pura-pura kuat…”
Hujan terus turun.
Seolah mendengarkan.
—
“Aku masih nunggu kamu…”
Tangannya mengepal.
“Padahal aku tahu… kamu nggak akan balik…”
—
Hening.
—
Lalu—
sesuatu terasa berbeda.
—
Seperti ada yang duduk di sampingnya.
Tidak terlihat.
Namun terasa.
Hangat.
—
Alya menahan napas.
Perlahan—
ia menoleh.
—
Kosong.
—
Namun entah kenapa…
ia tersenyum.
Di tengah tangisnya.
—
“Datang ya… akhirnya…”
bisiknya pelan.
—
Angin berhembus lagi.
Lebih lembut.
Seperti jawaban yang tidak butuh kata.
—
Alya menutup matanya.
Membiarkan dirinya merasakan—
kehadiran yang tidak bisa ia lihat.
—
“Maaf ya…” suaranya bergetar.
“Aku belum bisa lupa…”
—
Hening.
—
Namun di dalam hatinya—
seperti ada suara yang menjawab.
“Nggak usah lupa.”
Air mata Alya jatuh lagi.
Namun kali ini—
tidak sesakit sebelumnya.
—
“Aku masih sayang kamu…”
bisiknya.
—
Angin itu kembali.
Menyentuh wajahnya dengan lembut.
—
Seolah berkata:
“Aku juga.”
—
Hujan perlahan berhenti.
Orang-orang mulai keluar dari tempat teduh.
Dunia kembali berjalan.
—
Alya membuka matanya.
Menatap kursi kosong di sampingnya.
—
Kosong.
Seperti biasa.
—
Namun kali ini—
tidak terasa sepi.
—
Ia berdiri.
Menggenggam ponselnya.
Lalu menatap langit.
—
“Aku akan hidup…”
katanya pelan.
“Untuk kita.”
—
Langkahnya perlahan menjauh.
Meninggalkan halte itu.
—
Namun tidak meninggalkan kenangan.
—
Karena ada cinta—
yang tidak butuh kehadiran untuk tetap hidup.
—
Dan ada orang—
yang tidak pernah benar-benar pergi.
—
Hanya berubah menjadi…
sesuatu yang tidak bisa dilihat.
Tapi selalu bisa dirasakan.
—
🥀 TAMAT