Malam itu, Dena duduk di kursi plastik berwarna biru pucat tepat di samping ranjang ibunya. Cahaya lampu di kamar rawat terasa terlalu menyilaukan, membuat bayangan setiap benda terlihat jelas dan tajam di dinding putih. Mesin monitor jantung berbunyi pelan dan teratur, seolah menjadi satu-satunya suara yang menandakan bahwa waktu masih berjalan di ruangan yang sunyi itu.
Ibunya terbaring sangat lemah. Wajahnya pucat pasi, dan napasnya terdengar sangat pelan. Sudah hampir dua minggu ibunya dirawat di rumah sakit ini, namun tidak ada perubahan yang berarti pada kondisinya. Dokter sendiri terlihat bingung karena tidak menemukan penyakit yang jelas, namun tubuh ibunya terus melemah tanpa sebab yang pasti.
Dena menggenggam tangan ibunya dengan lembut. Kulit itu terasa sangat dingin, jauh lebih dingin dari biasanya.
Sejak kecil, Dena sadar bahwa dirinya berbeda dari anak-anak lain. Ia memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa. Kadang hanya berupa bayangan samar, tapi seringkali berupa sosok yang bentuknya sangat jelas. Ibunya selalu menjadi pelindungnya dan selalu menyuruhnya untuk tidak merasa takut. Namun sekarang, justru ibunya yang terbaring tak berdaya dan tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
Pintu kamar rawat terbuka perlahan.
Reno masuk sambil membawa kantong plastik berisi makanan dan minuman. Wajahnya terlihat sangat lelah setelah seharian beraktivitas, tapi ia tetap berusaha tersenyum agar tidak membuat Dena semakin sedih.
"Aku bawa makanan buat kamu," katanya dengan suara pelan agar tidak mengganggu.
Dena hanya mengangguk pelan. "Taruh saja di meja sana."
Reno lalu duduk di kursi sebelah Dena. Ia melirik sekilas ke arah ibu Dena yang masih tertidur, lalu kembali menatap Dena.
"Gimana kondisinya hari ini?" tanyanya hati-hati.
"Sama saja seperti kemarin. Tidak ada perubahan," jawab Dena datar.
Reno menghela napas panjang. "Terus dokter bilang apa?"
Dena tidak langsung menjawab. Matanya tertuju ke sudut ruangan, tepat di dekat lemari obat kecil. Ada sesuatu yang berdiri di sana. Sosoknya samar dan gelap, namun Dena bisa merasakan bahwa sosok itu sedang menatap lurus ke arah ranjang ibunya.
Dena segera memejamkan matanya sebentar, berusaha mengusir pemandangan itu dari kepalanya.
"Den?" Reno memanggil pelan, menyadari temannya itu sedang melamun.
Dena membuka matanya kembali dan menatap Reno. "Dokter bilang masih harus dipantau terus kondisinya."
Reno mengangguk mengerti. Ia tidak bertanya lebih jauh lagi. Reno sudah cukup lama mengenal Dena, dan ia tahu bahwa jika Dena mulai diam dan menatap kosong seperti itu, biasanya ada sesuatu yang terjadi yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Malam semakin larut, dan suasana di rumah sakit menjadi semakin sepi. Suara langkah kaki perawat atau dokter di lorong sudah sangat jarang terdengar. Cahaya lampu di luar kamar pun terlihat semakin redup dari celah pintu yang tertutup rapat.
Sekitar pukul sebelas malam, Dena akhirnya berdiri dari tempat duduknya.
"Aku mau ke toilet sebentar," katanya memberitahu.
Reno mengangguk. "Ya sudah, aku tunggu di sini saja."
Dena keluar dari kamar dan menutup pintu pelan-pelan. Begitu pintu tertutup sepenuhnya, suasana di lorong terasa langsung berubah. Udara terasa jauh lebih dingin menusuk tulang. Lampu-lampu yang tadi terlihat normal, kini seolah berkedip-kedip pelan tidak beraturan.
Dena berjalan perlahan menyusuri lorong yang panjang itu. Sepatu sendalnya mengeluarkan suara gesekan yang terdengar jelas di lantai keramik yang licin.
Di ujung lorong yang agak gelap, ia melihat seseorang sedang berdiri diam.
Itu terlihat seperti seorang perawat.
Seragamnya berwarna putih bersih, dan rambutnya panjang terurai. Namun wajahnya tertunduk dalam, sehingga tidak bisa dilihat dengan jelas.
"Permisi," kata Dena pelan saat berjalan melewati sosok itu.
Perawat itu sama sekali tidak menjawab atau menoleh. Ia tetap berdiri kaku di tempatnya.
Dena terus berjalan maju, namun setelah melangkah beberapa langkah, ia tiba-tiba berhenti. Ada perasaan tidak enak yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ada sesuatu yang sangat aneh dengan sosok perawat tadi.
Dena perlahan menoleh ke belakang.
Perawat itu masih berdiri di tempat yang sama persis. Tapi kali ini kepalanya sudah terangkat tinggi. Wajahnya kini terlihat jelas oleh Dena.
Wajah itu kosong melompong.
Tidak ada mata. Tidak ada hidung. Dan tidak ada mulut. Hanya ada permukaan kulit pucat yang rata dan halus seperti kertas.
Jantung Dena seakan berhenti berdetak sejenak. Ia langsung mempercepat langkah kakinya. Ia tidak berani berlari karena takut menarik perhatian, tapi langkahnya menjadi sangat cepat dan tidak teratur karena rasa takut yang luar biasa.
Dena segera masuk ke dalam toilet wanita dan mengunci pintu dengan kencang.
Napasnya terengah-engah dan terasa sangat berat. Ia berjalan mendekati cermin dan menatap pantulan wajahnya sendiri yang terlihat sangat pucat.
"Aku harus tenang. Jangan panik," bisiknya pada diri sendiri berulang kali.
Ia segera mencuci muka dengan air dingin untuk menenangkan diri, lalu segera keluar dari ruangan itu kembali ke lorong.
Saat ia melihat ke arah tempat tadi, sosok perawat aneh itu sudah tidak ada lagi.
Namun perasaan tidak nyaman itu masih sangat kuat melekat di sekujur tubuhnya.
Dena segera berjalan kembali menuju kamar rawat ibunya. Begitu ia membuka pintu dan masuk, ia melihat Reno sedang berdiri menatap keluar jendela.
"Kamu lama sekali tadi," kata Reno tanpa menoleh.
Dena tidak langsung menjawab. Matanya langsung tertuju ke arah ranjang ibunya.
Ibunya masih terbaring diam seperti biasa, tapi sekarang ada sesuatu yang duduk di tepi ranjang. Sosok itu berwarna hitam pekat dan sedang membungkukkan badannya sangat dekat ke wajah ibunya.
Dena terpaku diam di tempat, tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Den?" Reno menyadari kehadiran Dena dan langsung berjalan mendekat.
Dena dengan cepat menarik tangan Reno agar mundur menjauh dari ranjang. "Jangan mendekat ke sana."
"Kenapa emangnya? Ada apa?" tanya Reno bingung.
"Itu... ada sesuatu di situ," jawab Dena terbata-bata.
Reno menatap tajam ke arah ranjang yang ditunjuk Dena. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya ada ibunya yang terbaring sendirian.
"Dena, nggak ada apa-apa lho di situ. Kamu halusinasi ya karena kecapekan?"
Sosok hitam itu perlahan menolehkan kepalanya ke arah mereka. Wajahnya gelap dan tidak jelas bentuknya, tapi Dena sangat yakin bahwa sosok itu sedang menatap mereka berdua.
Dena mundur selangkah lagi dengan kaki yang terasa gemetar.
Dalam sekejap mata, sosok itu menghilang begitu saja seolah ditelan oleh kegelapan.
Dena langsung berlari kecil mendekati ranjang dan memegang tangan ibunya kembali. Masih terasa sangat dingin dan kaku.
"Kamu kenapa sih? Seram banget mukanya," tanya Reno yang mulai ikut merasa tidak nyaman.
Dena menggeleng pelan. "Aku nggak suka tempat ini. Rasanya nggak enak banget di sini."
Reno terdiam mendengarnya. Ia menatap wajah Dena yang penuh ketakutan, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke wajah ibu Dena.
"Kita harus kuat ya, Den. Kita harus doakan Ibu terus," katanya berusaha memberikan semangat meski suaranya terdengar ragu.
Hari berganti, namun kondisi ibu Dena sama sekali tidak berubah. Dokter hanya bisa menyuruh mereka untuk bersabar dan menunggu.
Dena semakin sering melihat hal-hal yang tidak masuk akal selama berada di rumah sakit itu.
Kadang ia melihat pasien yang berjalan di lorong dengan kondisi tubuh yang tidak utuh. Kadang ia mendengar suara tangisan anak kecil atau orang dewasa yang keluar dari ruangan yang jelas-jelas kosong. Dan seringkali ia melihat bayangan hitam yang berdiri diam mematung di balik pintu yang terbuka sedikit.
Perlahan tapi pasti, Reno mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan tempat itu.
Suatu malam, saat mereka berdua sedang duduk diam di kamar, lampu utama kamar tiba-tiba mati total tanpa peringatan apapun.
Ruangan menjadi gelap gulita.
Hanya suara bip bip dari mesin monitor jantung yang masih terdengar jelas di tengah keheningan.
"Den? Kamu di situ kan?" suara Reno terdengar gugup.
"Aku di sini, tenang saja," jawab Dena.
Tiba-tiba, terdengar suara lain di tengah kegelapan itu.
Suara napas yang sangat berat dan terdengar sangat dekat.
Itu bukan suara Dena, dan juga bukan suara Reno.
Reno langsung menahan napasnya. "Kamu dengar itu nggak?"
Dena mengangguk pelan, meski ia tahu Reno tidak bisa melihat gerakannya di dalam gelap.
Beberapa detik kemudian, lampu kamar menyala kembali secara tiba-tiba.
Di sudut ruangan yang tadinya kosong, kini berdiri seorang pria.
Tubuhnya sangat kurus kering. Ia mengenakan baju pasien yang berwarna abu-abu. Wajahnya pucat dan memiliki tatapan yang sangat kosong.
Reno terpaku diam dan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Itu siapa, Den?" bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Dena tidak menjawab pertanyaan Reno. Matanya tak lepas dari sosok pria itu.
Pria itu menatap mereka bergantian. Lalu dengan gerakan yang sangat lambat dan kaku, ia mulai berjalan mendekati ranjang ibu Dena.
Reno spontan mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding.
"Itu nyata kan? Aku nggak halusinasi kan?" suaranya bergetar hebat menahan ketakutan.
Dena menatap tajam ke arah sosok pria itu. "Dia bukan manusia."
Pria itu berhenti tepat di samping kepala ranjang. Ia menunduk menatap wajah ibu Dena. Lalu perlahan tersenyum.
Senyum itu sangat lebar dan tidak wajar, terlihat mengerikan di wajah pucatnya.
Dena langsung berdiri tegak dan menghalangi pandangan sosok itu ke arah ibunya.
"Pergi dari sini!" katanya dengan suara pelan namun penuh dengan penekanan dan kemarahan.
Pria itu perlahan menolehkan kepalanya ke arah Dena.
Mereka saling bertatapan selama beberapa detik yang terasa sangat lama dan mencekam.
Tanpa suara apapun, sosok pria itu perlahan menghilang menjadi asap tipis dan lenyap begitu saja.
Reno langsung terduduk lemas di kursi. Napasnya terengah-engah.
"Aku lihat... aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," katanya terbata-bata.
Dena tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya kembali duduk dan menatap wajah ibunya yang masih tak sadarkan diri.
Malam itu, Reno menjadi sangat pendiam. Ia tidak lagi meragukan perkataan Dena. Ia benar-benar percaya sekarang.
Hari-hari berikutnya terasa semakin berat dan menegangkan bagi mereka berdua.
Dena mulai memiliki firasat yang sangat kuat bahwa sosok-sosok itu sedang mengincar nyawa ibunya.
Setiap malam, selalu saja ada sosok baru yang datang mengunjungi kamar itu. Kadang hanya satu orang, tapi seringkali datang bersama-sama.
Mereka semua hanya diam dan menatap lurus ke arah ranjang.
Seolah-olah mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu.
Dena berusaha mencari tahu kebenaran tentang rumah sakit ini. Ia bertanya pada beberapa perawat dan petugas lama, namun semua orang seolah tutup mulut dan tidak ada satu pun yang mau berbicara jujur.
Hingga pada suatu sore, Dena berkesempatan bertemu dengan seorang petugas kebersihan yang sudah sangat tua di lorong belakang yang sepi.
Pria tua itu menatap Dena cukup lama dengan mata yang tajam.
"Kamu bisa melihat mereka, kan?" katanya tiba-tiba dengan suara seraknya.
Dena terdiam kaget. "Maksud Om apa?"
Pria tua itu tersenyum tipis, memperlihatkan gigi-giginya yang sudah tidak lengkap. "Tempat ini bukan rumah sakit biasa seperti yang kamu lihat sekarang."
Dena semakin penasaran dan mendekatkan tubuhnya. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini dulu, Om?"
Pria tua itu melihat ke kanan dan ke kiri dengan waspada, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.
"Dulu sekali, di sini ada ruangan khusus. Tempat untuk merawat pasien-pasien yang tidak diinginkan keluarga atau rumah sakit," jelasnya pelan.
Dena mengerutkan keningnya bingung. "Tidak diinginkan? Maksudnya gimana?"
"Mereka yang penyakitnya sudah tidak bisa disembuhkan. Mereka yang dianggap hanya menjadi beban dan membuang-buang tempat saja," jawab pria itu pelan.
Dena menelan ludahnya dengan susah payah mendengar cerita itu.
"Terus apa yang terjadi dengan mereka semua?" tanyanya lagi.
Pria tua itu menunduk menatap lantai keramik yang kotor. "Mereka tidak pernah keluar lagi dari ruangan itu sampai akhir hayat mereka."
Dena merasakan dadanya terasa sesak dan sakit mendengarnya.
"Ruangan itu masih ada sampai sekarang kan, Om?"
Pria tua itu mengangguk pelan sekali. "Masih ada. Ada di lantai paling bawah. Tapi sekarang sudah ditutup rapat dan dilarang dimasuki siapa pun."
Malam itu, Dena sama sekali tidak bisa tenang. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk melihat langsung ruangan itu dan memastikan apa yang ada di sana.
Awalnya Reno menolak keras dan melarang Dena untuk mencari masalah. Namun akhirnya ia mau ikut juga karena tidak tega membiarkan Dena pergi sendirian di tengah malam seperti itu.
Sekitar pukul satu dini hari, mereka menyelinap keluar dari kamar rawat. Lorong-lorong terlihat sangat menyeramkan dan sunyi senyap.
Mereka berjalan pelan-pelan menuju tangga darurat yang jarang dipakai orang.
Cahaya lampu di tangga darurat itu sangat redup dan berkedip-kedip. Suasana di sana terasa sangat berat dan menekan dada.
Mereka terus turun ke lantai paling bawah yang memang tidak dipergunakan lagi. Suasana di sana jauh lebih gelap dan suhunya jauh lebih dingin dibandingkan lantai atas.
Di ujung lorong yang gelap, terdapat sebuah pintu besi besar yang terlihat sudah sangat tua dan berkarat.
Dena mendekat perlahan dan menyentuh permukaan pintu itu dengan ujung jarinya. Terasa sangat dingin dan lembap.
Tiba-tiba, ia mendengar suara bisikan-bisikan halus yang berasal dari balik pintu itu.
"Buka... tolong bukaa..."
Dena segera menarik tangannya kembali dengan kaget.
Reno langsung memegang bahu Dena dengan erat. "Den, ayo kita balik aja ya ke kamar. Nggak enak banget rasanya di sini."
Dena menggelengkan kepalanya. "Ada sesuatu yang terperangkap di dalam sana, No. Aku bisa rasakan."
Dena lalu mendorong pintu besi itu dengan kedua tangannya.
Awalnya pintu itu tidak mau bergerak sama sekali dan terkunci rapat. Namun tiba-tiba terdengar suara berdecit keras dan pintu itu perlahan terbuka sendiri seolah ada yang membantunya dari dalam.
Di dalam ruangan itu gelap gulita. Mereka memberanikan diri melangkah masuk. Bau apek dan bau tanah basah langsung tercium menusuk hidung. Seperti ruangan yang sudah ratusan tahun tidak pernah dibuka dan terkena sinar matahari.
Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip pelan, menerangi ruangan itu sesekali.
Di dalam sana, terdapat banyak ranjang rumah sakit tua yang sudah rusak dan berkarat. Lantainya penuh dengan noda-noda cokelat tua yang terlihat seperti bekas darah yang sudah mengering.
Dan di dalam sana, terdapat banyak sosok. Mereka berdiri rapat di sepanjang dinding. Ada yang duduk di atas ranjang tua. Semuanya menatap lurus ke arah Dena dan Reno yang baru saja masuk.
Reno langsung mundur selangkah dan memegang lengan Dena dengan sangat erat. "Den... ayo kita keluar dari sini sekarang juga."
Dena berdiri kaku di tempatnya. Ia tidak bisa bergerak karena kaget melihat jumlah sosok yang begitu banyak di ruangan itu.
Salah satu sosok berjalan mendekat. Itu adalah seorang wanita. Wajahnya rusak dan tidak berbentuk, seolah terbakar atau hancur.
"Kalian akhirnya datang juga..." suara wanita itu terdengar sangat pelan dan serak, seakan datang dari dasar tanah.
Dena menatap mata wanita itu yang kosong. "Apa yang kalian inginkan sebenarnya dari kami?"
Wanita itu tersenyum, tapi senyumnya terlihat sangat menyakitkan dan mengerikan. "Kami hanya ingin keluar dari tempat gelap ini. Kami ingin bebas."
Tiba-tiba, semua sosok yang ada di ruangan itu bergerak serentak.
Mereka berjalan mendekat dengan langkah yang lambat namun pasti. Wajah mereka semua terlihat menyedihkan sekaligus menakutkan.
Reno menarik tangan Dena sekuat tenaga. "Ayo lari Den! Kita harus pergi sekarang!"
Mereka berdua langsung berbalik badan dan berlari secepat kilat menuju pintu keluar. Begitu mereka berhasil melompat keluar, pintu besi besar itu tertutup sendiri dengan suara gedoran yang sangat keras dan memekakkan telinga.
Napas mereka terengah-engah dan keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Mereka tidak berhenti berjalan sampai kembali sampai di kamar rawat ibunya.
Namun begitu mereka membuka pintu kamar dan masuk, Dena langsung berhenti bergerak di tengah ruangan.
Ibunya...
Ibunya kini sudah membuka matanya lebar-lebar.
Dena segera berlari mendekat ke tepi ranjang. "Bu... Ibu sadar, Bu?"
Ibunya menatap ke arah Dena, tapi tatapan matanya terlihat sangat kosong dan hampa. Tidak ada cahaya kehidupan di sana.
Lalu dengan suara yang sangat pelan dan bergetar, ibunya berbicara. "Mereka datang... mereka semua datang menjemput..."
Dena menggenggam tangan ibunya yang semakin dingin. "Siapa yang datang, Bu? Siapa yang datang ke sini?"
Ibunya tidak menjawab lagi. Perlahan tapi pasti, matanya kembali terpejam rapat dan napasnya kembali menjadi sangat pelan.
Keesokan harinya, kondisi kesehatan ibu Dena menurun dengan sangat drastis dan cepat.
Para dokter terlihat sangat bingung. Semua alat medis menunjukkan hasil yang normal dan sehat, namun secara fisik tubuh ibunya terus melemah seolah ada yang menyedot nyawanya sedikit demi sedikit.
Dena tahu persis apa yang sedang terjadi. Waktu yang dimiliki ibunya sudah sangat sedikit.
Malam itu adalah malam terakhir. Dena duduk sendirian di kursi samping ranjang, menatap wajah ibunya. Reno sudah tertidur pulas di kursi sebelahnya karena kelelahan menjaga semalaman.
Ruangan itu terasa sangat sunyi dan hening.
Tiba-tiba, suhu udara di dalam kamar turun drastis menjadi sangat dingin.
Dena perlahan menoleh ke sekeliling ruangan.
Semua sosok yang pernah ia lihat, termasuk sosok wanita dari ruangan bawah tanah, kini semuanya ada di sana.
Mereka berdiri melingkar mengelilingi ranjang ibunya, memadati setiap sudut ruangan.
Dena berdiri dan mencoba menghalangi jalan mereka.
"Jangan sentuh ibuku! Pergi kalian semua!" katanya dengan suara tegas meski hatinya gemetar.
Sosok wanita yang menjadi pemimpin mereka maju selangkah ke depan.
"Dia sudah menjadi milik kami sekarang. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan nyawanya," kata wanita itu dengan suara dingin.
Dena menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak! Ibu masih harus hidup! Jangan ambil dia!"
Wanita itu tersenyum sinis. "Sudah terlambat untuk menolak. Dia sudah dipilih sejak lama."
Dena langsung memeluk tubuh ibunya yang lemah dengan erat, seolah berusaha menahan ibunya agar tidak pergi ke dunia lain.
"Bu... jangan tinggalkan Dena sendirian. Dena butuh Ibu," isaknya pelan.
Tiba-tiba, suara mesin monitor jantung yang ada di samping ranjang mulai berbunyi tidak beraturan. Suaranya memecah keheningan malam.
Reno terbangun kaget karena mendengar suara itu. "Ada apa ini Den? Kenapa suaranya aneh?"
Dena menangis tersedu-sedu. "Mereka mau mengambil Ibu, No! Mereka mau bawa Ibu pergi!"
Reno tidak bisa melihat apa-apa, tapi ia bisa merasakan bahwa situasi saat ini sangat buruk dan mengerikan.
Ia segera berlari keluar kamar untuk memanggil perawat dan dokter secepat mungkin.
Suasana di dalam kamar menjadi sangat panik dalam sekejap.
Para dokter dan perawat berdatangan dan segera melakukan tindakan pertolongan pada ibu Dena.
Namun Dena masih bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.
Satu per satu sosok makhluk halus itu mulai menyentuh tubuh ibunya. Mereka seakan sedang menarik sesuatu yang halus dan tak kasat mata keluar dari tubuh ibunya.
Dena mencoba menghalangi dan mendorong mereka, tapi tangannya hanya menembus hampa. Mereka tidak bisa disentuh.
"Berhenti! Jangan ambil ibuku!" teriak Dena sekuat tenaga.
Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang mendengar teriakannya atau melihat apa yang dilihatnya. Mereka semua sibuk dengan alat medis.
Tiba-tiba, suara mesin monitor mengeluarkan bunyi panjang yang datar dan panjang.
Suara itu menandakan bahwa jantung sudah berhenti berdetak.
Para dokter masih mencoba melakukan segala cara untuk menolong, namun semuanya terlihat sia-sia.
Sudah terlambat.
Ibunya telah tiada.
Dena berdiri diam mematung di sudut ruangan.
Air matanya jatuh membasahi pipi, tapi ia tidak mengeluarkan suara tangisan sama sekali. Hatinya terasa hancur berkeping-keping.
Sosok-sosok makhluk itu perlahan menghilang satu per satu dari ruangan, seolah tugas mereka sudah selesai dan puas.
Ruangan itu kembali menjadi normal kembali. Terlalu normal dan sunyi.
Reno segera berjalan mendekat dan memeluk bahu Dena untuk memberikan kekuatan.
Dena tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya terasa kaku dan lemas.
Matanya hanya terus menatap wajah ibunya yang kini sudah terlihat tenang dan damai.
Namun di dalam hati kecilnya, Dena tahu satu kebenaran yang menyakitkan. Ibunya tidak hanya meninggal dunia karena sakit atau karena sudah waktunya. Ibunya diambil paksa oleh mereka. Dan rumah sakit angker ini masih terus mencari korban baru untuk dipenuhi rasa laparnya yang tidak akan pernah habis.