Cahaya lampu flash kamera tidak pernah terasa hangat di kulitku. Bagiku, mereka hanyalah kilatan gangguan yang mencoba menembus privasi yang kujaga rapat. Aku, Shelovelina, perempuan yang lebih suka mengenakan hoodie kebesaran dan sepatu sneakers daripada gaun berbuntut panjang yang menjuntai di karpet merah. Media menyebutku "Si Introvert Berbakat", sebuah label yang mereka sematkan karena aku jarang bicara di depan mikrofon, tapi selalu meledak dalam setiap karya akting dan musik yang kurilis.
Aku tidak butuh validasi dari gosip. Aku hanya butuh ruang untuk bernapas. Namun, di industri ini, diam sering kali dianggap sebagai sebuah teka-teki yang harus dipecahkan secara paksa.
Tiga tahun lalu, aku melakukan sesuatu yang membuat jagat hiburan gempar. Aku menikah. Mendadak, tanpa desas-desus, tanpa foto paparazzi yang menangkapku sedang berkencan. Suamiku, Rendy, bukan aktor papan atas, bukan penyanyi yang digilai remaja. Dia hanya seorang pengusaha biasa yang kukenal melalui lingkaran pertemanan lama.
Dan di sanalah badai itu dimulai.
---
"Shelovelina menikah? Dengan laki-laki 'biasa'?"
Komentar-komentar itu membanjiri lini masa. Karena penampilanku yang tomboy, suara rendahku yang jarang mendayu, dan caraku yang tidak pernah mengekspos kemesraan, netizen mulai merajut narasi mereka sendiri.
"Ini pasti Lavender Marriage," tulis sebuah akun dengan ribuan pengikut.
"Lihat saja, Shelo terlihat nggak nyaman dipeluk. Rendy cuma tameng buat nutupi orientasi seksual Shelo yang sebenarnya. Klasik artis LGBT yang mau aman di Indonesia."
Aku membaca itu semua sambil menelan pil pahit di tenggorokanku. Lavender Marriage. Sebuah istilah untuk pernikahan kontrak demi menutupi rahasia besar. Mereka menuduhku menggunakan Rendy hanya untuk menjaga citra, agar karirku yang sedang di puncak tidak hancur oleh stigma.
Padahal, aku hanya perempuan biasa yang jatuh cinta pada kesederhanaan yang ditawarkan Rendy. Aku bukan penyuka sesama jenis. Aku hanya tidak suka dandan, aku hanya tidak suka pamer. Apakah menjadi tomboy otomatis membuatku dicap sebagai seseorang yang tidak bisa mencintai laki-laki secara tulus?
---
Dua tahun pernikahan itu bukan berisi rahasia orientasi seksual, melainkan perjuangan seorang istri yang terus-menerus diabaikan.
Rendy, laki-laki yang kupikir adalah pelabuhan tenang, ternyata adalah ombak yang menghancurkan karang. Di tahun kedua, saat netizen masih sibuk menebak-nebak apakah aku benar-benar mencintainya, aku justru menemukan bukti yang membuat duniaku runtuh.
Bukan aku yang punya simpanan. Bukan aku yang membohongi publik tentang jati diriku. Rendy-lah yang berselingkuh. Dia menjalin hubungan dengan seorang model majalah pria yang secara fisik adalah kebalikanku: sangat feminin, sangat vokal, dan sangat suka pamer.
"Kenapa, Rendy?" tanyaku malam itu, suaraku tetap datar meski hatiku hancur berkeping-keping.
"Karena kamu dingin, Shelo," jawabnya tanpa rasa bersalah. "Menikah sama kamu itu kayak nikah sama patung pualam. Cantik, mahal, banyak karya, tapi nggak ada rasa. Aku butuh perempuan yang bisa bikin aku merasa jadi laki-laki, bukan cuma jadi 'asisten' artis pendiam."
Kalimat itu menohok tepat di ulu hati. Aku diam bukan karena tidak ada rasa. Aku diam karena aku percaya bahwa cinta yang paling dalam tidak butuh pengeras suara. Tapi baginya, diamku adalah ketiadaan.
---
Kami bercerai setelah dua tahun. Cepat, singkat, dan berdarah-darah di media. Saat kabar perceraian itu pecah, bukannya simpati yang kudapatkan, netizen justru merasa "menang".
"Tuh, kan! Apa gue bilang. Lavender Marriage emang nggak bakal tahan lama. Kontraknya udah habis kali," komentar seorang netizen yang mendapat ribuan likes.
"Kesian Rendy, pasti capek jadi tameng doang. Shelovelina egois, demi karir rela nipu laki-laki buat nikah kontrak."
Netizen mencapku dengan sangat sadis. Mereka tidak tahu tentang perselingkuhan itu—karena aku memilih untuk tetap diam dan tidak mengumbar aib laki-laki yang pernah menjabat tangan ayahku. Aku menelan fitnah bahwa aku adalah seorang lesbian yang gagal menjalani sandiwara pernikahan.
Aku melihat namaku menjadi trending topic dengan narasi yang mengerikan. Aku dicaci karena orientasi seksual yang bahkan tidak kumiliki. Aku dihujat karena dianggap menipu institusi pernikahan.
---
Di kamar apartemenku yang sepi, aku bersujud. Inilah saatnya aku bicara, tapi bukan kepada kamera, melainkan kepada Sang Pemilik Jiwa.
"Ya Allah, mereka menghakimi apa yang tidak mereka ketahui. Mereka menuduhku menyimpang, padahal aku hanya mencintai dengan cara yang berbeda. Mereka bilang aku pura-pura, padahal aku hancur karena pengkhianatan yang sesungguhnya."
Air mataku jatuh di atas sajadah. Inilah sisi Shelovelina yang tidak akan pernah ditangkap oleh lensa kamera. Seorang perempuan yang rapuh, yang hanya ingin dicintai apa adanya tanpa harus berubah menjadi orang lain.
Dunia mungkin mengenaliku sebagai artis yang produktif dengan belasan penghargaan, tapi bagiku, penghargaan tertinggi adalah saat aku bisa memaafkan diriku sendiri karena telah memilih orang yang salah.
---
Aku kembali ke industri hiburan dengan satu film baru yang menguras emosi. Peranku sebagai seorang ibu yang kehilangan segalanya dipuji habis-habisan.
Saat konferensi pers, seorang wartawan bertanya dengan nada menyindir, "Shelo, banyak yang bilang perceraian kemarin adalah bukti kalau pernikahan itu hanya kedok. Apa tanggapanmu tentang tuduhan Lavender Marriage?"
Aku menatap lensa kamera tepat di tengah. Aku tidak tersenyum. Aku tidak marah.
"Pernikahan saya bukan kontrak. Pernikahan saya adalah sebuah kejujuran yang dikhianati. Jika menurut kalian menjadi pendiam dan tidak menyukai gaun adalah sebuah dosa atau kelainan, maka biarlah itu jadi urusan saya dengan Tuhan. Saya tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi narasi kalian."
Aku meletakkan mikrofon dan berjalan pergi.
Biarlah netizen dengan jempol sadisnya terus mengetik kebencian. Biarlah mereka tetap dalam asumsi liar mereka. Karena di penghujung hari, karyaku akan tetap bicara lebih keras daripada fitnah mana pun.
Aku Shelovelina. Aku mencintai dalam diam, aku terluka dalam diam, dan aku bangkit pun dalam diam. Karena kadang, kesunyian adalah tempat paling aman dari dunia yang sudah terlalu bising dengan kebohongan.