Di atas meja makan kayu yang pelitunya mulai memudar, hanya ada dua piring nasi goreng dengan telur mata sapi yang pinggirannya sedikit gosong. Tidak ada lilin aromaterapi, tidak ada buket mawar, bahkan tidak ada percakapan manis tentang betapa cantiknya rembulan malam ini.
Mas Bayu, laki-laki yang tujuh belas tahun lalu menjabat tangan ayahku dengan sekali tarikan napas, kini duduk di depanku dengan kaos oblong putih yang sudah menipis di bagian leher. Ia sibuk mengunyah sambil sesekali menggarap grup WhatsApp kerjaannya.
"Mas, besok anak-anak mau minta beli sepatu baru semua," kataku memecah hening.
"Ya, ambil di laci meja kerja saya. Ada amplop warna cokelat," jawabnya datar, tanpa menatapku.
Itulah kami. Tujuh belas tahun pernikahan, tiga anak yang sudah mulai beranjak remaja, dan kadar romansa kami mungkin berada di bawah titik beku. Jika orang bilang pernikahan adalah puisi, maka pernikahan kami adalah buku manual mesin cuci: teknis, kaku, tapi fungsional.
Mas Bayu adalah teman kakak laki-lakiku. Perbedaan usia kami dua belas tahun. Saat aku masih sibuk memikirkan warna lipstik untuk ospek, dia sudah sibuk memikirkan cicilan KPR. Kami menikah bukan karena ledakan kembang api di dada, tapi karena rasa nyaman yang aneh. Seperti sepasang sepatu tua yang tidak lagi mengkilap tapi paling pas di kaki.
Kami tidak punya panggilan sayang. Dia memanggilku "Ibu", dan aku memanggilnya "Mas". Tidak ada "I-Love-You" sebelum tidur. Yang ada hanya, "Mas, lampu teras mati," atau "Ibu, jangan lupa bayar listrik."
Banyak orang bertanya, “Kok tahan? Nggak bosen?”
Aku hanya tersenyum. Mereka tidak tahu bahwa di balik kekakuan ini, ada sebuah mekanisme yang membuat kami tetap berdiri tegak sementara rumah tangga orang lain yang penuh bunga sering kali layu dihantam badai.
***
Suatu malam, hujan turun begitu deras. Langit seolah sedang menumpahkan seluruh dendamnya pada atap rumah kami. Anak-anak sudah tidur. Aku sedang duduk di ruang tengah, mencoba membaca novel yang baru kubeli. Mas Bayu baru pulang kerja, basah kuyup, membawa tas kantornya yang lecet di sana-sini.
"Ada handuk di kursi," kataku tanpa menoleh.
"Ya," jawabnya singkat.
Ia mandi, lalu keluar hanya dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Ia duduk di sebelahku, tapi tidak merangkul bahuku atau mencium keningku. Ia justru mengambil gunting kuku dan mulai memotong kukunya satu per satu. Suara klik-klik itu bersahutan dengan bunyi hujan.
"Kamu ingat si Riko, teman kakakmu?" tanya Mas Bayu tiba-tiba.
"Ingat. Kenapa?"
"Dia cerai. Istrinya selingkuh katanya karena Riko kurang perhatian. Katanya Riko terlalu sibuk kerja sampai lupa kasih bunga setiap bulan."
Aku menutup buku. "Kasihan."
Mas Bayu berhenti memotong kuku. Ia menatap lurus ke depan, ke arah foto pernikahan kami yang sudah mulai menguning di sudut ruangan. "Dulu saya pernah berpikir mau beli bunga buat kamu setiap minggu. Biar kayak di film-film."
Aku tertawa. "Ngapain? Mubazir. Mending uangnya buat beli gas atau beras."
Mas Bayu tersenyum tipis—jenis senyum yang hanya muncul tiga bulan sekali. "Itu sebabnya saya betah sama kamu. Kamu nggak butuh janji, kamu butuh bukti kalau besok pagi dapur tetap ngebul."
Kami adalah dua orang yang sepakat untuk tidak saling menuntut sandiwara. Pernikahan kami bukan panggung teater, melainkan tempat bernaung. Kami kelihatannya seperti dua teman kos yang terjebak dalam satu kartu keluarga, tapi sebenarnya ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar gairah.
***
Kejutan itu datang pada ulang tahun pernikahan kami yang ke-17.
Tidak ada makan malam mewah. Aku tetap memakai daster batik favoritku, dan Mas Bayu tetap dengan kaos oblongnya. Namun, malam itu Mas Bayu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari lemari besi tempat ia menyimpan surat-surat berharga.
"Ini apa?" tanyaku heran.
"Buka saja," katanya singkat sambil menyulut rokok di teras.
Aku membukanya. Di dalamnya bukan kalung berlian atau tiket liburan ke Paris. Di dalamnya ada tumpukan buku tabungan atas namaku, polis asuransi pendidikan untuk ketiga anak kami yang sudah lunas, dan sebuah sertifikat tanah kecil di pinggir kota atas namaku juga.
Tapi yang paling mengejutkan adalah sebuah buku tulis kecil yang sampulnya sudah dekil. Aku membukanya. Itu adalah buku catatan keuangan Mas Bayu sejak tahun pertama kami menikah.
Di setiap halaman, di pojok bawah, selalu ada tulisan tangan kecil:
Tahun ke-3: Ibu pengen daster baru, tapi dia bilang nggak usah karena uangnya mau buat beli susu kakak. Saya simpan uang daster ini ke tabungan pendidikannya.
Tahun ke-7: Ibu pengen liburan, tapi dia bilang rumah perlu dicat. Saya simpan uang liburannya buat beli tanah atas nama dia nanti.
Tahun ke-12: Ibu nggak pernah minta emas, dia cuma minta saya jangan sakit. Saya beli asuransi kesehatan paling bagus buat kita semua.
Aku mendongak, mataku memanas. Mas Bayu masih berdiri di teras, membelakangiku, menatap hujan. Sosoknya yang tidak romantis itu ternyata telah menghabiskan 17 tahun hidupnya untuk mencintai dalam diam, menjaga tanpa bersuara, dan memastikan bahwa jika suatu hari nanti ia tidak ada, aku dan anak-anak tidak akan pernah kehujanan atau kelaparan.
Aku menghampirinya, berdiri di sampingnya. Aku tidak memeluknya, karena itu bukan "gaya" kami. Aku hanya menyandarkan kepalaku sejenak di lengannya yang kokoh.
"Mas, makasih," bisikku.
Mas Bayu hanya berdehem kecil. "Besok jangan lupa sarapan. Ada rapat di sekolah si bungsu."
"Ya," jawabku singkat.
Kami kembali masuk ke dalam rumah. Tidak ada ciuman mesra, tidak ada pelukan hangat yang lama. Hanya dua manusia yang saling tahu bahwa dalam hidup ini, romansa hanyalah bumbu, tapi komitmen adalah menu utamanya.
Dan bagiku, dicintai oleh laki-laki yang "tidak romantis" ini adalah kepuasan paling mewah yang pernah kuterima. Karena di dunia yang sibuk memoles kulit, Mas Bayu telah memberikan isinya secara utuh. Kami bukan sepasang kekasih dalam novel, kami adalah sepasang fondasi yang saling mengunci. Dingin di luar, tapi sangat kokoh di dalam.