Dulu aku bermimpi ingin menjadi seperti mereka. Memiliki banyak teman dan juga kebebasan. Tidak terkekang oleh jeruji kehidupan yang selalu membuat cemas dan sungkan untuk berekspresi. Mungkin karena itulah aku dijuluki sebagai Introvert.
Namaku Fenus sejak duduk dibangku sekolah dasar aku sudah memiliki sifat pendiam dan takut untuk bergaul. Waktu itu aku masih kelas 1 SD. Tentunya, aku masih asing dengan lingkungan yang seperti itu. Wajah-wajah ceria yang baru aku temui seperti bunga yang bermekaran di pagi hari. Rasa takut dan senang bercampur membuat rasa baru yang belum
pernah aku rasakan.
Waktu itu aku hanya diam membatu di dalam ruang kelas yang ramai tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Tak berselang lama datanglah seorang perempuan yang menghampiriku. Tubuhnya tinggi besar, dengan wajah lonjong dan rambut yang terurai lebat menyapaku.
''Halo namamu siapa?'' dia bertanya dengan suara pelan.
waktu itu aku sangat gugup untuk menjawab, aku terdiam sejenak dan menjawab.
''Namaku Fenus'' jawabku pelan.
Bodohnya aku kenapa saat itu aku tidak langsung bertanya soal namanya. Kebodohan itu masih teringat di kepalaku yang mungkin tidak bisa terlupakan begitu saja.Hingga menginjak hari kedua sebagai murid baru aku hanya memanggilnya dengan sebutan kamu.
Aku tidak menyadari seberapa penting seorang Kamu waktu itu. Dia membuatku mengenal hampir seluruh siswa-siswi disekolah. Dia mengajakku mondar-mandir kesana-kemari hanya untuk mengenalkanku dengan semua orang tanpa aku tahu siapa nama dia. Anehnya di juga tidak sadar dengan panggilan tersebut hingga suatu saat kebodohanku mendapat pukulan yang sangat hebat.
Bel berbunyi tepat pada pukul 09.00 WIB, menandakan waktu istirahat dimulai, seluruh murid mulai berhamburan ada yang bermain bola, dakon, kelereng dan ada pula yang hanya sekedar pergi ke kantin sekolah. waktu itu aku memanggilnya dengan niat ingi mengajak nya pergi ke kantin untuk membeli sebungkus nasi.
''Hey kamu!'' teriakku dengan lantang
Dia mungkin merasa aneh dengan panggilan tersebut.
''Fenus, kenapa kamu memanggilku seperti itu?'' kata dia heran.
''Kalau begitu siapa?'' kataku dengan ekspresi bingung.
''Memangnya kamu tidak tahu namaku?'' tanya dia.
''Sebenarnya sejak pertama kali bertemu aku tidak tahu'' jawabku malu.
Dia pun teringat waktu pertama kali bertemu aku belum bertanya soal nama dia. Dia pun terkejut dan tertawa sejadi-jadinya. Dia baru saja tersadar akan kebodohanku yang membuat diriku teramat sangat malu. Diwaktu yang sama dengan mulut mungilnya dia pun memperkenalkan diri.
''Kenalin namaku Salsabila, panggil saja Salsa'' kata dia sambil tertawa.
Tamat.