tahun 1204.
Kota itu belum jatuh.
Tapi semua orang sudah merasa kiamat semakin dekat.
Namaku Andreas, penjaga gereja tua di dekat Hagia Sophia. Tugas utamaku hanya satu: menjaga sebuah patung Perawan Maria yang konon melindungi kota.
Sudah ratusan tahun patung itu berdiri.
Diam. Dingin. Tak berubah.
Sampai suatu malam…
Aku melihat sesuatu yang tidak mungkin.
Air mata.
Menetes… dari mata patung itu.
Aku mendekat, memastikan.
Bukan ilusi. Bukan cahaya.
Benar-benar air.
Keesokan harinya, kabar itu menyebar. Orang-orang datang, berdoa, menangis, berharap itu tanda keajaiban.
“Tuhan tidak akan membiarkan kota ini jatuh,” kata mereka.
Aku ingin percaya.
Sampai aku menemukan sesuatu di belakang patung itu.
Sebuah rongga kecil.
Dan di dalamnya… gulungan kain tua.
Dengan tangan gemetar, aku membukanya.
Isinya bukan doa.
Tapi catatan.
“Jika patung ini mulai menangis…
berarti Konstantinopel akan jatuh dalam waktu tiga hari.”
Aku membeku.
Di bagian bawah tertulis tahun.
Ditulis… puluhan tahun sebelum aku lahir.
Hari pertama… tidak terjadi apa-apa.
Hari kedua… pasukan salib mulai mendekat.
Hari ketiga…
Gerbang kota jebol.
Api, jeritan, dan darah memenuhi jalanan.
Orang-orang yang dulu berdoa… kini berlari tanpa arah.
Aku kembali ke gereja.
Patung itu… masih menangis.
Tapi kali ini, aku sadar sesuatu.
Air itu bukan jatuh dari mata.
Melainkan… dari atas.
Aku mendongak.
Langit-langit gereja retak.
Hujan masuk melalui celah batu.
Perlahan… aku tersenyum pahit.
Ini bukan keajaiban.
Ini peringatan.
Yang tidak pernah dipahami siapa pun.
Saat aku hendak pergi, aku melihat bagian belakang patung itu sekali lagi.
Ada ruang kosong.
Seolah… menunggu sesuatu.
Dengan napas berat, aku mengambil kain dan pena.
Lalu menulis:
“Jika patung ini mulai menangis…
berarti Konstantinopel akan jatuh dalam waktu tiga hari.”
Aku menyembunyikannya di tempat yang sama.
Dan berjalan keluar… ke kota yang sedang runtuh.