Gerimis itu seperti jarum halus yang menusuk pori-pori aspal. Di depan Taman Kencana, seorang laki-laki tua bernama Darman berdiri dengan peluit yang sudah kehilangan suaranya. Jaket oranye kusamnya lebih mirip kulit kedua yang sudah mati. Ia tidak hanya mengatur kendaraan; ia sedang menyusun kepingan-kepingan amanah yang ditinggalkan orang asing di depan pagar rumahnya yang meronta minta dicat ulang.
Di seberang jalan, sebuah lampu neon dari gerai pizza baru menyala dengan kejamnya, menerangi wajah Aris yang basah kuyup. Aris adalah laki-laki yang hidupnya diukur dari cicilan motor sport biru itu. Baginya, motor itu adalah harga diri, keringat ibunya, dan satu-satunya jembatan menuju masa depan.
Maghrib mengetuk langit. Suara azan mulai merayap, membawa hawa dingin yang tak biasa. Darman berhenti. Ia menyeka keringat yang bercampur air hujan, lalu dengan sisa tenaga yang ia simpan untuk hari tua, ia mendorong satu per satu motor yang tersisa ke balik pagar rumahnya. Ia mengunci gerbang itu dengan gembok yang sudah berkarat, lalu masuk ke dalam untuk bersujud di atas sajadah yang benangnya sudah mulai terurai.
Aris berlari keluar dari gerai pizza. Langkahnya terhenti tepat di titik di mana motornya seharusnya berada. Kosong. Hanya ada genangan air yang memantulkan wajahnya yang mendadak pucat.
"Motor saya mana?" suaranya pecah, nyaris tak terdengar di antara deburan hujan.
Ia menoleh ke arah rumah tua itu. Dunianya runtuh. Ia membayangkan ibunya menangis di kampung. Ia membayangkan dipecat karena tak bisa lagi menjangkau tempat kerja. Tangisnya pecah di bawah hujan, tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan satu-satunya mainan.
"Mas, motornya di dalam. Pak Darman yang masukin. Takut hilang, katanya mau sholat dulu," celetuk seorang tetangga yang kebetulan lewat.
Aris terpaku. Ia mengintip lewat celah pagar. Motor birunya terparkir rapi di sana, di samping pot bunga pecah milik istri Darman yang sudah lama tiada. Tak lama, gerbang terbuka. Darman keluar dengan sarung yang basah di bagian bawahnya.
"Maaf ya, Mas. Saya masukin. Amanah itu berat, saya nggak tenang kalau sholat tapi motor Mas masih di luar," ucap Darman tenang.
Aris menghambur, tangisnya yang tadi karena takut berubah menjadi rasa syukur yang menyesakkan dada. "Makasih, Pak. Saya pikir saya sudah kehilangan segalanya."
"Jangan menangis untuk besi, Mas. Simpan air matanya untuk hal yang lebih berarti," kata Darman sambil menepuk pundak Aris.
Malam itu, sebagai balas budi, Aris membawakan kotak pizza paling mahal. Darman menerimanya dengan tangan gemetar. Ia tidak memakan pizza itu; ia hanya menatapnya seolah itu adalah benda paling mewah yang pernah masuk ke rumahnya.
***
Satu bulan berlalu. Aris kembali ke tempat itu membawa sebuah jaket kulit baru. Ia ingin memberikan sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh renta yang selalu menjaga motornya. Namun, kali ini, tidak ada suara peluit. Hanya ada bendera kuning yang bergoyang kuyu di depan pagar.
Aris terpaku. Ia menghampiri tetangga yang dulu menyapanya.
"Pak Darman... sakit?" tanya Aris, suaranya bergetar.
Tetangga itu menatap Aris dengan mata sembap. "Beliau sudah nggak ada, Mas. Tiga hari yang lalu. Serangan jantung saat sedang mendorong motor terakhir masuk ke halaman. Ternyata malam itu, malam Mas kasih pizza, itu adalah hari terakhir beliau bisa berdiri tegak."
Lutut Aris lemas. Ia teringat percakapan singkat mereka.
"Beliau titip pesan ini, Mas," kata tetangga itu sambil menyerahkan sebuah amplop lusuh dari saku daster istrinya.
Aris membukanya dengan tangan bergetar. Di dalamnya hanya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang hampir tidak terbaca:
"Pizza-nya enak, Mas. Saya simpan untuk sarapan istri saya di surga. Terima kasih sudah buat saya merasa seperti manusia, bukan sekadar tukang parkir. Tolong, jaga motornya baik-baik, jangan sampai hilang lagi. Karena saya sudah tidak bisa menjaganya dari sini."
Aris jatuh terduduk di aspal yang sama. Di bawah hujan yang sama. Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit: Ia selama ini sibuk mencemaskan cicilan motornya yang belum lunas, sementara laki-laki tua itu telah melunasi seluruh hutang hidupnya dengan menjaga amanah sampai napas terakhir.
Aris memeluk jaket kulit itu, menyadari bahwa di dunia ini, beberapa orang dilahirkan untuk menjadi penjaga yang tidak pernah dijaga oleh siapa pun. Dan terkadang, harga sebuah kejujuran adalah nyawa yang terbungkus jaket oranye kusam.