Malam itu terasa berbeda.
Aku terbangun tanpa alasan yang jelas. Kamar gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu jalan yang menyelinap lewat celah jendela. Nafasku terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dada.
Jam di dinding menunjukkan 03:17.
Aku mencoba kembali tidur, tapi ada suara pelan… seperti langkah kaki di luar kamar. Pelan. Teratur. Tok… tok… tok…
Aku membeku.
Rumahku seharusnya sepi. Orang tuaku sedang pergi keluar kota, dan aku sendirian sejak sore tadi.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamarku.
Lalu… klik.
Pegangan pintu bergerak perlahan.
Aku menahan napas, berharap itu cuma perasaanku. Tapi pintu itu… benar-benar terbuka sedikit. Celah kecil terbentuk, cukup untuk memperlihatkan kegelapan di luar.
Dan dari celah itu… sesuatu mengintip.
Aku tak bisa melihat jelas wajahnya. Hanya sepasang mata… terlalu putih… menatap langsung ke arahku.
Aku ingin berteriak, tapi suaraku tidak keluar.
Makhluk itu membuka pintu lebih lebar. Tubuhnya kurus, terlalu panjang, bergerak dengan cara yang tidak wajar—seperti patah-patah. Ia melangkah masuk ke kamar.
Tok… tok… tok…
Setiap langkahnya semakin dekat ke tempat tidurku.
Aku mencoba bangun, tapi tubuhku tidak bisa digerakkan. Seperti terikat. Seperti mimpi… tapi terasa terlalu nyata.
Makhluk itu kini berdiri di sampingku.
Aku bisa merasakan napasnya—dingin, berbau aneh.
Lalu ia berbisik pelan di telingaku:
“Kenapa kamu bangun…? Aku belum selesai…”
Seketika semua menjadi gelap.
—
Aku terbangun dengan napas terengah-engah.
Kamar kembali normal. Tidak ada siapa pun. Pintu tertutup rapat. Tidak ada suara langkah.
“Cuma mimpi…” bisikku lega.
Aku meraih ponsel di samping tempat tidur untuk memastikan waktu.
Layarnya menyala.
03:17
Aku menelan ludah.
Tiba-tiba… dari luar kamar…
Tok… tok… tok…
Langkah kaki itu terdengar lagi.