Namaku Elsa.
Aku tidak pernah benar-benar siap untuk kehilangan.
Dulu, saat papa pergi lebih dulu, aku masih bisa berpura-pura kuat. Lalu kakak perempuanku menyusul, dan rasanya seperti sebagian hidupku ikut terkubur bersama kenangan.
Sekarang… hanya ibu yang tersisa.
Ibu yang sudah hampir 78 tahun.
Ibu yang kini lebih sering terbaring, dengan napas yang kadang berat, kadang pelan seperti angin yang ragu untuk bertiup.
Aku duduk di samping tempat tidurnya sore itu.
Tangannya kuraih. Dingin, tapi masih hangat untukku.
“Elsa…” suara ibu lirih, hampir seperti bisikan.
“Iya, Bu… Elsa di sini.”
Aku selalu bilang begitu.
Padahal dalam hati, aku ingin berkata, jangan panggil aku seperti itu kalau suatu hari nanti aku harus menjawab tanpa bisa melihatmu lagi.
Aku menatap wajahnya. Keriput di sudut mata itu bukan sekadar tanda usia. Itu adalah peta dari semua perjuangan yang pernah ia lalui—melahirkan, membesarkan, kehilangan, bertahan.
Dan aku tiba-tiba sadar…
aku belum siap.
Bukan belum siap kehilangan,
tapi belum siap hidup tanpa seseorang yang selalu memanggil namaku dengan penuh cinta.
Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di kursi dekat tempat tidur ibu. Lampu redup. Suara jam berdetak seperti menghitung waktu yang tersisa.
Aku mulai berbicara pelan.
“Ibu… kalau nanti Elsa harus sendiri… Elsa harus gimana?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas ibu yang naik turun.
Air mataku jatuh tanpa izin.
“Aku takut, Bu… aku takut banget…”
Untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha terlihat kuat. Tidak ada yang perlu aku lindungi sekarang. Bahkan hatiku sendiri sudah retak.
Tiba-tiba, ibu menggerakkan tangannya. Lemah, tapi cukup untuk menyentuh jemariku.
“Elsa… hidup itu… harus jalan…” katanya terbata.
Aku langsung menggenggam tangannya lebih erat.
“Iya, Bu… tapi Elsa nggak mau jalan tanpa ibu…”
Ibu tersenyum tipis. Senyum yang sangat aku kenal sejak kecil. Senyum yang selalu bilang, semua akan baik-baik saja, bahkan saat dunia sedang tidak baik.
“Kamu… kuat… dari dulu…” lanjutnya pelan.
Aku menggeleng, air mata makin deras.
“Enggak, Bu… Elsa kuat karena ada ibu…”
Diam.
Lalu ibu berkata lagi, dengan suara yang hampir hilang:
“Kalau ibu pergi nanti… jangan ikut hilang juga…”
Kalimat itu seperti menampar hatiku.
Aku terdiam.
Hancur.
Tapi juga… tersadar.
Selama ini aku sibuk takut kehilangan, sampai lupa satu hal—
bahwa yang ibu inginkan bukan aku menangis selamanya, tapi aku tetap hidup.
Aku menunduk, mencium tangan ibu.
“Elsa janji… Elsa akan tetap hidup… walaupun berat…”
Untuk pertama kalinya, aku mencoba berdamai dengan kemungkinan itu.
Bukan berarti aku siap kehilangan.
Tapi aku mulai belajar menerima bahwa suatu hari nanti, aku harus merelakan.
Aku tahu, hari itu mungkin akan datang.
Hari di mana rumah terasa kosong.
Hari di mana tidak ada lagi suara yang memanggil namaku dengan lembut.
Tapi aku juga tahu…
cinta ibu tidak akan ikut pergi.
Ia akan tinggal.
Di ingatan.
Di doa.
Di setiap langkah yang aku ambil.
Aku mengusap air mata, lalu menatap ibu lagi.
“Ibu… kalau nanti Elsa kangen… Elsa boleh nangis, kan?”
Ibu tidak menjawab. Tapi genggaman tangannya sedikit menguat.
Dan itu cukup.
Karena aku akhirnya mengerti…
kesiapan itu bukan berarti tidak menangis saat kehilangan.
Kesiapan adalah ketika hati tetap memilih untuk hidup,
meskipun separuhnya terasa hilang.
Aku Elsa.
Dan aku sedang belajar kuat…
pelan-pelan… sebelum hari itu benar-benar datang.
Selesai