Senja melukis langit Jakarta dengan sapuan warna jingga dan keunguan. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan yang baru saja reda. Di teras Masjid Al-Hurriyah yang megah, Faiz duduk bersila sambil merapikan tumpukan buku-buku tebal miliknya. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Arsitektur itu baru saja menyelesaikan bimbingan skripsinya yang melelahkan. Namun, rasa lelahnya seolah menguap begitu saja saat ekor matanya menangkap sebuah pemandangan di sudut lain pelataran masjid.
Di sana, berjarak belasan meter darinya, Nadhira tengah sibuk mengoordinasikan panitia akhwat untuk kajian akbar akhir pekan. Gadis itu mengenakan gamis berwarna abu-abu muda, jilbabnya menjuntai menutup dada, meneduhkan siapa saja yang memandang. Namun, bukan sekadar pakaiannya yang membuat Faiz selalu kehilangan kata-kata, melainkan bagaimana Nadhira membawa diri. Tunduk pandangannya, tutur katanya yang tenang namun tegas, dan keikhlasannya dalam mengurus umat telah lama merampas perhatian Faiz.
Faiz buru-buru menundukkan pandangannya, beristighfar dalam hati. "Astaghfirullah," bisiknya lirih. Ia tahu, membiarkan mata dan hatinya terpaku pada seorang wanita yang belum halal baginya adalah celah bagi setan untuk menyemai zina hati. Dalam ajaran yang ia yakini, cinta bukanlah sesuatu yang diumbar lewat curi-curi pandang atau pesan singkat yang tak bermakna, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang harus dijemput lewat pintu keridaan Allah.
Faiz menyadari posisinya. Ia hanyalah seorang mahasiswa biasa yang menyambung hidup dengan bekerja paruh waktu sebagai desainer grafis *freelance*. Tabungannya baru cukup untuk menyewa kamar kos dan makan sehari-hari, belum layak untuk disebut mapan. Terngiang di telinganya sebuah hadis yang sering disampaikan dalam kajian pemuda:
"Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menekan syahwatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis itu menjadi cambuk sekaligus pengingat bagi Faiz. Ia merasa belum masuk dalam kategori 'mampu'. Ia tak ingin menjanjikan sesuatu yang belum bisa ia penuhi. Ia tak ingin mengikat Nadhira dalam hubungan tanpa kepastian. Maka, selama dua tahun terakhir, Faiz memilih untuk mencintai Nadhira dalam rona diam yang paling pekat. Ia hanya berani menyebut nama gadis itu dalam sepertiga malamnya, menitipkannya pada Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati.
Waktu berlalu. Bulan berganti bulan. Faiz akhirnya berhasil meraih gelar sarjananya dengan predikat cumlaude. Karier *freelance*-nya pun mulai membuahkan hasil. Sebuah biro arsitektur ternama mengangkatnya menjadi pegawai tetap. Perlahan, pondasi finansialnya mulai terbangun. Keyakinannya untuk menggenapkan separuh agama mulai menguat.
Suatu malam, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Usai mengikuti halaqah rutin yang dipimpin oleh Ustaz Hanif, Faiz tidak langsung pulang. Ia membantu merapikan karpet dan mematikan pendingin ruangan masjid. Ustaz Hanif, seorang mentor yang sudah dianggapnya seperti ayah sendiri, menepuk pundaknya lembut.
"Faiz, silakan duduk sebentar. Ada yang ingin antum bicarakan?" tanya Ustaz Hanif sambil tersenyum penuh wibawa.
Faiz duduk dengan canggung, memainkan ujung sajadahnya. "Alhamdulillah, Ustaz. Kontrak kerja saya baru saja diperpanjang. Saya merasa Allah memberikan jalan kemudahan dalam rezeki saya belakangan ini."
Ustaz Hanif mengangguk mafhum, sorot matanya tajam namun teduh. "Alhamdulillah. Allah telah memberimu kecukupan. Usiamu sudah matang, pekerjaan sudah ada, kedewasaan emosionalmu pun Ustaz lihat sudah mumpuni. Tidakkah kau berniat untuk menyempurnakan separuh agamamu, Faiz? Menikah adalah ibadah terlama, jalan untuk meraih ketenangan."
Dada Faiz berdesir. Pertanyaan yang sebenarnya sudah ia duga, namun tetap saja membuatnya gugup. Bayangan wajah Nadhira berkelebat di benaknya. "Niat itu sangat kuat, Ustaz. Tapi... saya masih bingung harus memulai dari mana."
Ustaz Hanif tersenyum lebar. Beliau merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah map plastik berwarna biru tua yang tertutup rapat. Beliau meletakkan map itu tepat di hadapan Faiz.
"Faiz, beberapa hari yang lalu, seorang sahabat saya yang saleh datang menemui Ustaz. Beliau meminta tolong dicarikan seorang pemuda yang baik agamanya, yang menjaga salat jamaahnya, dan memiliki tanggung jawab, untuk dikenalkan dengan putri sulungnya. Saat mendengar kriteria itu, wajahmulah yang pertama kali terlintas di benak Ustaz."
Faiz terdiam kaku. Matanya tertuju pada map biru itu seolah benda itu menyala dalam gelap. Ta'aruf. Ini adalah tawaran ta'aruf.
"Ini adalah biodata akhwat tersebut," lanjut Ustaz Hanif dengan suara yang menenangkan. "Di dalamnya ada profil lengkap, visi misi pernikahannya, dan kriteria yang ia cari. Bawa pulang, pelajari. Tapi ingat, jangan terburu-buru. Libatkan Allah. Istikharah-lah. Jika hatimu condong, kita akan atur waktu untuk proses selanjutnya. Jika tidak, kembalikan map ini tanpa perlu ada rasa sungkan sedikit pun."
Tangan Faiz sedikit gemetar saat menerima map tersebut. Ada beban tak kasat mata yang tiba-tiba menindih pundaknya. "Baik, Ustaz. Insyaallah akan saya istikharahkan," ucapnya pelan.
Malam itu, di dalam kamar kosnya yang sunyi, Faiz duduk termenung di tepi ranjang. Map biru itu tergeletak di atas meja belajarnya, di bawah sorot lampu duduk yang temaram. Ia tidak menyentuhnya. Hatinya berkecamuk hebat. Perasaan manusiawinya memberontak. Bagaimana mungkin ia membuka hati untuk wanita yang sama sekali tidak ia kenal, sementara di sudut hatinya yang paling dalam, nama Nadhira telah bertahta dengan begitu kuat?
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan?" keluhnya dalam kesendirian.
Faiz mengambil wudu. Air dingin yang menyapu wajahnya sedikit meredakan gemuruh di dadanya. Ia menggelar sajadah lusuhnya, menghadap kiblat. Malam itu, salat tahajudnya terasa lebih panjang dan lebih berat dari biasanya. Dalam sujud terakhirnya, pertahanan Faiz runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan tumpah membasahi tempat sujudnya.
"Ya Rabb... Engkau Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di kedalaman dada hamba. Engkau tahu betapa hamba mengagumi Nadhira. Hamba telah menjaga rasa ini agar tak menodai syariat-Mu. Namun hari ini, Engkau mengujiku dengan sebuah pilihan. Jika hamba terus menunggu ketidakpastian bersama Nadhira, hamba takut terjerumus dalam angan-angan kosong. Namun jika hamba membuka map ini, hamba takut menyakiti hati hamba sendiri dan hati wanita yang ada di dalam map ini karena ketidakhadiran Nadhira di sana."
Malam-malam berikutnya menjadi saksi pergulatan batin seorang pemuda yang berusaha menundukkan egonya di bawah panji-panji kepasrahan. Faiz merutinkan salat Istikharah. Ia merenungi esensi dari doa istikharah itu sendiri. Bukankah istikharah adalah penyerahan total? Bukankah dengan beristikharah, seorang hamba mengakui kebodohannya di hadapan takdir Allah yang Maha Berilmu?
Hari ketujuh sejak ia menerima map tersebut, sebuah pemahaman menyejukkan hatinya. Faiz menyadari bahwa cintanya pada Nadhira selama ini hanyalah sebatas prasangka bahwa Nadhira adalah yang terbaik baginya. Padahal, Allah-lah yang paling tahu siapa yang terbaik untuk agamanya, dunianya, dan akhiratnya. Cinta sejati tidak dibangun di atas angan-angan, melainkan di atas keridaan Allah.
Pagi itu, dengan dada yang lapang dan hati yang telah berdamai dengan ketetapan Allah, Faiz mengambil map biru itu. Ajaibnya, ia memutuskan untuk tidak membuka atau membacanya sama sekali. Ia memasukkan map itu kembali ke dalam tasnya.
Sore harinya, Faiz menemui Ustaz Hanif di serambi masjid. Dengan mantap, ia menyerahkan sebuah amplop cokelat berisi biodata lengkap dirinya, beserta map biru yang masih utuh seperti sediakala.
Ustaz Hanif mengernyitkan dahi. "Antum tidak membukanya, Faiz? Atau antum mengembalikannya karena merasa tidak cocok?"
Faiz tersenyum, senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan. "Saya belum membuka map itu sama sekali, Ustaz. Selama seminggu ini saya beristikharah, dan saya menemukan jawaban bahwa saya harus melepaskan segala kehendak pribadi saya. Jika Ustaz dan keluarga akhwat tersebut menilai saya pantas, bismillah, saya bersedia melanjutkan proses ini. Saya percaya pada pilihan Allah melalui perantara Ustaz. Siapapun akhwat di dalam map itu, jika ia baik agamanya, saya akan menerimanya."
Mata Ustaz Hanif berkaca-kaca. Beliau menepuk bahu Faiz dengan bangga. "Masyaallah. Engkau telah memahami hakikat tawakal, Nak. Baiklah, Ustaz akan menyerahkan biodatamu kepada keluarga mereka. Berdoalah agar Allah memberikan kemudahan."
Satu minggu yang mendebarkan berlalu. Ustaz Hanif membawa kabar gembira. Keluarga pihak perempuan telah membaca biodata Faiz dan merasa ada kecocokan. Mereka mengundang Faiz untuk datang ke rumah mereka di akhir pekan, guna melakukan proses ta'aruf langsung yang dirangkaikan dengan *nadzor* (melihat calon pasangan secara langsung).
Islam memberikan syariat *nadzor* bukan tanpa alasan. Hal ini ditujukan agar tidak ada penyesalan di kemudian hari dan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang sebelum ikatan yang suci terjalin. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, maka apabila ia mampu untuk melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah." (HR. Abu Dawud).
Hari yang ditunggu pun tiba. Hari Ahad pagi yang cerah, langit seakan ikut merayakan langkah mulia yang diambil oleh Faiz. Bersama Ustaz Hanif, Faiz melajukan sepeda motornya membelah jalanan kota menuju sebuah perumahan asri di pinggiran Jakarta. Jantung Faiz berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Tangannya terasa dingin, keringat tipis bermunculan di dahinya.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah bercat putih dengan taman kecil yang tertata rapi. Aroma bunga melati menyambut kedatangan mereka. Ustaz Hanif memencet bel, dan tak lama kemudian, pintu kayu berukir itu terbuka. Seorang pria paruh baya dengan wajah yang teduh dan senyum ramah menyambut mereka.
"Assalamu'alaikum, Ustaz Hanif. Silakan masuk. Dan ini pasti Nak Faiz? Ahlan wa sahlan, mari silakan duduk," sapa pria itu yang tak lain adalah ayah sang akhwat.
Mereka duduk di ruang tamu yang dihiasi kaligrafi Ayat Kursi berukuran besar. Percakapan mengalir dengan hangat. Ayah sang akhwat banyak bertanya tentang pekerjaan Faiz, rutinitas ibadahnya, serta visi misinya dalam membangun keluarga. Faiz menjawab setiap pertanyaan dengan jujur, tenang, dan penuh adab, meski dalam dadanya badai kegugupan terus berkecamuk. Ia benar-benar tidak tahu siapa wanita yang akan menjadi calon istrinya ini.
Setelah sekitar setengah jam berbincang, ayah sang akhwat tersenyum mengangguk-angguk. Ia tampak puas dengan jawaban-jawaban Faiz. "Alhamdulillah. Bapak rasa perbincangan awal kita sudah cukup. Nak Faiz, dalam syariat kita sangat dianjurkan untuk saling melihat agar hati menjadi mantap. Bapak akan memanggil putri bapak terlebih dahulu."
Pria itu beranjak ke ruang tengah. Suasana ruang tamu mendadak hening. Ustaz Hanif berbisik pelan, "Tenanglah, Faiz. Banyaklah berzikir."
Faiz menundukkan kepalanya dalam-dalam. Matanya terpejam, mulutnya tak henti melafalkan selawat dan istighfar. Ia berjanji pada dirinya sendiri; apapun yang ia lihat nanti, ia akan menerimanya sebagai takdir terbaik dari langit.
Terdengar suara langkah kaki yang pelan dan teratur mendekati ruang tamu. Suara gemerisik kain gamis yang bergesekan dengan udara membuat jantung Faiz serasa berhenti berdetak sesaat.
"Silakan duduk, Nduk," suara ayah sang akhwat terdengar lembut. "Nak Faiz, ini putri sulung bapak. Silakan diangkat pandangannya, niatkan untuk *nadzor* karena Allah."
Dengan tarikan napas panjang yang terasa memberatkan dada, Faiz perlahan mengangkat wajahnya. Ia memfokuskan pandangannya ke seberang meja. Di sana, duduk seorang wanita dengan gamis berwarna *dusty pink* dan jilbab syar'i yang menutupi dengan sempurna. Wanita itu menunduk dalam, tangannya bertaut menyembunyikan kegugupan.
Lalu, perlahan-lahan, wanita itu mengangkat wajahnya untuk memenuhi hak *nadzor* yang diperintahkan syariat. Matanya yang teduh, meski terlihat sedikit sembap, menatap lurus ke arah Faiz.
Detik itu juga, waktu seakan membeku. Udara di ruang tamu itu seolah tersedot keluar, membuat Faiz kehabisan napas. Mata Faiz membelalak lebar, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada satu pun kata yang mampu keluar. Darahnya berdesir hebat mengalir dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.
Wanita di hadapannya itu. Wajah yang selama ini ia jaga agar tak pernah terbayang secara liar. Wajah yang selama bertahun-tahun selalu ia sebut namanya dengan lirih dalam keheningan sepertiga malam.
Nadhira.
Wanita di seberang meja itu adalah Nadhira.
Faiz merasa tubuhnya kebas. Ia hampir mengira ini adalah halusinasi akibat terlalu memikirkan gadis itu. Namun senyum tipis yang perlahan mekar di bibir Nadhira—senyum yang menyiratkan keharuan luar biasa dan mata yang berkaca-kaca—menyadarkan Faiz bahwa ini adalah realita yang paling indah.
Ustaz Hanif yang duduk di sebelah Faiz tertawa pelan, memecah keheningan yang syahdu itu. Beliau menepuk bahu Faiz dengan cukup keras hingga pemuda itu tersentak pelan.
"Nama lengkapnya di biodata yang tidak pernah kau buka itu adalah Fatimah az-Zahra, Faiz," ucap Ustaz Hanif dengan nada penuh kepuasan. "Sedangkan di kampus, ia lebih dikenal dengan nama Nadhira, nama panggilan dari almarhumah neneknya."
Faiz masih tak sanggup berkata-kata. Pandangannya bergantian menatap Nadhira yang kembali menunduk malu, dan ayah Nadhira yang tersenyum bijak.
"Ustaz sudah lama memperhatikan gerak-gerikmu di masjid kampus, Faiz," lanjut Ustaz Hanif. "Ustaz tahu kau selalu menahan diri, menjaga pandanganmu walau hatimu tak bisa berbohong. Di sisi lain, Nadhira juga pernah bercerita pada istrinya Ustaz, bahwa ia mengagumi seorang pemuda arsitektur yang sering merapikan masjid, namun ia hanya bisa menyerahkannya pada Allah. Maka, Ustaz dan istri berinisiatif menjadi perantara untuk menyatukan dua hati yang sama-sama menjaga diri ini melalui jalan yang diridai-Nya."
Satu tetes air mata akhirnya lolos dari sudut mata Faiz, mengalir membasahi pipinya. Tangis syukur yang tak terbendung. Segala sesak, keraguan, dan rasa sakit saat mencoba mengikhlaskan Nadhira dalam istikharahnya menguap tak bersisa, digantikan oleh kesejukan yang luar biasa.
Allah Maha Baik. Allah tidak mengambil apa yang ia cintai. Allah hanya mengujinya, memintanya untuk melepaskan segala ikatan kepemilikan semu dan egoisme angan-angan, agar cinta itu murni karena-Nya. Dan ketika Faiz telah benar-benar melepaskan Nadhira karena Allah, Allah mengembalikan gadis itu kepadanya melalui jalan yang paling suci, indah, dan terhormat.
"Bagaimana, Nak Faiz?" tanya ayah Nadhira memecah keheningan, suaranya terdengar menggoda. "Apakah *nadzor*-nya sudah cukup meyakinkan hati?"
Faiz segera mengusap air matanya dan mengangguk mantap. Suaranya sedikit bergetar karena haru, namun terdengar sangat tegas. "Bismillah... dengan memohon rida Allah, rida Bapak, dan izin dari Nadhira, saya berniat untuk meminang putri Bapak."
Di seberang meja, Nadhira semakin menundukkan wajahnya, namun dari balik jilbabnya yang menjuntai, sebulir air mata kebahagiaan jatuh menitik. Rahasia panjang yang tersimpan rapi di balik sujud-sujud istikharah mereka berdua akhirnya menemui ujung perjalanannya. Mereka tidak pernah saling berjanji, tidak pernah saling menyapa dengan mesra, namun Allah yang Maha Menyatukan telah menuliskan nama mereka bersisian di Lauhul Mahfudz, jauh sebelum takdir ini bergulir di bumi.
```