Di bawah siraman golden hour yang terasa estetik sekaligus menyesakkan, Titin melangkah menyusuri jalan setapak di taman desa. Langkahnya pelan, ditemani lagu "Senja di Sore Itu" yang berputar looping di Spotify-nya—seolah sengaja ingin memvalidasi rasa galau yang sedang ia peluk erat.
Di sebuah bangku kayu yang mulai berlumut, ia melihat Ririn dan Gina sedang asyik mengambil konten estetik untuk dump bulan ini.
"Tin, sini! Lighting-nya lagi cakep parah!" seru Gina sambil memegang kamera.
Titin hanya tersenyum tipis. Pikirannya melayang pada Awan, sosok yang dulu selalu berdiri di sampingnya setiap kali mereka berburu matahari terbenam. Awan yang sekarang hanya bisa ia pantau lewat update di close friend, namun terasa sejauh galaksi.
Tiba-tiba, langkah Titin terhenti. Di depan sana, Dito Yulianto berdiri mematung sambil menatap langit yang mulai jingga kemerahan. Dito adalah tipe cowok stoic yang kehadirannya selalu memberikan vibe tenang namun misterius.
"Masih dengerin lagu yang sama, Tin?" tanya Dito tanpa menoleh, seolah ia bisa mendengar apa yang keluar dari earbuds Titin.
Titin melepas sebelah earbud-nya. "Iya, Dit. Rasanya kayak terjebak di sore yang itu-itu saja. Nggak pernah benar-benar bisa move on."
Dito berbalik, menatap Titin dengan tatapan dalam. "Kadang kita bukan gagal move on dari orangnya, Tin. Kita cuma kangen sama versi diri kita yang dulu saat bareng mereka. Awan sudah punya langitnya sendiri, dan kamu harus punya bumi tempatmu berpijak lagi."
Kalimat Dito terasa seperti tamparan pelan yang menyadarkan. Ririn dan Gina mendekat, merangkul Titin dari kedua sisi, menciptakan kehangatan nyata di tengah hawa dingin yang mulai turun. Di sore itu, Titin menyadari bahwa meski melodi senja itu masih terngiang, ia tidak harus terus-menerus berjalan sendirian dalam bayang-bayang masa lalu.
"𝙈𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙨𝙞𝙨𝙖 𝙧𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙩𝙖𝙨 𝙧𝙖𝙣𝙨𝙚𝙡. 𝘽𝙞𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙢𝙪, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙬𝙖𝙧𝙣𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙙𝙞 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝."
Hari berganti, dan Titin menatap lurus ke arah jalan setapak yang bermandikan cahaya golden hour terakhir di taman ini. Di tangan kanannya, ia menjinjing tas besar—berisi lebih dari sekadar pakaian, tapi juga sisa-sisa harapan yang ia kemas rapi. Keputusannya sudah bulat: ia akan pulang kembali ke kota, menjauh dari riuh rendah kenangan yang terus-menerus memutar lagu "Senja di Sore Itu" di kepalanya.
Ririn dan Gina berdiri di kejauhan, hanya bisa melambai kecil dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka tahu, kali ini Titin tidak sedang mencari spot foto estetik, ia sedang mencari dirinya yang hilang.
Di tengah langkahnya yang berat, langkah kaki seseorang terdengar mendekat dari belakang. Itu Dito . Ia tidak mencoba menahan Titin, ia hanya berjalan beriringan sejenak hingga ke gerbang, memberikan ketenangan yang selama ini Titin butuhkan sebelum ia benar-benar meninggalkan desa itu.
"Titin," panggil Dito pelan. "Pulang bukan berarti kalah. Kadang, kita butuh kembali ke titik nol untuk mengerti ke mana arah selanjutnya. Sampaikan salamku untuk senja di kotamu, mungkin di sana warnanya lebih jujur."
Titin mengangguk pelan, air matanya hampir jatuh namun ia tahan. Ia teringat Awan, sosok yang dulu berjanji akan menemaninya pulang. Kini, bayangan Awan benar-benar tertinggal di bangku taman desa itu, memudar seiring matahari yang tenggelam.
Titin terus melangkah membelakangi kamera kehidupan lamanya, menuju keramaian yang baru di kota, di mana ia bisa mulai menata hati kembali.