Namanya Arka.
Dan satu-satunya orang yang paling ia cintai adalah—ibunya.
Sejak kecil, Arka tidak pernah punya banyak hal.
Rumahnya sederhana.
Hidupnya pas-pasan.
Tapi ibunya selalu bilang,
“Kita mungkin nggak punya segalanya, Nak… tapi kita punya satu sama lain.”
Dan itu… selalu cukup.
Ibunya bekerja keras setiap hari.
Bangun sebelum matahari terbit.
Pulang saat langit sudah gelap.
Kadang Arka pura-pura tidur, hanya untuk tidak melihat ibunya menangis diam-diam di dapur.
“Ibu capek ya?” tanya Arka suatu malam.
Ibunya tersenyum.
“Enggak. Selama kamu ada… Ibu kuat.”
Arka percaya itu.
Sampai suatu hari… semuanya berubah.
“Ibumu sakit.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi menghancurkan dunia Arka dalam sekejap.
Ia melihat ibunya terbaring lemah.
Tidak lagi sekuat dulu.
Tidak lagi bisa tersenyum seperti biasanya.
“Arka…” suara ibunya pelan, hampir tak terdengar,
“kalau nanti Ibu nggak ada…”
“Jangan ngomong gitu!” potong Arka, air matanya jatuh deras.
“Aku masih butuh Ibu…”
Ibunya tersenyum, mengusap kepala Arka dengan tangan yang gemetar.
“Semua orang… pasti akan pergi, Nak. Tapi cinta… nggak akan pernah ikut hilang.”
Hari itu akhirnya datang.
Hari yang paling Arka takuti.
Ia menggenggam tangan ibunya erat.
“Ibu jangan pergi…” bisiknya putus asa.
Ibunya menatapnya untuk terakhir kali.
“Arka… kamu harus jadi anak yang kuat ya…”
Air mata Arka jatuh tanpa henti.
“Aku nggak mau kuat… kalau harus kehilangan Ibu…”
Senyum itu… adalah yang terakhir.
Dan sejak saat itu—dunia Arka tidak pernah sama lagi.
Hari-hari setelahnya terasa kosong.
Tidak ada lagi suara lembut yang membangunkannya.
Tidak ada lagi makanan hangat di meja.
Tidak ada lagi pelukan yang selalu menenangkan.
Hanya sunyi.
Dan rindu… yang tidak punya tempat pulang.
Suatu malam, Arka duduk sendirian di kamar.
Ia membuka sebuah kotak kecil milik ibunya.
Di dalamnya… ada surat.
Dengan tulisan tangan yang ia kenal sangat baik.
"Untuk Arka, anak Ibu yang paling kuat…"
"Kalau kamu baca ini, berarti Ibu sudah tidak ada di sampingmu."
Air mata Arka langsung jatuh.
Tangannya gemetar saat membaca.
"Maaf karena Ibu nggak bisa nemenin kamu lebih lama."
"Tapi Ibu mau kamu tahu…"
"Setiap langkahmu… Ibu lihat."
"Setiap air matamu… Ibu rasakan."
"Dan setiap kamu merasa sendirian…"
"Ingat ya… Ibu nggak pernah benar-benar pergi."
Arka menutup surat itu, menangis dalam diam.
Untuk pertama kalinya sejak kepergian ibunya… ia tersenyum kecil.
“Ibu… aku kangen…”
Ia menatap langit malam dari jendela.
“Kalau Ibu bisa lihat aku… aku janji akan jadi kuat.”
Dan sejak hari itu… Arka belajar satu hal—
Bahwa kehilangan memang menyakitkan.
Tapi cinta… tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berubah bentuk…
Menjadi kenangan,
menjadi doa,
dan menjadi kekuatan… untuk tetap bertahan.
✨ Kalimat penutup (paling menyentuh):
Orang yang kita cintai mungkin pergi… tapi cinta mereka akan selalu tinggal—di dalam hati kita, selamanya.