Namanya Raviel.
Dan dia mencintai seseorang yang doanya tidak pernah sama arah—Naresha.
Cinta mereka sederhana.
Berawal dari obrolan kecil di kampus, lalu tumbuh jadi kebiasaan saling mencari.
Tidak ada yang berlebihan… sampai akhirnya semuanya jadi terlalu dalam.
“Aku takut,” kata Naresha suatu hari.
“Takut apa?” tanya Raviel.
“Takut kita terlalu jauh… untuk sesuatu yang dari awal sudah tidak mungkin.”
Raviel diam.
Karena untuk pertama kalinya, dia sadar—cinta mereka punya batas yang tidak terlihat… tapi nyata.
Mereka mencoba bertahan.
Mengabaikan perbedaan.
Menghindari pembicaraan tentang masa depan.
Sampai akhirnya… kenyataan datang.
Keluarga.
Keyakinan.
Dan pilihan hidup.
“Aku nggak bisa ninggalin Tuhan aku…” suara Naresha bergetar.
Raviel mengangguk pelan.
“Aku juga.”
Tidak ada yang salah.
Tapi semuanya terasa menyakitkan.
Hari terakhir mereka tiba.
Di tempat biasa.
Di bangku yang sering jadi saksi tawa mereka.
Kali ini… hanya ada air mata.
“Kalau di kehidupan lain…” kata Raviel, suaranya hampir hilang,
“aku harap kita nggak harus milih.”
Naresha tersenyum sambil menangis.
“Kalau di kehidupan lain… aku tetap mau kamu. Tanpa syarat.”
Mereka berpelukan.
Untuk pertama… dan terakhir kalinya.
Mereka berpisah.
Tanpa saling membenci.
Tanpa saling menyalahkan.
Hanya dua hati yang memilih jalan masing-masing… dengan luka yang sama.
Beberapa tahun berlalu.
Raviel kini hidup tenang.
Begitu juga Naresha.
Mereka tidak bersama.
Tapi anehnya… mereka tidak pernah benar-benar kehilangan.
Karena cinta itu tidak berubah jadi benci.
Tidak juga hilang.
Ia hanya berubah bentuk—
Menjadi doa.
Suatu hari, tanpa sengaja, mereka bertemu lagi.
Di sebuah tempat umum.
Tatapan mereka bertemu.
Sunyi… tapi tidak canggung.
Raviel tersenyum.
“Naresha… kamu kelihatan bahagia.”
Naresha mengangguk.
“Kamu juga.”
Tidak ada tangisan.
Tidak ada penyesalan.
Hanya rasa hangat… seperti dua orang yang pernah saling menjadi rumah.
“Sampai kapanpun…” kata Raviel pelan,
“aku akan tetap mendoakan kamu.”
Naresha tersenyum lembut.
“Dan aku… selalu menyebut namamu dalam doa terbaikku.”
Mereka berjalan pergi.
Ke arah yang berbeda.
Tapi kali ini… tidak terasa menyakitkan seperti dulu.
Karena mereka tahu—
Mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama…
Tapi mereka pernah saling mencintai dengan cara yang paling benar.