Namanya Rendra.
Dan dia jatuh cinta pada seseorang yang doanya berbeda arah—Mikaela.
Mereka bertemu di perpustakaan, di antara rak buku yang sunyi dan debu yang menari di udara sore.
“Pinjam buku ini?” tanya Mikaela sambil tersenyum, menunjuk novel yang sama yang sedang dipegang Rendra.
Rendra mengangguk.
“Kalau kamu mau… kita bisa baca bareng.”
Dan dari kalimat sederhana itu… semuanya dimulai.
Hari-hari mereka dipenuhi tawa.
Membahas buku.
Bertukar cerita.
Dan diam-diam… saling jatuh cinta.
Sampai suatu hari, mereka berjalan melewati dua tempat yang berdiri berdampingan—
Masjid dan gereja.
Langkah mereka melambat.
Dan untuk pertama kalinya… mereka sadar.
“Aku ke sana,” kata Rendra, menunjuk masjid.
Mikaela tersenyum kecil. “Aku ke sini.”
Sunyi.
Tidak ada yang salah.
Tapi juga… tidak ada yang mudah.
“Apa kita harus berhenti?” tanya Mikaela suatu malam, suaranya bergetar.
Rendra menatapnya lama.
“Aku nggak pernah mau kehilangan kamu.”
“Tapi kita juga nggak bisa melawan semuanya…” air mata Mikaela jatuh.
Cinta mereka tumbuh… di tempat yang salah menurut banyak orang.
Keluarga mulai tahu.
Penolakan datang.
Tekanan semakin besar.
“Kalau kamu tetap sama dia, kamu bukan anak kami lagi.”
Kalimat itu menghantam Rendra seperti petir.
Di sisi lain, Mikaela juga berdiri di antara pilihan yang menghancurkan.
“Aku nggak mau kamu kehilangan Tuhanmu hanya karena aku…” katanya pelan.
Hari perpisahan itu datang tanpa aba-aba.
Tidak ada marah.
Tidak ada benci.
Hanya dua orang yang saling mencintai… tapi harus menyerah.
“Kita kalah ya…” bisik Rendra.
Mikaela menggeleng, meski air matanya jatuh tanpa henti.
“Kita nggak kalah… kita cuma memilih jalan yang benar menurut keyakinan kita.”
Rendra menggenggam tangan Mikaela untuk terakhir kalinya.
“Aku mencintaimu.”
Mikaela tersenyum pahit.
“Aku juga… tapi Tuhan kita meminta hal yang berbeda.”
Mereka berpisah di persimpangan jalan.
Satu menuju masjid.
Satu menuju gereja.
Dan sejak hari itu… mereka tidak pernah kembali.
Bertahun-tahun kemudian…
Rendra masih mengingat satu hal—
Bahwa cinta terhebat dalam hidupnya bukanlah yang ia miliki…
melainkan yang ia relakan.