Suara deru mesin jahit manual merek Butterfly itu terdengar ritmis, beradu dengan bising knalpot kendaraan yang melintasi kawasan Kemayoran saat jarum jam menunjuk angka sepuluh malam. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, seorang lelaki paruh baya bernama Pak Kardi duduk membungkuk di atas kursi kayu kecil yang kakinya sudah agak goyang. Di depannya, seonggok kain dan tumpukan celana jin menunggu sentuhan tangannya. Lapak Pak Kardi bukan ruko mewah dengan pendingin ruangan, melainkan hanya sebuah gerobak kayu yang dimodifikasi, mangkal tepat di pinggir trotoar, beralaskan aspal yang masih menyimpan sisa panas matahari siang tadi. Baginya, malam adalah waktu terbaik untuk menjemput rezeki; saat orang-orang pulang kerja dengan baju robek karena berdesakan di kereta atau resleting celana yang tiba-tiba jebol di tengah jalan.
"Bisa ditunggu, Pak?" tanya seorang pemuda yang turun dari ojek daring dengan wajah terburu-buru. Ia menyodorkan sebuah jaket kulit imitasi yang resletingnya sudah menganga.
Pak Kardi mendongak, memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot, lalu tersenyum tipis hingga kerutan di sudut matanya terlihat jelas. "Bisa, Mas. Tunggu sepuluh menit saja. Duduk dulu di situ," jawabnya sambil menunjuk sebuah bangku panjang yang ia sediakan bagi para pelanggannya. Dengan cekatan, jemari Pak Kardi yang kasar dan sering tertusuk jarum itu mulai bekerja. Ia menarik kepala resleting yang rusak, mengambil tang kecil untuk menjepit bagian gigi besi yang miring, dan dalam hitungan menit, jaket itu kembali fungsional. Untuk jasa secepat dan sepresisi itu, Pak Kardi hanya mematok harga dua puluh ribu rupiah. Sebuah harga yang menurut banyak orang sangat murah di tengah kota yang kian mahal, namun bagi Pak Kardi, angka itu adalah penyambung napas yang sangat berarti.
Dua puluh ribu rupiah mungkin bagi sebagian orang hanyalah harga segelas kopi kekinian, namun di tangan Pak Kardi, setiap lembar uang itu dikumpulkan dengan penuh ketelatenan. Dari satu jahitan ke jahitan lain, ia merajut asa untuk membayar kontrakan kecil di gang sempit tak jauh dari sana, membeli beras, dan mengirimkan sisanya untuk sekolah anaknya di kampung. Suka duka menjadi penjahit pinggir jalan sudah ia telan mentah-mentah. Mulai dari debu jalanan yang menempel di paru-paru, hingga razia petugas yang sesekali membuatnya harus mengemasi mesin jahitnya dengan tergesa-gesa. Namun, ada satu hal yang membuatnya bertahan: rasa dibutuhkan. Kemayoran tidak pernah tidur, dan orang-orang yang mengalami "kecelakaan mode" di malam hari selalu tahu ke mana harus mencari pertolongan darurat.
Tak jarang, Pak Kardi menghadapi pelanggan yang unik. Suatu malam, seorang ibu-ibu datang dengan napas tersengal membawa gaun pesta yang sobek di bagian ketiak. "Aduh Pak Kardi, tolonglah! Saya mau kondangan besok pagi, baru sadar bajunya sobek. Tukang jahit di komplek semua sudah tutup," keluh ibu itu. Dengan tenang, Pak Kardi mengambil benang yang warnanya paling mendekati, memasukkannya ke lubang jarum dengan sekali coba—sebuah keahlian yang lahir dari pengalaman puluhan tahun—dan mulai menambal lubang itu dengan jahitan yang nyaris tak terlihat. Ibu itu sangat puas, bahkan memberikan uang lebih sebagai tanda terima kasih. Namun, ada juga duka yang menyayat hati, seperti saat ia mengerjakan baju milik seorang buruh pabrik yang hanya punya uang sepuluh ribu rupiah. Pak Kardi, dengan kedermawanan orang kecil yang sering kali lebih luas dari orang kaya, tetap mengerjakan jahitan itu dengan hasil terbaik tanpa meminta kekurangan bayarannya.
Prinsip Pak Kardi sederhana: ia bukan hanya membenarkan pakaian, tapi juga membenarkan hati orang yang sedang cemas. Sering kali, sambil menunggu jahitan selesai, para pelanggan akan bercerita tentang masalah hidup mereka. Lapak jahitnya berubah menjadi ruang pengakuan dosa sekaligus tempat konseling singkat. Ada mahasiswa yang bercerita tentang skripsinya yang macet, ada sopir truk yang rindu rumah, hingga karyawan kantor yang baru saja kena tegur bosnya. Pak Kardi mendengarkan semua itu sambil kakinya terus mengayuh pedal mesin jahit. Baginya, setiap resleting yang macet punya analogi dengan hidup; kadang hanya perlu sedikit pelumas atau tarikan yang tepat agar bisa berjalan lancar kembali.
Kadang-kadang, rekan sesama penjahit atau orang yang ingin belajar menjahit datang menghampirinya. Pak Kardi tidak pelit ilmu. Ia sering membiarkan pemuda pengangguran di sekitar situ untuk melihat bagaimana ia memotong kain atau memasang kancing. "Kalau mau belajar, sini. Asal sabar, tanganmu bisa menghasilkan uang," begitu katanya. Ia percaya bahwa rezeki tidak akan tertukar, meski di sepanjang jalan itu mungkin ada penjahit lain. Semangat saling membantu ini membuat lapaknya selalu terasa hangat, meski angin malam Kemayoran cukup menusuk tulang.
Pernah suatu ketika, hujan turun dengan sangat deras. Pak Kardi terpaksa menutupi mesin jahitnya dengan plastik lebar, berdiri mematung di bawah emperan toko yang tutup sambil berharap air tidak merusak peralatan kerjanya. Di saat sepi seperti itu, ia sering teringat masa mudanya di desa, di mana ia belajar menjahit dari sisa-sisa kain perca milik ibunya. Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia merasa bangga bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus meminta-minta. Setiap pakaian yang berhasil ia perbaiki adalah kemenangan kecil baginya. Ia merasa seperti seorang dokter bedah kain yang menyelamatkan pakaian-pakaian kesayangan orang agar tidak berakhir di tempat sampah.
Ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur Kemayoran, Pak Kardi baru mulai membereskan peralatannya. Matanya mungkin merah karena kurang tidur, dan punggungnya terasa pegal luar biasa, namun kantong celananya yang berisi beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan memberinya kekuatan untuk pulang. Hidup dari jahitan ke jahitan memang tidak membuatnya kaya raya secara materi, tetapi ia kaya akan rasa syukur. Baginya, selama masih ada orang yang butuh memendekkan celana atau mengganti resleting, selama itulah dapur di rumahnya akan tetap mengepul. Di bawah langit Jakarta yang luas, Pak Kardi adalah pahlawan sunyi yang merajut robekan-robekan kecil dalam keseharian warga kota, satu tusukan jarum pada satu waktu. Ia adalah bukti bahwa ketekunan di pinggir jalan bisa menjadi fondasi hidup yang kokoh, sekuat jahitan dobel pada celana jin yang baru saja ia selesaikan.