Malam itu, aroma lisin di lorong rumah sakit terasa seperti bau kematian. Aku baru saja melepas sarung tangan karet setelah sif panjang di unit ambulans ketika jeritan melengking memecah keheningan bangsal Flamboyan. Itu bukan jeritan kesakitan persalinan, melainkan jeritan kehilangan yang paling purba.
"Di mana bayiku?! Tadi suster itu bilang mau imunisasi, tapi kenapa dia lewat pintu belakang?!"
Aku berlari menuju sumber suara. Di sana, Sarah, seorang ibu yang wajahnya masih pucat pasi pasca-operasi, berdiri sempoyongan dengan selang infus yang tercabut paksa. Darah menetes dari punggung tangannya, tapi ia tak peduli. Matanya liar, menatap kosong ke arah boks bayi yang kosong melompong.
Lalu, jantungku seolah berhenti berdetak. Di ujung koridor yang remang, aku melihat Melani—istriku, ibu dari ketiga anakku—tengah menggendong sebuah tas jinjing besar dengan gerak-gerik yang sangat asing. Ia tidak berjalan tenang seperti suster pada umumnya; ia mengendap-endap.
"Melani?" suaraku parau.
Ia menoleh. Kelebat ketakutan di matanya adalah jawaban yang paling jujur. Sebelum ia sempat melangkah ke arah parkiran, dua orang satpam dan seorang dokter jaga sudah mencegatnya. Tas itu dibuka paksa. Di dalamnya, meringkuk seorang bayi mungil yang mulutnya disumpal kain kasa halus agar tak bersuara.
"Astagfirullah, Melani! Apa yang kamu lakukan?!" teriakku. Duniamu runtuh seketika.
---
Hanya dalam hitungan jam, tragedi itu meledak. Sarah bukan sekadar pasien biasa; dia adalah seorang influencer dengan jutaan pengikut. Sambil menangis sesenggukan dan masih mengenakan baju pasien, ia melakukan Live Streaming di depan ruang penyidik.
"Lihat wajah wanita ini!" Sarah mengarahkan kamera ponselnya ke arah Melani yang sedang diborgol. "Dia suster! Dia malaikat yang seharusnya menjaga nyawa anakku! Tapi dia mau menjual bayiku seharga lima puluh juta rupiah ke sindikat perdagangan manusia! Kalian harus tahu, suaminya juga kerja di sini sebagai paramedis! Jangan-jangan mereka satu komplotan!"
Komentar netizen menghujani layar seperti badai api.
“Suster iblis! Hukum mati!” “Hati-hati di RS Permata Bunda, paramedisnya sindikat jual beli organ dan bayi!” “Kasihan bapaknya, tapi masa dia nggak tahu kelakuan istrinya? Pasti ikut makan uang haram!”
Aku duduk di sudut ruangan, memegangi kepala yang terasa mau pecah. Ponselku bergetar tanpa henti. Pesan dari grup WhatsApp sekolah anakku mulai bermunculan. Ibu-ibu wali murid mulai meminta anak-anakku dikeluarkan karena takut "menular."
"Mel, bicara padaku..." bisikku saat kami diberi waktu dua menit di ruang mediasi. "Tiga anak kita butuh makan, Mel. Si sulung besok bayar uang ujian. Si bungsu butuh susu. Kenapa kamu lakukan ini? Apa gajiku dan gajimu kurang?"
Melani menatapku dengan mata yang sudah kehilangan cahaya. "Kurang, Mas? Kamu tanya kurang?" suaranya meninggi, pecah oleh tangis. "Kamu cuma tahu kita makan tiap hari. Kamu nggak tahu penagih hutang datang ke rumah setiap kamu sif malam! Aku nekat pinjam pinjol buat menutupi biaya renovasi atap kita yang roboh tahun lalu! Bunganya menggulung, Mas! Mereka mengancam akan menyebarkan foto anak-anak kita!"
"Tapi bukan begini caranya, Melani!" aku memukul meja. "Kita bisa bicara! Kita bisa jual motor, kita bisa hidup lebih prihatin!"
"Bicara?" Melani tertawa getir. "Kamu terlalu sibuk jadi pahlawan di jalanan dengan ambulansmu sampai lupa kalau istrimu di rumah sedang tenggelam dalam lumpur. Sindikat itu datang menawarkan solusi saat aku hampir gila. Satu bayi, hutangku lunas. Aku hanya ingin kita tenang, Mas..."
"Tenang?" aku berdiri, air mataku menetes. "Sekarang anak-anak kita tidak punya Ibu. Dan aku... aku mungkin akan dipecat karena namaku ikut terseret dalam video viral Sarah. Kamu tidak menyelamatkan keluarga kita, Mel. Kamu baru saja membakar rumah kita sampai jadi abu."
---
Keesokan harinya, rumah kami dikepung. Bukan oleh musuh, tapi oleh rasa malu. Netizen yang maha tahu berhasil menemukan alamat rumah kami. Corat-coret "Rumah Penculik Bayi" menghiasi pagar.
Aku harus menghadapi kenyataan pahit saat si tengah, yang baru berusia sepuluh tahun, bertanya padaku dengan mata berkaca-kaca, "Ayah, apa benar Ibu jahat? Teman-teman bilang Ibu tukang jual orang."
Aku memeluknya erat, mencium keningnya sambil menahan sesak di dada. "Ibu hanya sedang tersesat, Nak. Sangat, sangat tersesat."
Di rumah sakit, pihak manajemen memintaku mengundurkan diri untuk "menjaga reputasi." Aku keluar dari gerbang rumah sakit dengan seragam yang sudah kulepas lencananya. Di gerbang, aku berpapasan dengan Sarah yang hendak pulang membawa bayinya.
Wanita itu berhenti. Ia menatapku dengan kebencian mendalam, lalu meludah ke samping. "Sampaikan pada istrimu, nyawa anakku bukan barang dagangan. Kalian berdua pantas membusuk di neraka kemiskinan."
Aku tidak membalas. Aku hanya menunduk. Aku tahu, secara hukum aku mungkin bersih. Namun secara moral, aku merasa gagal. Aku gagal melihat kegelapan yang tumbuh di balik senyum istriku setiap kali ia berangkat kerja dengan seragam putihnya yang bersih.
Kini, dengan tiga anak yang perutnya harus tetap diisi dan nama baik yang sudah hancur lebur di tangan netizen, aku harus memulai hidup dari nol. Tanpa Melani. Tanpa pekerjaan. Hanya dengan sisa-sisa harga diri yang nyaris habis terkikis oleh ambisi salah jalan seorang wanita yang kupanggil istri.
Setiap malam, saat aku menatap boks bayi kosong di rumah sakit yang kini menghantuiku, aku sadar: uang memang bisa dicari, tapi nurani yang sudah dijual takkan pernah bisa dibeli kembali, berapapun harga yang ditawarkan sindikat dunia.