Malam itu, lilin aromaterapi beraroma lavender masih menyala tenang di sudut kamar pengantin. Vina, dengan piyama satin merah mudanya, duduk di tepi ranjang sambil memandangi cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Seminggu sudah ia menyandang status sebagai istri Dery, pria tampan nan kalem yang ia temui di sebuah pameran buku dua bulan lalu. Dery adalah definisi pria idaman: rahang tegas (meski selalu ditutupi sedikit brewok tipis yang katanya hasil perawatan), suara bariton yang lembut, dan selalu memakai parfum kayu yang maskulin.
Namun, ada satu keganjilan yang mulai membuat Vina sedikit sebal. Selama seminggu menikah, Dery selalu mandi dengan pintu dikunci rapat, memakai baju kurung saat tidur dengan alasan "dingin karena AC," dan yang paling aneh, setiap kali Vina ingin bermanja-manja di bawah selimut, Dery selalu beralasan sedang sakit pinggang atau—ini yang paling tidak masuk akal—sedang "puasa lahir batin" demi keberkahan rumah tangga.
"Mas, masa sudah seminggu kita cuma pelukan kayak Teletubbies?" protes Vina suatu pagi.
Dery hanya tersenyum tipis, merapikan kemeja flanelnya yang selalu dikancing sampai leher. "Sabar, Sayang. Mas ingin menjaga kesucian momen kita sampai benar-benar siap secara spiritual."
Vina hanya bisa mengeluh dalam hati. Pria ini terlalu suci atau aku yang terlalu agresif? batinnya.
Pagi itu, petaka (atau komedi putar kehidupan) dimulai. Saat Dery sedang mandi, ponselnya tertinggal di atas meja rias. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tanpa nama: "Deryana, kapan mau pulang ke Lampung? Ibu kangen. Bra yang kamu pesan di online shop sudah sampai di rumah."
Vina mengernyit. Deryana? Bra?
Mungkin itu salah sambung, pikir Vina. Namun, rasa penasaran yang mematikan mulai merayap. Ia mencoba membuka laci paling bawah lemari pakaian Dery yang selalu terkunci. Berbekal kunci cadangan yang ia temukan di gantungan dapur, Vina memutar lubang kunci itu. Klik.
Isi laci itu bukan berisi dokumen penting perusahaan atau koleksi jam tangan. Isinya adalah: tiga buah korset ketat ukuran kecil, beberapa botol hormon, dan sebuah dompet kecil berisi KTP asli yang terjatuh dari selipan kain. Vina memungut KTP itu dengan tangan gemetar.
Nama: Deryana Putri
Jenis Kelamin: Perempuan
Dunia Vina serasa runtuh sekaligus meledak dalam tawa histeris yang tertahan. Ia melihat foto di KTP itu—wajah Dery tanpa brewok tempelan yang ternyata sangat cantik dan feminin. "Jadi... selama ini aku menikah dengan... mbak-mbak?" gumam Vina antara ingin menangis dan ingin tertawa kencang sampai paru-parunya copot.
Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Dery keluar dengan handuk melilit leher, memperlihatkan sedikit bagian leher yang tak memiliki jakun. Vina berdiri, mengangkat KTP itu tinggi-tinggi.
"Mas Dery... atau harus kupanggil Mbak Deryana?" suara Vina bergetar.
Wajah Dery memucat. Ia mencoba meraih KTP itu, namun Vina menghindar. "Vin, aku bisa jelaskan. Aku cinta kamu! Aku cuma merasa jiwaku ini pria, dan aku takut kehilanganmu kalau aku jujur!"
"Takut kehilangan? Kita sudah pesta besar-besaran, Mas! Eh, Mbak! Ibu bapakku sudah pamer ke seluruh kampung kalau menantunya pria mapan nan gagah!" Vina mulai histeris. "Brewok itu... itu apa? Maskara? Atau bulu kucing?"
"Itu brewok sintetis impor dari Korea, Vin... mahal itu," jawab Deryana dengan suara yang tiba-tiba melengking, kehilangan nada bariton buatannya.
Kegaduhan itu memancing Ibu Vina, Bu Ratna, yang kebetulan sedang mengantar rantang makanan ke rumah baru mereka. Tanpa mengetuk, Bu Ratna masuk ke kamar. "Ada apa sih ribut-ribut? Vina, kok suamimu ditunjuk-tunjuk?"
Vina langsung menyodorkan KTP asli tersebut ke wajah ibunya. "Bu, lihat ini! Menantu idaman Ibu ternyata punya rahim!"
Bu Ratna memakai kacamata plusnya, membaca KTP itu, lalu menatap Deryana yang kini menunduk lemas. Bu Ratna terdiam selama lima detik, lalu tiba-tiba ia jatuh terduduk di atas ranjang. "Pantesan... pantesan kemarin Ibu lihat dia kencingnya jongkok di toilet belakang! Ibu pikir dia pria yang sangat higienis!"
Tangisan Vina pecah, tapi di sela isakannya, ia malah tertawa mengingat betapa bodohnya dirinya selama dua bulan pacaran. Ia teringat saat mereka berkencan ke bioskop, Deryana selalu memakai jaket tebal meski udara panas. Ia juga ingat bagaimana Deryana selalu menghindar jika diajak berenang.
"Kamu pakai apa buat nipu KTP di KUA?" tanya Vina geram.
"Aku bayar orang buat edit KTP, Vin... Namanya tetap Dery, tapi jenis kelaminnya diubah jadi laki-laki. Aku nggak tahu kalau bakal sejauh ini," Deryana mulai menangis sesenggukan. "Aku cuma mau ngerasain gimana rasanya dicintai sebagai pria oleh wanita sehebat kamu."
"Tapi kamu wanita, Deryana! Kita nggak bisa bikin anak! Kita cuma bisa bikin... grup vokal!" teriak Vina frustrasi.
Berita ini dalam sekejap menyebar ke keluarga besar. Sore harinya, rumah itu sudah seperti kapal pecah. Ayah Vina, seorang pensiunan tentara, duduk di kursi ruang tamu dengan wajah merah padam, sementara di depannya, Deryana duduk bersimpuh—kali ini tanpa brewok tempelannya dan tanpa suara bariton.
"Jadi," Ayah Vina berdehem, suaranya menggelegar. "Kamu yang setiap pagi saya ajak ngopi dan bicara soal politik itu ternyata adalah seorang perempuan bernama Deryana?"
"Iya, Pak," jawab Deryana lirih.
"Pantas saja pas saya kasih cerutu, kamu langsung batuk-batuk sampai mau pingsan," lanjut Ayah Vina. Ia lalu menoleh ke arah istrinya. "Bu, panggil Pak RT. Batalkan pernikahan ini. Ini bukan pernikahan, ini penipuan publik!"
Vina duduk di sudut ruangan, memandangi foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding. Di foto itu, Deryana terlihat sangat gagah dengan jas hitam. Siapa sangka di balik jas itu tersimpan rahasia yang melampaui logika sinetron manapun.
Sebal? Tentu saja. Vina merasa harga dirinya diinjak-injak. Sedih? Pasti, karena ia benar-benar mencintai karakter "Dery." Tapi entah kenapa, setiap kali ia melihat wajah Deryana yang sekarang terlihat sangat "mbak-mbak" sedang dimarahi ayahnya, Vina malah ingin tertawa.
"Vin, maafin aku," Deryana mencoba mendekati Vina.
"Jangan dekat-dekat!" Vina menghalau dengan bantal. "Aku nggak habis pikir, selama dua bulan kita jalan, kamu nggak pernah lupa nempel brewok itu? Nggak gatal apa?"
"Gatal, Vin. Setiap malam aku garuk-garuk pakai garpu kalau kamu sudah tidur," jawab Deryana jujur yang malah membuat seisi ruangan hening sebelum akhirnya Bu Ratna meledak tertawa karena saking stresnya.
Kisah pernikahan seminggu itu berakhir di kantor polisi dan kantor urusan agama untuk pembatalan. Vina menjadi janda bukan karena cerai atau ditinggal mati, melainkan karena suaminya "bermutasi" kembali ke kodratnya. Seluruh pembaca di media sosial yang mendengar berita ini hanya bisa berkomentar: "Plot twist terdahsyat tahun ini!"
Vina akhirnya mencoba ikhlas. Meski hatinya hancur dan rasa malunya setinggi gunung, ia belajar satu hal penting: sebelum menikah, pastikan cek KTP yang asli dan kalau perlu, ajak calon suamimu berenang bersama di siang bolong.