Dunia seolah berputar dengan poros yang salah. Di saat Rissa Sarasvati harus menyeret langkahnya yang lunglai keluar dari rumah sakit dengan rahim yang kosong dan jiwa yang mati, Samuel Zola justru tampak mencapai puncak kejayaannya sebagai pria.
Sam, yang kini sudah secara resmi menjadikan Erma sebagai istri keduanya—meski secara hukum negara status Rissa masih menggantung—menjelma menjadi sosok yang makin terobsesi pada raga. Pengaruh teluh Erma tak hanya merusak logika Sam, tapi juga menyuntikkan energi liar yang tidak wajar ke dalam tubuh pria itu. Sam menjadi sangat gila berolahraga. Setiap pagi dan malam, ia menghabiskan waktu berjam-jam di dalam *home gym* mewah mereka.
Otot-otot di lengan dan dadanya makin menyembul keras, urat-urat menonjol di balik kulitnya yang kecokelatan, dan bulu-bulu lebat di dadanya selalu basah oleh keringat yang menurut Erma adalah aroma kejantanan paling memabukkan. Sam terlihat lebih muda, lebih garang, dan jauh lebih buas.
"Lihat suamimu, Rissa," bisik Erma suatu sore saat mereka berpapasan di lorong menuju dapur. Erma mengenakan pakaian olahraga yang sangat ketat dan minim, sengaja memamerkan lekuk tubuhnya yang masih kencang. "Dia makin perkasa tiap hari. Dan tebak siapa yang menikmati semua energi itu tiap malam? Bukan wanita layu dan berwajah rusak sepertimu."
Rissa hanya diam. Ia memegang pinggiran meja untuk menopang tubuhnya yang makin kurus. Wajahnya masih dipenuhi bercak hitam akibat kiriman sihir Erma yang tak kunjung henti. Ia merasa seperti berjalan di tengah kabut duri. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia teringat dinginnya ruang operasi saat bayi dalam kandungannya dikeluarkan dalam keadaan tak bernyawa.
***
Malam itu, keributan kembali pecah. Sam baru saja pulang dari tempat latihan beban dengan sisa adrenalin yang masih meluap. Ia masuk ke kamar Rissa—kamar yang kini lebih mirip gudang karena Sam telah memindahkan semua barang bagus ke kamar Erma.
"Mana suplemen protein yang aku beli kemarin?!" bentak Sam. Ia berdiri di ambang pintu, tampak sangat besar dan mengintimidasi dengan kaus singlet yang nyaris robek menahan beban otot bahunya.
Rissa yang sedang duduk di atas sajadah, baru saja menyelesaikan salat Isya-nya, menoleh pelan. "Aku tidak tahu, Mas. Mungkin dipindahkan oleh asisten rumah tangga atau... oleh Erma."
Mendengar nama Erma, mata Sam mendadak merah. Ia melangkah maju, mencengkeram rahang Rissa dengan tangan besarnya yang kasar dan kuat. "Jangan berani-berani menuduh Erma! Dia wanita sempurna, tidak seperti kau yang bisanya cuma berdoa tapi bawa sial! Gara-gara kau, anakku mati! Kau wanita terkutuk, Rissa!"
Rissa memejamkan mata. Air mata jatuh mengenai punggung tangan Sam. "Anak itu mati karena perbuatan istrimu yang lain, Mas. Tidakkah kau bisa melihat sedikit saja kebenaran?"
*Plak!*
Tamparan keras mendarat di pipi Rissa yang sudah rapuh. Tubuhnya tersungkur ke lantai. Sam menatapnya dengan pandangan jijik, seolah-olah Rissa adalah tumpukan sampah. Sam kemudian berbalik dan pergi, membanting pintu hingga engselnya goyah. Di luar, Rissa bisa mendengar suara Erma yang tertawa manja, menyambut Sam dengan pelukan, memuji betapa hebatnya otot-otot Sam malam itu.
Rissa meringkuk di atas lantai yang dingin. Di titik itulah, sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia coba pertahankan—rasa sabar, harapan bahwa Sam akan berubah, keinginan untuk berbakti—tiba-tiba retak dan hancur menjadi debu.
***
Keesokan harinya, Rissa bangkit. Ia tidak lagi menangis. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia merangkak menuju cermin. Ia menatap wajahnya yang hancur, lalu menatap perutnya yang kini rata namun menyimpan trauma yang dalam.
*Cukup,* batinnya. *Tuhan tidak meminta hamba-Nya untuk menyerahkan diri pada kezaliman tanpa batas.*
Rissa mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam satu koper kecil. Ia tidak mengambil satu pun perhiasan pemberian Sam, tidak juga baju-baju mahal yang dulu ia banggakan. Ia hanya membawa Al-Qur'an kecil, foto hasil USG bayinya yang terakhir, dan harga dirinya yang mulai ia punguti satu per satu.
Saat ia hendak melangkah keluar dari gerbang rumah, Sam sedang berada di teras, sedang melakukan *push-up* dengan Erma yang duduk dengan santai di atas punggungnya sebagai beban tambahan. Pemandangan itu begitu sinematik sekaligus menyakitkan; seorang suami yang memamerkan keperkasaannya di atas penderitaan istri pertamanya.
"Mau kemana kau, mayat hidup?" tanya Sam tanpa menghentikan gerakannya. Napasnya menderu kuat, menunjukkan betapa primanya kondisi fisiknya.
Rissa berhenti. Ia menatap punggung suaminya yang lebar dan berkeringat. "Aku pergi, Mas. Aku sudah menandatangani surat cerai yang kau berikan tempo hari. Aku tidak butuh apa-apa darimu. Simpan saja semua hartamu untuk membiayai dukun-dukun istrimu."
Erma tertawa sinis dari atas punggung Sam. "Baguslah kalau tahu diri. Rumah ini jadi lebih wangi tanpa bau kematian dari rahimmu."
Rissa menarik napas panjang. Ia menatap mata Sam yang sesaat tampak goyah—seolah-olah bagian kecil dari jiwa Sam yang asli mencoba berteriak—namun segera tertutup kembali oleh kabut hitam teluh.
"Mas Sam," suara Rissa mendadak tenang dan sangat dalam. "Dulu aku mencintai dada bidangmu karena itu adalah tempatku merasa paling aman di dunia. Tapi sekarang, aku melihat dadamu hanya seperti tembok batu yang dingin dan mati. Keperkasaanmu itu palsu, Mas. Itu hanya topeng yang menutupi jiwamu yang sudah dirantai oleh setan."
Sam berhenti bergerak. Ia berdiri, otot-ototnya menegang. Ia hendak maju untuk menyerang Rissa kembali, namun langkahnya tertahan. Ada sesuatu dalam ketenangan Rissa yang membuatnya mendadak merasa kerdil, meski tubuhnya dua kali lebih besar dari Rissa.
"Selamat tinggal, Samuel Zola. Terima kasih telah memberiku pelajaran bahwa cinta sejati tidak akan pernah berpoligami dengan kegelapan. Dan untukmu, Erma... nikmatilah sisa-sisa tubuh pria ini. Karena ketika sihirmu luntur, yang tersisa hanyalah pria yang hancur karena dosanya sendiri."
Rissa berbalik, menyeret kopernya keluar dari gerbang. Ia berjalan di trotoar jalanan Jakarta yang panas, tanpa tahu harus kemana. Ia tidak memiliki apa-apa lagi, namun untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa udara yang masuk ke paru-parunya tidak lagi terasa seperti duri.
Di belakangnya, di dalam rumah mewah itu, Sam berdiri mematung di tengah teras. Dadanya yang bidang naik turun dengan cepat. Sesuatu di dalam rahim Rissa yang mati seolah meninggalkan lubang hitam di dalam hati Sam yang mulai terasa perih, meski Erma terus mengelus otot lengannya dan membisikkan kata-kata manis yang beracun.
Rissa terus berjalan, meninggalkan kemegahan yang palsu, menuju sebuah senja di mana ia berjanji pada jabang bayinya di surga: bahwa ibunya tidak akan lagi membiarkan dirinya dihancurkan oleh siapa pun. Kisah ini berakhir dengan bayang-bayang Rissa yang makin menjauh, sementara Sam tetap berdiri gagah di istananya yang sebenarnya adalah penjara paling mengerikan di dunia.