Malam di kawasan elite Jakarta Selatan itu biasanya senyap, namun di balik dinding marmer kediaman Zola, suara pecahan kaca baru saja merobek keheningan. Rissa Sarasvati bersimpuh di atas lantai dingin, jemarinya yang gemetar mencoba mengumpulkan serpihan vas bunga yang hancur. Di depannya, berdiri seorang pria yang dulu ia puja sebagai pelabuhan terakhirnya: Samuel Zola.
Sam—begitu ia akrab disapa—masih tampak gagah perkasa. Kemeja sutranya yang terbuka di bagian atas memperlihatkan dada bidangnya yang kokoh dengan bulu-bulu lebat yang dulu sering menjadi tempat Rissa menyandarkan kepala. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas adalah definisi sempurna dari maskulinitas. Namun, mata yang dulu menatap Rissa dengan penuh cinta, kini hanya menyisakan kilatan kebencian yang buas dan gelap.
"Kau hanya bisa menangis, Rissa! Lihat dirimu, kau menjijikkan!" bentak Sam. Suaranya menggelegar, bergetar karena amarah yang tidak masuk akal.
Rissa menunduk. Ia melirik cermin besar di sudut ruangan. Bayangan yang terpantul di sana bukan lagi Rissa yang dulu—seorang model cantik dengan kulit porselen dan rambut berkilau. Akibat serangan "sakit" aneh yang menyerangnya sejak enam bulan lalu, wajah Rissa kini dipenuhi bercak hitam yang meradang. Tubuhnya yang semula ramping kini tampak bengkak dan layu secara tidak wajar. Rambutnya rontok hebat. Ia tampak seperti wanita yang menua tiga puluh tahun hanya dalam hitungan bulan.
Perubahan itu bukan karena medis. Rissa merasakannya. Setiap malam, ia merasa ribuan jarum tak kasat mata menusuk-nusuk rahimnya yang kini tengah mengandung buah hati mereka yang berusia lima bulan.
***
Semua neraka ini bermula saat Erma masuk ke dalam hidup Sam sebagai asisten pribadi. Erma adalah kontras dari Rissa saat ini. Ia cantik dengan kecantikan yang tajam, tubuhnya sangat seksi dan selalu dibalut pakaian yang menonjolkan setiap lekuknya. Namun, ada yang ganjil dari Erma. Wangi tubuhnya selalu berbau kemenyan yang disamarkan dengan parfum mawar yang menyengat.
Rissa pernah menemukan bungkusan kain kafan berisi rambut dan paku di bawah tempat tidurnya. Namun saat ia mengadu, Sam justru menamparnya. Sam telah sepenuhnya dikuasai oleh teluh Erma. Logika pria itu mati. Baginya, Erma adalah dewi, dan Rissa adalah parasit yang mengganggu hidupnya.
Puncaknya adalah saat Sam memutuskan untuk berpoligami secara sepihak. Ia memboyong Erma ke rumah itu, tinggal satu atap dengan Rissa. Setiap malam, Rissa harus menahan pedih yang luar biasa saat mendengar tawa manja Erma dari kamar utama—kamar yang dulu miliknya. Sam lebih sering menghabiskan waktu bermain di atas tubuh Erma yang dianggapnya lebih menggairahkan, sementara Rissa dibiarkan membusuk di kamar belakang dengan janin yang terus melemah.
***
"Mas... tolong, perutku sakit sekali," rintih Rissa suatu malam, merangkak menuju pintu kamar Sam dan Erma.
Pintu terbuka. Sam muncul hanya dengan mengenakan celana kain, menampakkan otot-otot perutnya yang sempurna. Di belakangnya, Erma bersandar di kepala ranjang dengan gaun tidur transparan, tersenyum sinis sambil mengelus sebuah boneka jerami kecil di balik bantalnya.
"Jangan berakting, Rissa! Kau hanya iri karena aku ingin bersama Erma," Sam menendang tangan Rissa yang mencoba menggapai kakinya. "Wajahmu itu membuatku mual. Urus dirimu sendiri!"
Sam membanting pintu. Di balik pintu itu, tawa Erma pecah. Rissa tergeletak di koridor, merasakan cairan hangat merembes di antara paha dalamnya. Darah. Darah yang pekat dan berbau busuk.
Rissa mencoba melawan. Dalam hatinya, ia terus merapalkan doa, mencoba menghalau energi hitam yang ia tahu sedang dikirimkan Erma melalui teluhnya. *“Ya Tuhan, jaga bayiku...”* batinnya menjerit. Ia berusaha bangkit, namun tubuhnya terasa seberat timah. Pengaruh sihir itu begitu kuat, mengikat setiap sendi dan menghancurkan sel-sel di rahimnya.
***
Seminggu kemudian, Rissa dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Dokter memberikan vonis yang menghancurkan dunianya: "Maaf, Ny. Rissa. Bayi Anda sudah meninggal di dalam kandungan. Tampaknya ada infeksi yang sangat tidak lazim yang menyebabkan janinnya membusuk secara tiba-tiba."
Rissa tidak menangis. Matanya kosong. Dunianya telah mati bersama jabang bayinya. Saat ia tersadar dari pengaruh bius pasca-operasi kuret, orang pertama yang ia lihat adalah Erma yang datang sendirian ke ruang rawatnya.
Erma berdiri di samping ranjang, membungkuk pelan dan berbisik di telinga Rissa. "Kau lihat? Rahimmu sudah menjadi kuburan. Sam tidak akan pernah menyentuh wanita yang membawa maut dalam perutnya. Kau kalah, Rissa. Teluhku sudah mengakar di jantung suamimu."
"Kenapa kau lakukan ini?" suara Rissa parau, nyaris hilang.
"Karena kau punya segalanya yang tidak aku punya. Tapi sekarang, kau hanya punya penderitaan," Erma tertawa kecil, lalu melenggang pergi dengan langkah anggun yang menggoda.
***
Sam datang dua hari kemudian. Bukannya memeluk atau menghibur istrinya yang baru kehilangan anak, ia justru membawa selembar surat.
"Tanda tangani ini. Aku sudah tidak tahan hidup dengan wanita pembawa sial sepertimu," ucap Sam dingin. Surat cerai.
Rissa menatap Sam, pria yang dada bidangnya dulu menjadi tempat ia merasa paling aman. Kini, pria itu tampak seperti monster yang asing. Mata Sam tampak berkabut, tanda bahwa pengaruh teluh Erma sudah merusak saraf-saraf kesadarannya.
"Mas Sam... bayi kita meninggal. Tidakkah kau merasa kehilangan sedikit saja?" tanya Rissa dengan air mata yang akhirnya jatuh membasahi wajahnya yang rusak.
"Bayi itu mungkin bahkan bukan anakku. Lihat rupamu, mana mungkin aku sudi menyentuhmu kalau bukan karena terpaksa?" Sam mencibir.
Kata-kata itu lebih tajam dari sembilu. Rissa mengambil pena dengan tangan gemetar. Ia menyadari satu hal: Sam yang ia cintai sudah tidak ada di sana. Tubuh gagah itu kini hanyalah wadah bagi kebencian yang dipicu oleh sihir hitam. Rissa berusaha melawan teluh itu dengan kasih sayangnya selama berbulan-bulan, mencoba mengubah perangai Sam dengan kesabaran, namun semuanya zonk. Sia-sia.
Saat tanda tangan itu tergores, Rissa merasa seolah rantai gaib yang selama ini menjeratnya mulai mengendur, meski hatinya hancur berkeping-keping.
***
Rissa keluar dari rumah sakit sendirian. Ia menatap langit sore yang mendung. Ia kehilangan kecantikannya, ia kehilangan harga dirinya sebagai istri karena dipoligami dan dikhianati, dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan haknya untuk menjadi seorang ibu.
Di rumah besar itu, Sam mungkin sedang berpesta di atas penderitaannya, bercumbu dengan Erma yang merasa telah memenangkan segalanya. Namun, Rissa tahu, sesuatu yang dibangun di atas teluh dan air mata tidak akan bertahan lama.
Rissa berjalan tertatih, meninggalkan semua kemewahan yang kini terasa seperti racun. Ia membawa luka di rahim dan di jiwanya, sebuah kisah pedih tentang kesetiaan yang dikalahkan oleh kegelapan, dan cinta yang mati di tangan nafsu yang tersihir. Di bawah hujan yang mulai turun, Rissa Sarasvati bersumpah akan menyembuhkan dirinya sendiri, meski ia tahu, lubang di hatinya akibat kehilangan bayinya tak akan pernah bisa tertutup selamanya.