Gerimis di pemakaman itu belum juga reda, seolah langit ingin ikut membasuh nisan kayu yang masih basah. Di sana, tertulis nama Maya Pramesti. Kakak kandungku. Separuh jiwaku. Dan di samping nisan itu, berdiri seorang pria yang bahunya bergetar hebat, mendekap seorang bayi mungil yang tertidur lelap dalam balutan selimut bulu.
Pria itu adalah Aldy Ferdian. Kakak iparku. Sekaligus pria yang, lima tahun lalu, adalah pemilik masa depanku sebelum takdir membelokkan segalanya dengan cara yang paling kejam.
"Daya Mutiara..." suara Aldy parau, memecah kesunyian di antara nisan-nisan yang bisu.
Aku menoleh, mataku sembab. Aku menatap bayi di pelukannya, Gibran Aldebaran, yang baru genap berusia satu tahun. Bayi itu tidak tahu bahwa wanita yang melahirkannya kini telah menyatu dengan tanah. Bayi itu tidak tahu bahwa mulai hari ini, dunianya tidak akan lagi sama.
"Ayo pulang, Mas. Gibran bisa sakit kalau terus kena angin malam," ucapku pelan. Kata 'Mas' yang kukeluarkan selalu terasa seperti duri di tenggorokan. Dulu, aku memanggilnya dengan sebutan yang jauh lebih mesra, sebelum ia memilih Maya—atau tepatnya, sebelum aku dipaksa mengalah karena Maya lebih dulu mengandung benih cintanya.
***
Malam-malam setelah kepergian Maya adalah siksaan. Rumah besar peninggalan orang tua kami terasa seperti labirin hantu. Ibuku tak henti-hentinya menangis, sementara Ayah hanya diam seribu bahasa di pojok ruang tamu. Namun, di tengah duka itu, sebuah bisikan mulai terdengar di antara keluarga besar. Sebuah tradisi lama yang menurutku sangat kolot, namun terasa masuk akal bagi mereka: Turun Ranjang.
"Daya, Gibran butuh ibu. Dia masih kecil, butuh kasih sayang yang utuh," ucap Ibu suatu sore di dapur. Tangannya yang gemetar mengaduk teh yang sudah dingin.
Aku tersentak. Sendok yang kupegang jatuh berdenting di atas lantai keramik. "Bu, apa maksud Ibu? Kak Maya baru meninggal empat puluh hari yang lalu."
"Justru karena itu, Daya. Mas Aldy-mu itu kehilangan arah. Dia pria, dia harus bekerja. Siapa yang akan mengurus Gibran kalau bukan kamu? Kamu tantenya, darah dagingmu sendiri. Lagipula..." Ibu menjeda kalimatnya, menatapku dengan mata yang penuh permohonan, "...kalian dulu pernah punya hubungan, kan? Ibu tahu itu."
Rasanya seperti disiram air es. Rahasia yang kusimpan rapat di dasar hati, ternyata diketahui oleh Ibu. Ya, Aldy adalah mantan kekasihku saat kuliah. Kami hampir bertunangan sebelum sebuah malam perayaan kelulusan mengubah segalanya. Aldy mabuk, Maya ada di sana, dan kesalahan satu malam itu berujung pada kehamilan Maya. Sebagai adik yang "baik", aku mundur. Aku membuang perasaanku ke tempat sampah terdalam dan tersenyum saat mengantar mereka ke pelaminan.
"Aku nggak mau, Bu. Aku bukan ban serep," jawabku tajam, meski hatiku perih.
***
Namun, pertahananku mulai goyah saat melihat Gibran. Suatu malam, bayi itu demam tinggi. Aldy panik luar biasa. Ia meneleponku dengan suara yang pecah.
"Daya, tolong... Gibran nggak mau berhenti nangis. Dia panggil 'Mama' terus. Aku... aku nggak tahu harus gimana."
Aku berlari ke kamarnya. Di sana, kulihat Aldy duduk di lantai, tampak sangat berantakan. Rambutnya kacau, matanya merah, dan ia terlihat sangat rapuh. Gibran menjerit-jerit di tempat tidur. Begitu aku menggendongnya, bayi itu perlahan tenang. Ia mengerutkan hidung mungilnya, mencari aroma yang familiar, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Dia kangen Maya," bisik Aldy. Ia menatapku, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat tatapan yang dulu pernah menjadi milikku sepenuhnya. Tatapan penuh kerinduan, rasa bersalah, dan permohonan.
"Mas harus istirahat. Biar Gibran malam ini sama aku," kataku tanpa menatap matanya.
"Daya," Aldy memegang pergelangan tanganku saat aku hendak berbalik. "Maafin aku. Untuk semua yang terjadi di masa lalu. Aku tahu aku brengsek. Tapi melihatmu menggendong Gibran... rasanya seolah Maya masih ada di sini, tapi di saat yang sama, aku seperti melihat masa depan yang seharusnya kita miliki dulu."
"Jangan bicara macam-macam, Mas," desisku. "Aku di sini demi Gibran. Bukan demi kamu."
***
Minggu-minggu berikutnya menjadi dilema yang luar biasa bagi seorang Daya. Di satu sisi, setiap kali aku menyuapi Gibran, setiap kali aku memandikannya, ada rasa hangat yang menjalar di hatiku. Aku mencintai bayi ini seperti anakku sendiri. Tapi di sisi lain, kehadiran Aldy di rumah itu adalah racun sekaligus penawar.
Aldy mulai sering pulang lebih awal. Ia membawakan bunga kesukaanku—bukan kesukaan Maya. Ia mulai mengingat hal-hal kecil tentangku: betapa aku tidak suka bawang goreng, betapa aku suka kopi tanpa gula. Itu adalah serangan psikologis yang paling mematikan.
"Daya, Ayah dan Ibu sudah bicara sama aku," ujar Aldy suatu malam di teras belakang. Angin malam berhembus kencang, menerbangkan helai rambutku.
Aku diam, sudah tahu arah pembicaraan ini.
"Mereka ingin kita menikah. Demi Gibran. Demi nama baik keluarga agar Gibran tidak punya ibu tiri yang jahat kelak."
"Dan apa pendapatmu, Mas? Kamu mau menikahiku karena butuh pengasuh gratis untuk anakmu? Atau karena kamu merasa bersalah padaku?" tanyaku retoris, air mata mulai menggenang.
Aldy berdiri, melangkah mendekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya—aroma yang dulu selalu membuatku merasa aman. Ia memegang bahuku, memaksaku menatapnya.
"Karena aku nggak pernah berhenti mencintaimu, Daya. Pernikahanku dengan Maya adalah bentuk tanggung jawab. Aku berusaha mencintainya, dan aku memang menyayanginya sebagai ibu dari anakku. Tapi setiap kali aku menutup mata, wajahmu yang muncul. Apakah itu egois? Ya. Tapi sekarang, takdir memberiku kesempatan kedua. Apa salah kalau aku ingin kita kembali?"
"Itu salah, Mas!" teriakku, melepaskan cengkeramannya. "Itu salah karena ada bayang-bayang Kak Maya di antara kita! Aku nggak mau setiap kali kamu menyentuhku, kamu membayangkan dia. Dan aku nggak mau setiap kali aku melihat Gibran, aku diingatkan bahwa kamu pernah mengkhianatiku dengan kakakku sendiri!"
Aku lari masuk ke kamar, mengunci pintu, dan merosot di balik daun pintu sambil terisak. Emosiku teraduk-aduk. Aku benci Aldy, tapi aku juga merindukannya. Aku ingin lari sejauh mungkin, tapi tangan mungil Gibran seolah mengikat kakiku agar tetap tinggal.
***
Puncaknya terjadi saat peringatan seratus hari meninggalnya Maya. Rumah ramai dengan kerabat. Di tengah kerumunan itu, bibi-bibiku mulai menggoda, "Wah, Daya sudah cocok banget jadi ibunya Gibran. Lihat, Gibran nggak mau lepas dari tantenya."
Aldy hanya tersenyum tipis, matanya terus mengekor ke mana pun aku pergi.
Malamnya, setelah semua tamu pulang, Aldy menghampiriku di ruang tengah. Gibran sudah tidur di ayunannya. Aldy mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Sebuah cincin. Bukan cincin baru, itu adalah cincin yang seharusnya ia berikan padaku lima tahun lalu—cincin yang dulu sempat kulihat di laci mejanya sebelum badai itu datang.
"Aku menyimpannya selama lima tahun ini, Daya. Di laci paling dalam, di bawah tumpukan baju-bajuku. Maya nggak pernah tahu. Aku menyimpannya sebagai pengingat akan satu-satunya janji yang belum kutepati."
Aku menatap cincin itu dengan perasaan hancur. "Mas, ini gila."
"Tolong, Daya. Gibran butuh kamu. Aku butuh kamu. Jangan biarkan Gibran tumbuh tanpa kasih sayang ibu yang sebenarnya. Kamu bukan turun ranjang, kamu kembali ke rumah yang seharusnya kamu tempati sejak dulu."
Aku menatap Gibran yang menggeliat kecil dalam tidurnya. Bibir mungilnya bergumam, "Ma... ma..."
Jantungku seperti diremas. Aku menatap Aldy, pria yang menghancurkan hatiku namun juga pria yang membangun kembali puing-puing itu dengan tatapannya yang teduh. Aku teringat Maya. Apakah ia akan marah di sana? Ataukah ia justru tersenyum melihat anaknya dijaga oleh adiknya sendiri?
Tanganku bergetar saat menyentuh cincin itu. Haruskah aku mengalah pada ego dan luka masa lalu demi masa depan seorang bayi? Ataukah aku akan selamanya hidup sebagai bayang-bayang di rumah yang dibangun di atas pengkhianatan?
"Daya..." panggil Aldy lembut, meraih jemariku.
Aku menarik napas panjang, menatap pintu kamar Maya yang masih tertutup rapat, lalu menatap Gibran, dan terakhir menatap mata Aldy yang penuh harap.
"Mas... kalau aku bilang iya," suaraku hilang ditelan angin yang tiba-tiba berhembus masuk dari jendela yang terbuka. "Apakah itu karena aku mencintaimu, atau karena aku nggak punya pilihan lain?"
Aldy tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tanganku lebih erat, sementara di luar sana, guntur menggelegar, menandakan badai yang baru saja dimulai. Aku berdiri di persimpangan jalan, antara martabat yang terluka dan pelukan seorang bayi yang tak berdaya.
Dan di antara keheningan malam yang mencekam itu, aku masih belum bisa memberikan jawaban yang pasti. Jawaban itu menggantung di udara, sama seperti nasib cinta kami yang tak pernah benar-benar selesai.