"Kenapa suka laut?"
"Karena dengan melihat laut, aku bisa mengurangi sedikit rinduku terhadap orang yang sedang berjuang dan berlayar di atasnya,"
Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta padamu benar-benar di luar kendaliku. Bumi seluas ini, tapi aku malah mencintaimu yang jauh di sana. Seseorang yang membuatku jatuh cinta tanpa sengaja tujuh tahun yang lalu. Pertemuan kita bisa dibilang cukup unik, yaitu ketika tawuran antara SMPN 17 dan SMPN 7 pecah.
SMPN 17 PEKALONGAN, 22 Agustus 2019
Aku selalu merasa perpustakaan adalah tempat ternyaman di dunia. Namun, ketenangan itu pecah oleh suara ketakutan dari balik jendela. Aku melihat kepulan debu dan sekelompok rah gang sempit. Tiba-tiba, seorang pemuda muncul dengan napas terengah-engah. Seragamnya berantakan dan ada luka di pipinya. Namanya Anggit Anggara.
Sebuah benda tumpul melayang ke arahku, namun tangan kekar Anggit menarikku ke balik tumpukan kotak kayu, melindungiku dengan tubuhnya sendiri. "Diam di sini jika kau ingin selamat," bisiknya serak. Aku melihat darah menetes dari tangannya. Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan sapu tangan putih bersih dari sakuku dan mulai membalut lukanya. Dalam cahaya remang, aku menyadari mata Anggit tidak seganas yang kubayangkan. Begitulah aku bertemu dengannya. Sampai pada akhirnya, aku jatuh cinta.
Tahun demi tahun berlalu, membentang jarak yang semakin lebar di antara kami. Waktu perlahan menempa kami menjadi sosok yang tak lagi sama. Di PP Ar-Riyadh, aku perlahan melepas seragam putih-biru, menggantinya dengan gamis dan hijab yang teduh seiring langkahku yang kian tenang
Sementara itu di tengah samudra, laut telah mengubah Anggit. Remaja yang dulu ceroboh kini menjelma menjadi pelaut tegap dengan kulit legam terbakar matahari, membawa telapak tangan yang kasar akibat hantaman ombak dan besi kapal . Jarak tujuh tahun tak hanya memisahkan raga, tapi juga membangun kedewasaan yang berbeda di antara kami.
PP AR-RIYADH DEMAK, 1 Februari 2026
Di balik pagar kayu pondok, aku sering berdiri menatap cakrawala. Jauh di tengah laut, Anggit berdiri di geladak kapal yang penuh debu hitam batu bara. Wajahnya kasar, ditandai oleh kerasnya kehidupan laut yang liar. Di tangannya yang kasar, sebatang rokok menyala. Baginya, langit adalah atap yang jauh, dan Tuhan seperti orang asing yang tak pernah ia sapa lagi.
"Sebulan lagi, kapalku akan bersandar di Tanjung Mas," satu pesan singkat dari Anggit membuatku bahagia. Akhirnya, penantian ini akan berakhir.
Dermaga, 22 Maret 2026
Pagi ini, aku mendengar kabar bahwa Anggit akan segera berlayar lagi. Aku bergegas ke dermaga dengan pakaian seadanya. Di sana, aku melihatnya. Anggit datang menghampiriku, namun langkahnya tertahan. Ia merogoh saku celana kerjanya yang dekil, mengeluarkan sepotong kain yang sudah kusam dan kaku.
"Kau ingat ini, Van?" suara Anggit bergetar, parau oleh aroma laut dan sisa alkohol yang tajam. "Dulu ini putih, sewarna dengan hatimu. Tapi lihat sekarang... dia sudah mati, tercekik hitamnya duniaku. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali sujudku diterima Tuhan."
Aku melangkah maju, ingin meraih tangan kasarnya. Namun, Anggit menarik tangannya dengan cepat, seolah takut noda oli di kulitnya akan menodai kesucian gamisku.
"Jangan," bisik Anggit hancur. "Tanganku sudah terlalu kotor untuk menyentuh doa-doamu. Aku ini pelaut yang sudah karam sebelum sempat bersandar, Vania. Pergilah. Carilah seseorang yang jalannya lurus menuju Tuhan, yang tidak perlu membasuh dosanya dengan botol minuman setiap malam."
Anggit meletakkan sapu tangan yang sudah menghitam itu di atas beton dermaga yang dingin, lalu berbalik tanpa berani menoleh lagi. Ia melangkah naik ke atas kapal, meninggalkan aku yang mulai terisak hebat.
"Anggit! Aku tidak peduli seberapa rusak kapalmu!" teriakku di tengah deru mesin yang mulai menyala. "Aku hanya ingin menjadi pelabuhanmu!"
Namun, kapal itu tetap menjauh, membelah ombak, membawa pergi pria yang merasa tak pantas lagi dicintai. Aku menatap punggung Anggit yang semakin menjauh, sosok yang tujuh tahun lalu ia balut lukanya dengan sapu tangan putih, kini menjelma menjadi pria yang merasa tak pantas dicintai. Air mataku jatuh, bukan karena penolakan, tapi karena ia menyadari betapa hancurnya hati pria itu.
"Anggit..." bisik Vania pelan, suaranya parau. "Jika bagimu laut adalah pelarian, maka biarlah doaku menjadi kompasnya."
Aku perlahan melonggarkan genggamannya pada sapu tangan kusam itu. Ia jatuh cinta pada Anggit bukan karena kesempurnaannya, melainkan karena luka-lukanya yang ingin ia dekap. Namun, di dermaga ini, ia belajar satu hal: mencintai tidak selalu berarti menggenggam. Kadang, cinta yang paling tulus adalah membiarkan seseorang pergi agar ia bisa menemukan dirinya kembali.
"Aku jatuh cinta padamu tanpa syarat, Anggit. Dan hari ini, aku memilih ikhlas," batin Aku sambil menatap kapal yang kian mengecil di cakrawala. "Pergilah, basuhlah lelahmu di samudra. Aku akan tetap menjadi pelabuhan yang menunggumu dalam setiap sujudku, meski mungkin kau takkan pernah kembali bersandar."
Aku berdiri tegak, menghapus air mataku. aku tidak lagi menangis karena kehilangan, tapi karena aku telah memberikan bentuk cinta yang paling tinggi: melepaskan.
Terimakasih telah membaca, jangan lupa like cerpen pertamaku yaa, follow Instagramku juga ya teman-teman @nopaa.ftraa__