Malam itu, langit di atas perkemahan Romawi terasa aneh—terlalu sunyi untuk sebuah pasukan yang akan berperang esok hari. Api unggun menyala redup, dan para prajurit memilih diam, seolah mereka sudah tahu sesuatu yang tidak berani diucapkan.
Namaku Lucius Varro, seorang penulis catatan perang. Tugasku sederhana: mencatat kemenangan. Bukan kekalahan.
Namun malam itu, semuanya berubah.
Seorang kurir datang terlambat, kudanya hampir roboh. Ia menyerahkan sebuah gulungan surat dengan segel resmi komandan. Aneh, karena komandan kami—Jenderal Aelius—tidak pernah mengirim surat ke perkemahan sendiri.
Aku membuka segelnya.
Isinya membuat tanganku gemetar.
> “Kepada siapa pun yang membaca ini—
Jika kalian menerima surat ini, berarti semuanya sudah terlambat.
Kita kalah. Pasukan kita hancur sebelum matahari terbenam.
Jangan percaya pada strategi yang akan diumumkan besok pagi.
Itu adalah awal dari kehancuran kita.”
Aku terdiam lama. Ini mustahil.
Besok bahkan belum terjadi.
Aku segera mencari Jenderal Aelius. Ia sedang berdiri di depan peta perang, wajahnya tenang seperti biasa.
“Jenderal… Anda harus melihat ini.”
Ia membaca surat itu. Wajahnya tidak berubah.
“Menarik,” katanya singkat.
“Menarik? Ini mengatakan kita akan kalah!”
Ia menatapku tajam. “Lucius, dalam perang, yang paling berbahaya bukanlah musuh… tapi keraguan.”
“Tapi surat ini—”
“Palsu. Atau jebakan.”
Namun ada satu hal yang membuatku tidak bisa tenang.
Di bagian bawah surat itu… ada tanda tangan.
Aelius.
Dengan goresan yang sama persis.
---
Pagi datang.
Seluruh pasukan berkumpul. Jenderal Aelius mengumumkan strategi baru—persis seperti yang diperingatkan dalam surat itu.
Menyerang dari lembah sempit.
Aku merasakan dingin menjalar di tubuhku.
“Jenderal, tolong… jangan lakukan ini,” bisikku.
Ia hanya tersenyum tipis. “Sejarah ditulis oleh mereka yang menang, Lucius.”
Pasukan bergerak.
Aku tetap di belakang, mencatat seperti biasa. Tapi kali ini, tanganku gemetar saat menulis.
Beberapa jam kemudian…
Jeritan mulai terdengar.
Dari kejauhan, aku melihat bendera Romawi jatuh satu per satu. Lembah itu berubah menjadi perangkap. Musuh sudah menunggu dari kedua sisi.
Ini bukan pertempuran.
Ini pembantaian.
---
Sore hari, hanya sedikit yang kembali.
Dan Jenderal Aelius… tidak termasuk.
Aku duduk di tanah, memegang surat itu lagi. Nafasku berat.
Semuanya terjadi persis seperti yang tertulis.
Tidak kurang. Tidak lebih.
Dengan tangan gemetar, aku membalik surat itu.
Ada tulisan kecil yang sebelumnya tidak kulihat.
> “Ditulis oleh satu-satunya yang selamat.”
Darahku serasa berhenti mengalir.
Perlahan… aku melihat ke sekeliling.
Hanya aku.
Tidak ada penulis lain.
Tidak ada saksi lain.
Hanya aku yang mencatat semuanya.
---
Malam itu, dengan tangan yang masih bergetar, aku mengambil gulungan kosong.
Dan mulai menulis.
> “Kepada siapa pun yang membaca ini—
Jika kalian menerima surat ini, berarti semuanya sudah terlambat…”
Aku berhenti sejenak.
Lalu menuliskan satu nama di bawahnya.
Lucius Varro.