Hujan di Marunda malam itu bukan lagi sekadar air yang turun dari langit, melainkan seperti tangisan para leluhur yang menyaksikan betapa pedihnya takdir dipermainkan. Di pelabuhan rakyat yang sunyi, aroma garam laut bercampur dengan bau mesiu yang terbawa angin dari kota. Ahmad berdiri di atas dermaga kayu yang mulai lapuk, tubuhnya goyah, namun sepasang matanya tetap awas menatap kegelapan hutan di depannya.
Darah dari lukanya merembas ke baju pangsi hitamnya, menetes satu-satu ke papan dermaga. Ia sedang menunggu. Namun, dalam hatinya yang paling dalam, ia sendiri tidak tahu siapa yang sebenarnya ia tunggu untuk hadir di pelariannya ini.
Tiba-tiba, semak belukar tersibak.
"Bang Ahmad!"
Sesosok bayangan berlari kencang. Itu Siti Aminah. Nafasnya memburu, jilbab kainnya sudah compang-camping terkena ranting hutan, dan wajahnya dipenuhi lumpur rawa. Ia segera menangkap tubuh Ahmad yang hampir rubuh.
"Bang, kapal nelayan itu sudah siap. Kita harus pergi ke Banten sekarang. Pasukan Van Horn hanya tertahan sebentar oleh ledakan gudang," ucap Aminah dengan suara serak. Tangannya yang kasar namun hangat gemetar saat menyentuh luka Ahmad.
Ahmad menatap Aminah, lalu beralih menatap jalan setapak di belakang gadis itu. Kosong. Tak ada sosok wanita berkulit pucat yang ia harapkan muncul dari kegelapan. Ada rasa nyeri yang lebih hebat dari luka peluru di bahunya—rasa kehilangan yang mendalam terhadap Anna.
"Dia... tidak datang, Nah?" bisik Ahmad lirih.
Aminah terdiam. Ia menunduk, membiarkan air hujan menyamarkan air mata yang jatuh ke pipinya. "Nona Anna tertangkap, Bang. Van Horn menyeretnya kembali ke Benteng. Dia... dia berteriak agar Abang tetap pergi. Dia bilang, hatinya sudah aman karena sudah menemukan Tuhannya, meski tubuhnya harus dipenjara."
Ahmad memejamkan mata. Dunianya seolah runtuh. Keberaniannya untuk melawan Kompeni selama bertahun-tahun seolah tak ada artinya jika ia tak bisa menyelamatkan wanita yang telah menyerahkan segalanya untuknya.
"Aku harus kembali, Nah. Aku tidak bisa membiarkan dia membusuk di penjara bawah tanah Stadhuis," Ahmad mencoba melangkah balik, namun Aminah memeluk pinggangnya dengan erat, menahan lelaki itu dengan seluruh tenaganya.
"Jangan bodoh, Bang! Kalau Abang kembali, Abang mati! Dan kalau Abang mati, perjuangan anak-anak di kampung akan padam. Nona Anna melakukan ini agar Abang hidup! Dia menyerahkan dirinya supaya Abang punya waktu untuk lari!" Aminah menjerit di tengah gemuruh ombak. "Apa Abang mau menyia-nyiakan pengorbanannya?!"
Ahmad membeku. Kata-kata Aminah menghujam jantungnya. Ia menatap gadis Betawi-Sunda di hadapannya ini. Aminah, yang selama ini selalu ada di sisinya. Aminah, yang kulitnya terluka demi melindunginya tadi. Aminah, yang cintanya setulus tanah tempat mereka berpijak.
Di tengah keputusasaan itu, tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang pelan namun pasti. Bukan pasukan besar, melainkan sebuah kereta kuda kecil tanpa pengawal yang melaju kencang dari jalur pintas hutan. Kereta itu berhenti mendadak di bibir dermaga.
Pintunya terbuka. Seorang wanita keluar dengan tertatih-tatih. Dia mengenakan pakaian pelayan pribumi yang kumal, wajahnya ditutupi jelaga hitam untuk penyamaran. Namun, saat ia membuka penutup kepalanya, rambut pirang pucat itu terurai, berkilau di bawah cahaya lampu badai kapal.
"Anna!" Ahmad berseru, seolah nyawanya kembali masuk ke dalam raga.
Anna Van Deventer berlari menuju Ahmad. Ia memeluk lelaki itu tanpa memedulikan baju Ahmad yang penuh darah. Di belakangnya, muncul seorang lelaki Belanda tua yang dikenal sebagai Pastor Johannes, sosok yang diam-diam membenci kekejaman VOC.
"Pastor Johannes membantuku," bisik Anna terengah-engah. "Dia menukar posisiku dengan tawanan lain di tengah kekacauan ledakan tadi. Ahmad, aku tidak bisa tinggal di Batavia lagi. Aku bukan lagi bagian dari mereka."
Kini, di atas dermaga Marunda, berdiri tiga insan yang terikat dalam benang cinta yang rumit. Ahmad di tengah, diapit oleh Aminah yang setia dan Anna yang berkorban.
Ahmad menatap keduanya. Ia tahu, ia harus mengambil keputusan. Kapal nelayan itu hanya bisa membawa mereka menjauh, tapi tidak bisa membawa kerumitan ini selamanya.
"Nona Anna," Ahmad memegang pundak Anna dengan lembut. "Kau tahu risikonya jika ikut bersamaku? Kau akan hidup dalam pelarian. Kau akan makan apa adanya. Kau mungkin tak akan pernah melihat kemewahan lagi."
Anna tersenyum, sebuah senyuman paling tulus yang pernah dilihat Ahmad. "Aku sudah membawa harta yang paling berharga, Ahmad." Ia menunjukkan kitab hijau yang kini sudah basah oleh hujan. "Aku tidak butuh gulden. Aku butuh ketenangan."
Ahmad kemudian menoleh pada Aminah. Gadis itu berdiri agak menjauh, mencoba memberikan ruang bagi "tuan" dan "nyonya" itu. Hati Aminah hancur, namun ia berusaha tegar. Ia sudah bersiap untuk melihat Ahmad pergi bersama Anna dan ia akan pulang sendirian, menjaga kenangan mereka di padepokan.
"Aminah..." panggil Ahmad.
"Pergilah, Bang. Jaga Nona Anna. Dia sudah berkorban banyak. Aku akan tetap di sini, menjaga Ibu dan padepokan. Doaku selalu menyertai langkah Abang," Aminah mencoba tersenyum meski bibirnya bergetar hebat.
Ahmad berjalan mendekati Aminah. Ia meraih tangan gadis itu. "Kau juga harus ikut, Nah. Kapal ini cukup untuk kita semua."
"Tidak, Bang. Aku tidak mau menjadi duri. Abang dan Nona Anna..."
"Dengarkan aku!" potong Ahmad tegas. "Batavia sedang membara. Kompeni akan mencari siapa saja yang membantuku. Jika kau tinggal, kau yang akan digantung sebagai penggantiku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Akhirnya, dengan berat hati dan harapan yang samar, ketiganya naik ke atas kapal nelayan. Kapal itu mulai bergerak membelah ombak malam, menuju arah barat, menuju tanah Banten yang lebih bebas dari cengkeraman VOC.
***
**Tiga Tahun Kemudian...**
Di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Karang, Banten, kehidupan berjalan dengan tenang. Di sana, tidak ada lagi sekat antara tuan tanah dan budak. Hanya ada petani dan pejuang yang hidup berdampingan.
Di depan sebuah rumah panggung yang asri, seorang wanita dengan pakaian kain kebaya sederhana sedang menjemur cengkeh. Wajahnya yang putih porselen kini sedikit lebih gelap karena sinar matahari, namun ia tampak jauh lebih sehat dan bahagia. Namanya bukan lagi Anna, melainkan Maryam. Ia telah memeluk Islam sepenuhnya dan menjadi guru mengaji bagi anak-anak desa.
"Maryam! Lihat, apa yang kubawa!" seru seorang wanita lain dari arah jalan desa.
Itu Aminah. Ia membawa keranjang berisi ikan segar hasil tangkapan di sungai. Aminah dan Maryam kini bukan lagi saingan. Keadaan sulit selama pelarian dan hidup di tanah baru telah mengikat mereka menjadi kakak-adik yang tak terpisahkan. Mereka saling menjaga, saling berbagi rahasia, dan saling menguatkan saat Ahmad harus pergi bertempur bersama pasukan Kesultanan Banten.
"Ahmad sudah pulang, Aminah?" tanya Maryam dengan binar mata yang sama seperti saat ia berada di bawah pohon tanjung di Batavia dulu.
"Belum, mungkin sebentar lagi. Tadi aku melihat kudanya di perbatasan desa," jawab Aminah sambil membantu Maryam membereskan jemuran cengkeh karena mendung mulai menggantung.
Tak lama kemudian, derap kaki kuda terdengar. Ahmad datang dengan gagah, mengenakan seragam pangsi pejuang Banten. Ia turun dari kuda dan segera disambut oleh kedua wanita itu.
Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ahmad tampak membawa seorang tamu, seorang penghulu dari desa seberang.
Malam itu, di bawah rembulan yang bulat sempurna, Ahmad mengumpulkan Maryam dan Aminah di beranda rumah. Suasana mendadak hening dan khidmat.
"Maryam, Aminah," suara Ahmad berat dan tenang. "Tiga tahun kita hidup dalam ketidakpastian ini. Kalian berdua telah mengabdi pada hidupku dengan cara yang tak mungkin bisa kubalas. Maryam yang meninggalkan dunianya, dan Aminah yang menyerahkan seluruh jiwanya untuk melindungiku."
Ahmad menatap Maryam. "Maryam, aku mencintaimu karena kau adalah cahaya yang menembus kegelapan ideologiku. Kau adalah bukti bahwa hidayah tidak mengenal warna kulit."
Lalu ia menatap Aminah. "Dan Aminah... kau adalah napasku. Tanpamu, aku sudah mati di rawa Batavia. Kau adalah tanah yang menguatkan akarku."
Aminah dan Maryam saling pandang. Mereka sudah menduga hari ini akan datang, namun mereka tidak menyangka bagaimana cara Ahmad akan menyelesaikannya.
"Aku tidak bisa memilih salah satu, karena bagi hamba yang lemah ini, kalian adalah dua sayap yang membuatku bisa terbang tinggi menuju Tuhan," ucap Ahmad. "Hari ini, jika kalian bersedia, aku ingin kita bersatu dalam ikatan yang sah. Bukan sebagai tuan dan pelayan, bukan sebagai pelarian, tapi sebagai sebuah keluarga yang utuh di mata Allah."
Air mata Maryam jatuh. Ia menatap Aminah, lalu meraih tangan gadis Betawi itu. Aminah membalas genggaman itu dengan erat. Mereka telah melalui badai bersama, kelaparan bersama, dan ketakutan bersama. Rasa cemburu itu telah lama mati, digantikan oleh rasa persaudaraan yang luar biasa dalam satu keyakinan.
"Aku bersedia, Ahmad," bisik Maryam. "Selama Aminah ada di sampingku sebagai saudaraku."
"Aku juga bersedia, Bang," ucap Aminah dengan isak tangis yang bahagia. "Aku tidak ingin kehilangan kakakku, Maryam, dan aku tidak ingin kehilangan matahariku, yaitu Abang."
Malam itu, di sebuah desa kecil yang tak tercatat di peta VOC, sebuah pernikahan sederhana dilangsungkan. Pernikahan yang tak disangka-sangka oleh warga Batavia. Ahmad, sang Macan Kemayoran, menikahi kedua wanita luar biasa itu secara bersamaan dalam sebuah akad yang penuh haru.
**Ending yang Tak Disangka...**
Bertahun-tahun kemudian, sejarah mencatat tentang sebuah pemberontakan besar di tanah Banten yang dipimpin oleh seorang pejuang tangguh. Namun, yang tidak banyak diketahui orang adalah di balik pejuang itu, ada dua sosok wanita yang menjadi jantung perlawanan.
Satu wanita Belanda yang ahli dalam strategi dan diplomasi karena pendidikan Baratnya (Maryam), dan satu wanita pribumi yang menjadi panglima barisan srikandi dengan jurus silatnya yang mematikan (Siti Aminah).
Suatu sore di masa tua mereka, Ahmad duduk di kursi kayu sambil memangku seorang cucu lelaki bermata biru namun berambut hitam legam—perpaduan yang aneh tapi indah. Di sisi kirinya, Aminah sedang menyiapkan kopi dengan aroma jahe yang kuat. Di sisi kanannya, Maryam sedang membacakan syair-syair indah tentang keesaan Tuhan dari kitab hijau yang sudah usang dan penuh coretan tangan.
"Ahmad," panggil Maryam pelan.
"Ya, Maryam?"
"Kau ingat apa yang kau katakan di dermaga Marunda dulu? Tentang mencari tempat di mana tidak ada lagi VOC dan perbudakan?"
Ahmad tersenyum, menatap hamparan sawah hijau yang luas di depan rumahnya. "Aku menemukannya, Maryam. Tempat itu bukan sebuah koordinat di peta."
"Lalu di mana?" tanya Aminah sambil meletakkan cangkir kopi.
Ahmad meraih tangan kedua istrinya, menggenggamnya menjadi satu di atas pangkuannya. "Tempat itu adalah di sini. Di dalam ridha Tuhan dan di dalam hati yang sudah selesai dengan urusan dunia. Di sini, kita sudah merdeka jauh sebelum bendera mana pun dikibarkan."
Pembaca mungkin mengira kisah ini akan berakhir dengan salah satu dari mereka mati atau terpisah tragis di Batavia. Namun takdir punya cara yang lebih manis sekaligus bikin sesak. Jodoh tak disangka itu bukan hanya tentang Ahmad yang menikahi keduanya, tapi tentang bagaimana dua kasta dan dua negara yang saling menjajah, akhirnya bisa sujud di atas sajadah yang sama, mencintai lelaki yang sama, dan membangun sebuah "Batavia" baru yang tidak lagi berwarna Orange, melainkan berwarna putih suci dalam ketulusan.
Di kejauhan, suara adzan maghrib berkumandang dari masjid desa yang mereka bangun bersama. Maryam bangkit lebih dulu, membantu Aminah yang kakinya mulai sering linu, lalu keduanya menuntun Ahmad masuk ke dalam rumah. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan dunia luar yang masih sibuk berperang, menyisakan sebuah melodi cinta yang akan terus bergema di antara angin pegunungan Banten selamanya.
TAMAT