Dua purnama telah berlalu sejak insiden berdarah di Kali Besar. Batavia masih mencekam, namun bagi sebagian orang, hidup harus tetap berjalan di atas sisa-sisa trauma. Di sebuah gubuk panggung yang tersembunyi di rimbunnya hutan bambu pinggiran wilayah Meester Cornelis, bau ramuan herbal dan kunyit menyeruak, bertarung dengan aroma lembap tanah hujan.
Di atas balai-balai bambu, Ahmad terbaring tak berdaya. Bahu kirinya terbalut kain putih yang kini mulai merembas warna merah tua. Napasnya pendek-pendek, wajahnya yang tampan dan maskulin itu tampak pucat pasi, namun guratan ketegasan di rahangnya tak pernah hilang.
"Minum ini, Bang. Jangan keras kepala terus. Abang bukan macan kalau lagi begini, cuma kucing kecemplung empang," suara itu renyah namun sarat akan kekhawatiran.
Seorang gadis berusia dua puluh tahun duduk di sampingnya. Siti Aminah, begitu namanya. Ia adalah perpaduan sempurna dari kecantikan eksotis: kulit kuning langsat khas Sunda dari ibunya, dan mata bulat berbinar dengan keberanian Betawi dari ayahnya. Aminah bukan gadis pinggiran biasa; ia adalah murid kesayangan ayah Ahmad di padepokan silat. Tangannya yang lentik lincah memeras kain kompres, namun di balik kelentikan itu, ia bisa mematahkan lengan pria dewasa hanya dengan satu kuncian *jurus seliwa*.
Ahmad membuka matanya sedikit. "Aminah... kau tidak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri."
"Bisa apa? Bangun saja Abang langsung limbung," Aminah mendengus, mencoba menyembunyikan rasa perih di hatinya. "Sudah untung aku temukan Abang mengambang di sela bakau dekat muara. Kalau tidak, mungkin jasad Abang sudah jadi santapan buaya atau lebih buruk lagi, dipajang di depan Stadhuis oleh Kompeni."
Aminah mencintai Ahmad sejak mereka masih remaja, sejak mereka saling adu pukul menggunakan toya di bawah pohon sawo. Baginya, Ahmad adalah matahari. Namun ia tahu, matahari itu kini sedang meredup karena merindukan rembulan yang salah—seorang wanita kulit putih di balik tembok Benteng Batavia.
"Kenapa Abang lakukan itu?" tanya Aminah pelan, suaranya tiba-tiba merendah. "Demi perempuan Belanda itu, Abang hampir mati. Apa dia tahu Abang ada di sini? Apa dia peduli kalau Kompeni sedang menggeledah setiap jengkal kampung untuk mencari kepala Abang?"
Ahmad terdiam, menatap langit-langit gubuk. Bayangan mata biru Anna Van Deventer melintas seperti hantu yang indah. "Dia berbeda, Nah. Dia tidak melihat kita sebagai kuli atau budak. Dia melihat kita sebagai manusia yang punya Tuhan."
Aminah membuang muka, matanya berkaca-kaca. "Semua orang bisa bicara manis, Bang. Tapi pada akhirnya, dia tetap Van Deventer. Dia minum dari gelas kristal, kita minum dari tempurung kelapa. Dia dilindungi senapan, kita dilindungi doa. Sampai kapan pun, air dan minyak tidak akan menyatu."
"Dia belajar agama kita, Nah," bisik Ahmad.
Aminah tersentak. Tangannya yang sedang memegang mangkuk ramuan bergetar. "Dia... apa?"
"Dia tertarik pada Islam. Dia ingin tahu tentang sujud kita."
Rasa cemburu yang tadinya membakar hati Aminah tiba-tiba berubah menjadi rasa getir yang membingungkan. Sebagai gadis muslimah yang taat, ia seharusnya bersyukur jika ada jiwa yang menemukan hidayah. Namun, sebagai wanita yang mencintai Ahmad, berita itu adalah lonceng kematian bagi harapannya. Bagaimana ia bisa bersaing dengan wanita yang tidak hanya memiliki kecantikan bangsawan, tapi kini juga memiliki kunci menuju hati dan keyakinan Ahmad?
Sementara itu, di dalam kemegahan Kastil Batavia, Anna Van Deventer seperti mayat hidup yang berjalan. Gaun-gaun suteranya terasa seperti kain kafan yang menyesakkan. Ayahnya, Tuan Van Deventer, telah menempatkan dua penjaga bersenjata di depan pintu kamarnya dua puluh empat jam sehari.
"Kau harus menikah dengan Van Horn bulan depan, Anna! Ini bukan lagi soal cinta, ini soal martabat bangsa kita!" teriak ayahnya pagi itu, membanting cangkir porselen hingga hancur berkeping-keping.
Anna tidak menjawab. Ia duduk di kursi dekat jendela, jemarinya tak henti-henti mengelus sampul kitab hijau pemberian Ahmad yang ia sembunyikan di dalam lipatan bantalnya. Ia telah mulai membaca terjemahannya secara sembunyi-sembunyi. Setiap kata yang ia serap terasa seperti air dingin di tengah padang pasir. Ia merasa lebih 'Betawi' daripada orang Belanda mana pun saat ia merenungkan arti keadilan dan kesetaraan.
"Ayah," suara Anna tenang, dingin seperti salju di pegunungan Eropa. "Kalian bisa membawaku ke gereja, kalian bisa memasangkan cincin itu di jariku. Tapi kalian tidak bisa menghentikan jiwaku yang sudah bersujud pada Tuhan yang disembah Ahmad."
Tuan Van Deventer terbelalak. Ia merasa putrinya sudah gila, terkena sihir pribumi. "Kau... kau sudah terinfeksi oleh mereka! Kapten Van Horn sedang menyiapkan pasukan besar untuk membakar perkampungan di pinggiran. Dia akan menemukan 'Macan' itu dan menggantungnya di depan matamu!"
Ketakutan mencekam hati Anna, namun ia tetap teguh. Malam itu, ia mengambil sebuah keputusan nekat. Dengan bantuan seorang pelayan pribumi yang setia karena pernah ditolong oleh Anna, ia merencanakan pelarian.
Kembali ke gubuk di hutan bambu, luka Ahmad mulai membaik berkat perawatan telaten Aminah. Namun, suasana di sana tidak lagi sama. Aminah menjadi lebih pendiam. Suatu sore, saat matahari mulai tergelincir, Aminah berdiri di pintu gubuk, memperhatikan Ahmad yang sedang mencoba melatih kembali gerak tangannya.
"Bang," panggil Aminah. "Kalau perempuan itu datang menagih janji, apa Abang akan benar-benar membawanya pergi?"
Ahmad berhenti bergerak. Ia menatap Aminah, melihat ketulusan dan pengabdian di mata gadis itu. Ia sadar, Aminah adalah wanita yang selama ini ada untuknya, yang memahami setiap gerak silatnya, yang searah dengannya dalam doa. Namun, cinta bukanlah hitung-hitungan utang budi.
"Aku menjanjikan tempat yang bebas padanya, Nah. Tempat di mana kita semua bisa hidup tanpa ditunjuk-tunjuk oleh moncong senapan."
"Tempat itu tidak ada di Batavia, Bang!" seru Aminah dengan suara serak. "Satu-satunya tempat bebas bagi kita adalah di tanah pekuburan kalau Abang terus nekat!"
Tiba-tiba, suara derap langkah kuda yang banyak terdengar dari kejauhan. Bukan satu, tapi belasan. Aminah segera berlari ke arah semak-semak, insting silatnya waspada. Ia melihat cahaya obor yang mulai mendekat.
"Kompeni! Mereka menemukan tempat ini!" Aminah berlari masuk, menyambar sepasang golok pendek yang terselip di balik dinding. "Bang Ahmad, cepat lari lewat pintu belakang, tembus ke rawa! Biar aku yang tahan mereka di sini!"
"Tidak, Nah! Aku tidak akan meninggalkanmu!" Ahmad mencoba berdiri, namun lukanya kembali berdenyut hebat.
"Jangan bodoh, Bang! Abang itu simbol perlawanan. Kalau Abang tertangkap, semangat anak-anak padepokan akan mati. Pergi! Cari jalan ke pelabuhan kecil di Marunda. Aku akan menyusul!" Aminah mendorong Ahmad dengan tenaga yang luar biasa.
Ahmad melihat keteguhan di mata Aminah. Dengan berat hati, ia melompat turun dari gubuk dan menghilang di balik kegelapan hutan bambu.
Beberapa menit kemudian, pasukan Van Horn mengepung gubuk itu. Namun, mereka tidak menemukan pria yang mereka cari. Yang berdiri di sana adalah seorang gadis cantik dengan dua golok terhunus, matanya menyala seperti api unggun di tengah badai.
"Di mana dia, gadis liar?!" bentak Van Horn, turun dari kudanya dengan pedang terhunus.
Aminah tersenyum sinis, memutar goloknya dengan teknik yang memukau. "Dia sudah pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia-manusia busuk seperti kalian."
Pertarungan pun pecah. Aminah bergerak seperti bayangan, meliuk di antara tusukan bayonet, menebas dan menendang dengan kecepatan luar biasa. Namun, ia hanyalah satu orang melawan satu peleton. Di saat ia terdesak ke pinggir rawa, sebuah suara menghentikan segalanya.
"Hentikan!"
Dari balik bayang-bayang pohon besar, muncul seorang wanita dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Wajahnya tertutup cadar tipis, namun matanya yang biru jernih tak bisa berbohong.
Anna Van Deventer berdiri di sana, di tengah hutan yang asing baginya. Ia telah melarikan diri dan mengikuti pasukan tunangannya secara sembunyi-sembunyi, berharap bisa memberikan peringatan pada Ahmad.
Aminah terpaku melihat wanita itu. Jadi ini... ini adalah Anna. Cantik, rapuh namun memiliki keberanian yang gila.
"Anna? Apa yang kau lakukan di sini?!" Van Horn berteriak kaget, menurunkan pedangnya.
Anna tidak melihat pada Van Horn. Ia menatap Aminah. "Di mana dia? Di mana Ahmad?" tanyanya dengan napas tersengal.
Aminah menatap Anna lama. Di matanya ada kecemburuan, namun juga ada rasa hormat yang muncul tiba-tiba. Wanita Belanda ini telah mempertaruhkan segalanya—nyawa, martabat, dan keluarganya—untuk seorang pria pribumi yang terluka.
"Dia selamat," bisik Aminah. "Dia menuju Marunda."
Van Horn yang mendengar itu langsung memerintahkan pasukannya. "Ke Marunda! Cepat!"
Namun, sebelum pasukan itu bergerak, sebuah ledakan kecil terjadi di kejauhan, di arah gudang mesiu pinggiran kota, menciptakan pengalihan perhatian yang hebat. Langit Batavia memerah.
Di tengah kekacauan itu, Aminah mendekati Anna. Dua wanita dari dunia yang berbeda itu kini berdiri berhadapan di tepi rawa yang gelap. Satu dengan golok berdarah, satu dengan kitab suci di tangan.
"Kau mencintainya?" tanya Anna pelan.
Aminah mengangguk getir. "Lebih dari nyawaku sendiri."
"Aku juga," sahut Anna.
Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari arah hutan bambu tempat Ahmad melarikan diri. Keduanya tersentak. Suara teriakan Ahmad terdengar menggema, memanggil satu nama di tengah desingan peluru. Namun, nama siapa yang ia panggil? Anna atau Aminah? Suara itu tertelan oleh suara gemuruh hujan yang tiba-tiba turun dengan sangat deras, membasuh darah di tanah Batavia.
Van Horn menyeret Anna paksa menuju kuda, sementara Aminah melompat ke arah kegelapan hutan untuk mengejar bayangan Ahmad, meninggalkan goloknya yang tertancap di tanah.
Di Marunda, sebuah kapal nelayan tua bergoyang pelan tertiup angin kencang. Di atas dermaga yang rapuh, seorang lelaki berdiri bersandar pada tiang, memegang bahunya yang berdarah, menatap ke arah jalan setapak di mana dua sosok wanita sedang berlari menuju arah yang berbeda, namun menuju takdir yang sama.
Siapakah yang akan sampai lebih dulu? Ataukah Batavia Van Orange akan menelan ketiganya dalam pusaran sejarah yang tak pernah mengizinkan cinta berbeda kasta untuk bersatu?
Hujan semakin lebat, menghapus jejak kaki, menyisakan misteri yang menggantung di bawah langit malam yang pekat. Hanya deru ombak Sunda Kelapa yang tahu, kepada siapa hati sang Macan Kemayoran akhirnya akan berlabuh.