Langit Batavia sore itu serupa lelehan emas di atas permukaan kanal-kanal yang kaku. Angin laut membawa aroma yang ganjil; perpaduan antara bau anyir lumpur, rempah-rempah yang membusuk di gudang-gudang VOC, dan wangi melati yang samar dari sanggul para nyonya Belanda. Di bantaran Kali Besar, seorang lelaki berdiri tegak dengan otot-otot lengan yang keras seperti akar pohon jati. Namanya Ahmad, namun orang-orang di kampung pinggiran menyebutnya Si Macan Kemayoran. Ia mengenakan pangsi hitam yang sudah pudar warnanya, dengan sarung tersampir di pundak, menyembunyikan sebilah golok yang ketajamannya mampu membelah selembar sutra yang jatuh ditiup angin.
Ahmad bukan sekadar pesilat. Gerakannya adalah tarian maut yang lahir dari kepedihan tanah yang dijajah. Namun, sore ini, matanya yang tajam tidak sedang mengincar leher serdadu kompeni. Ia sedang menunggu sebuah kereta kuda dengan lambang keluarga Van Deventer.
Dari kejauhan, derap kaki kuda memecah keheningan jalanan batu yang rapi. Kereta itu berhenti tepat di depan sebuah gereja tua yang dindingnya mulai berlumut. Pintu kereta terbuka, dan turunlah seorang wanita yang kecantikannya seolah mampu menghentikan aliran air kanal. Anna Van Deventer, putri tunggal seorang pejabat tinggi VOC yang dikenal bertangan besi. Rambutnya pirang pucat, nyaris seperti warna pasir di bawah sinar bulan, dan matanya biru jernih, namun menyimpan mendung yang dalam.
Anna melangkah perlahan menuju tepian dermaga kayu, tempat Ahmad sudah menunggu dalam bayang-bayang pohon tanjung. Pertemuan ini adalah dosa besar. Di Batavia tahun 1740, seorang wanita Belanda yang bercakap dengan pribumi kasta rendahan adalah skandal yang cukup untuk menghancurkan sebuah dinasti. Namun bagi Anna, tembok-tembok tinggi benteng Batavia adalah penjara, dan Ahmad adalah satu-satunya jendela menuju kebebasan.
"Kau datang lagi, Ahmad," bisik Anna dalam bahasa Melayu yang masih kaku namun terdengar sangat manis di telinga Ahmad.
Ahmad menunduk sedikit, bukan karena rasa takut pada kasta wanita di depannya, tapi karena penghormatan yang tulus. "Nona terlalu berisiko datang ke sini. Serdadu patroli sedang sensitif karena kabar pemberontakan di luar tembok kota."
Anna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat jantung Ahmad yang biasanya sedingin es saat bertarung, mendadak berdegup kencang. "Biarkan saja. Mereka hanya bisa mengurung tubuhku, tidak pikiranku. Kau membawa apa yang kupinta?"
Ahmad merogoh saku pangsinya, mengeluarkan sebuah bungkusan kain hijau lumut. Di dalamnya terdapat sebuah kitab kecil dengan tulisan Arab yang rapi. Tangan mereka bersentuhan saat perpindahan kitab itu terjadi. Kulit Anna yang putih porselen tampak begitu kontras dengan tangan Ahmad yang gelap, kasar, dan penuh bekas luka akibat latihan silat yang berat. Getaran itu terasa nyata—sebuah tegangan antara dua kutub dunia yang dipaksa terpisah oleh hukum manusia.
"Ini kitab tentang tauhid dan akhlak, Nona. Seperti yang kau tanyakan tempo hari tentang mengapa kami tetap bersyukur meski hidup dalam kesempitan," ujar Ahmad pelan.
Anna mendekap kitab itu ke dadanya. Selama berbulan-bulan, ia merasa asing di tengah kemegahan pesta dansa di kastil. Ia merasa muak melihat bagaimana bangsanya memperlakukan manusia seperti barang dagangan. Dalam diri Ahmad, ia menemukan sesuatu yang tidak dimiliki para perwira Belanda yang melamarnya: ketenangan jiwa yang teguh dan martabat yang tidak bisa dibeli dengan gulden.
"Ahmad... semalam aku bermimpi," Anna menatap jauh ke arah laut, ke arah kapal-kapal besar yang bersiap berlayar menuju Eropa. "Aku bermimpi kita berjalan di pasar yang ramai, tanpa ada yang menatap kita dengan kemarahan. Aku mengenakan kain seperti wanitamu, dan kau tidak perlu menyembunyikan golokmu. Di dalam mimpiku, aku mendengar suara panggilan yang indah dari menara masjid, dan aku mengerti setiap katanya."
Ahmad terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia tahu impian itu adalah mustahil. Ia adalah buronan yang dicari karena sering mencegat upeti kompeni untuk dibagikan ke rakyat jelata, sementara Anna adalah perhiasan tertinggi di Batavia. "Nona, mimpi adalah tempat kita bersembunyi. Tapi dunia ini adalah tempat kita diuji. Jika ayahmu tahu kau mempelajari jalan kami, ia akan membawamu pulang ke Belanda dalam rantai emas."
"Maka biarkan aku dirantai," sahut Anna dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Asalkan jiwaku tidak lagi kosong. Katakan padaku, Ahmad, apa artinya 'Lailahaillallah' yang kau bisikkan saat kau menyelamatkanku dari gerombolan penyamun di hutan Ommelanden waktu itu?"
Ahmad menatap mata biru itu, mencari sisa-sisa keraguan namun tidak menemukannya. Di bawah bayangan pohon tanjung yang merunduk, ia menjelaskan tentang keesaan Tuhan, tentang bagaimana semua manusia berdiri setara di depan Pencipta, tanpa peduli apakah dia penguasa VOC atau kuli panggul di pelabuhan Sunda Kelapa. Suara Ahmad yang berat dan mantap seolah menjadi musik latar bagi matahari yang mulai tenggelam.
"Di jalan ini, Nona, tidak ada kasta. Hanya ada hamba dan Tuhannya. Jika kau memilihnya, kau mungkin akan kehilangan dunia ini, tapi kau mendapatkan semesta yang lebih luas."
Air mata Anna jatuh, membasahi pipinya yang kemerahan. Ia merasa seolah-olah seluruh beban sebagai putri bangsawan yang angkuh luruh seketika. "Aku ingin pulang, Ahmad. Bukan ke Belanda, tapi ke tempat yang kau ceritakan itu. Aku ingin menjadi bagian dari sujudmu."
Tiba-tiba, suara terompet militer terdengar dari arah benteng. Deru sepatu bot serdadu yang berlari mendekat membuat burung-burung berterbangan dari dahan. Wajah Ahmad berubah drastis. Matanya kembali menajam, insting Macan Kemayoran-nya bangkit.
"Nona, kau harus pergi sekarang! Seseorang pasti telah melapor!"
"Tidak tanpa janji darimu, Ahmad!" seru Anna sambil menggenggam lengan Ahmad yang kokoh.
Ahmad menarik Anna ke balik kereta kuda. Dari ujung jalan, belasan serdadu dengan senapan mosket lengkap telah mengepung area tersebut. Kapten Van Horn, tunangan Anna yang kejam, memimpin di depan dengan pedang terhunus.
"Lepaskan putriku, kau tikus pribumi!" teriak suara bariton dari arah belakang serdadu. Itu adalah Tuan Van Deventer.
Ahmad menatap Anna untuk terakhir kalinya. Ia tahu, jika ia melawan sekarang, ia mungkin bisa membunuh lima atau enam orang, tapi Anna akan celaka dalam baku tembak. Dengan gerakan yang sangat cepat dan lembut, Ahmad mencium kening Anna—sebuah ciuman yang merupakan simbol perpisahan sekaligus janji setia yang melampaui logika zaman itu.
"Jika kita tidak bertemu di Batavia Van Orange ini, Nona... carilah aku di bawah pohon yang buahnya tidak pernah habis, di tempat di mana tidak ada lagi VOC, tidak ada lagi perbudakan," bisik Ahmad.
Ahmad kemudian mendorong Anna dengan lembut menuju keretanya, sementara ia sendiri melompat ke arah kanal. Ia melakukan salto di udara, gerakannya begitu sinematik seolah waktu melambat. Goloknya berkilat memantulkan sisa cahaya matahari terakhir sebelum ia menceburkan diri ke dalam air yang gelap.
"Tembak! Tembak dia!" teriak Kapten Van Horn.
Rentetan tembakan mosket memecah sunyi maghrib di Batavia. Air kanal bergejolak, merah oleh tanah dan mungkin juga darah. Anna menjerit, sebuah jeritan yang akan menghantui tembok-tembok Batavia selama berabad-abad. Ia jatuh berlutut di tanah, mengabaikan gaun mahalnya yang kotor, sambil mendekap erat kitab hijau pemberian Ahmad.
Malam pun jatuh. Batavia kembali sunyi, namun di bawah permukaan kanal yang tenang, misteri tetap tersimpan. Serdadu tidak pernah menemukan jasad Ahmad. Yang tersisa hanyalah sarung golok hitam yang mengapung di permukaan air, bergerak pelan mengikuti arus menuju laut lepas.
Anna berdiri di balkon kamarnya malam itu, menatap ke arah perkampungan pribumi di kejauhan yang gelap gulita. Ia membisikkan kata-kata yang baru dipelajarinya dengan penuh keyakinan, sementara tangannya meraba bekas ciuman Ahmad di keningnya yang masih terasa hangat. Di luar sana, angin malam membawa suara sayup-sayup dzikir dari kejauhan, atau mungkin itu hanya imajinasinya.
Apakah Ahmad selamat? Apakah ia sedang mengintai dari kegelapan untuk menjemputnya? Atau apakah ia telah menjadi martir bagi cinta dan keyakinan yang tak berujung?
Batavia tetap membisu. Hanya bulan sabit yang menggantung rendah di atas pelabuhan, menjadi saksi satu-satunya tentang seorang pesilat yang mencintai putri penjajahnya, dan seorang bangsawan yang jatuh cinta pada Tuhan sang pejuang. Cinta mereka menggantung di antara dua dunia, setajam mata golok, dan sedalam samudra yang memisahkan Batavia dari tanah kelahiran Anna. Di gerbang Ommelanden, kisah itu tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya menunggu waktu untuk dituliskan kembali oleh takdir yang lebih adil.