Malam itu, rintik hujan mengetuk kaca jendela ruang tamu dengan nada yang gelisah. Di meja makan yang sederhana, asap kopi hitam kesukaan Mas Danu masih mengepul tipis. Namun, laki-laki yang biasanya ceria itu malam ini tampak lebih banyak diam. Tatapannya kosong, menembus dinding ruang tengah yang baru saja selesai kami cat dua bulan lalu.
Aku, Hanum, duduk di sampingnya sambil melipat pakaian. Perasaan seorang istri jarang sekali meleset. Ada sesuatu yang berat yang sedang ia pikul di pundaknya, sesuatu yang bukan berasal dari tumpukan berkas di kantornya.
"Mas, kalau kopinya didiamkan terus, dia bakal sepahit pikiranmu," ucapku lembut, mencoba mencairkan suasana.
Mas Danu menghela napas panjang. Ia menoleh padaku, matanya menyiratkan keraguan yang amat sangat. "Num... tadi Mbak Sari telepon."
Mbak Sari adalah kakak sulung Mas Danu. Dia sudah tiga tahun bekerja di luar negeri, di sebuah perusahaan kargo besar di Dubai. Gajinya besar, jauh melampaui gaji Mas Danu sebagai staf administrasi. Setiap bulan, Mbak Sari rajin mengirim uang untuk sekolah keponakan-keponakan kami dan biaya hidup ibunya di kampung. Dia adalah pahlawan keluarga.
"Oh, Mbak Sari? Apa kabarnya? Dia sehat?" tanyaku.
"Sehat. Dia bilang... pembangunan rumahnya di kampung sebentar lagi selesai. Tapi ternyata biayanya membengkak. Dia butuh tambahan dana sekitar dua ratus juta untuk penyelesaian akhir dan pengisian furnitur," Mas Danu menjeda kalimatnya. Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Dia mau pinjam nama Mas untuk ambil kredit di bank. Katanya, kalau pakai nama dia susah karena dia posisinya di luar negeri dan statusnya kontrak kerja internasional. Dia janji, dia yang akan bayar cicilannya tiap bulan. Toh, gajinya lebih dari cukup untuk itu."
Detik itu juga, jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Ruangan yang hangat itu mendadak terasa dingin.
"Pinjam nama, Mas?" suaraku sedikit bergetar.
Mas Danu mengangguk cepat. "Iya, Num. Mbak Sari itu orang baik. Kamu tahu sendiri bagaimana dia bantu kita pas pernikahan dulu, bagaimana dia selalu ada buat Ibu. Dia bilang dia terdesak. Rumah itu impiannya sejak lama, dia ingin Ibu segera bisa pindah ke sana supaya lebih nyaman."
Aku terdiam. Di dalam kepalaku, badai logika mulai berkecamuk. Aku tahu Mbak Sari orang baik. Aku tahu dia mampu secara finansial saat ini. Tapi, hidup bukanlah garis lurus yang selalu menanjak. Hidup adalah kurva yang bisa anjlok kapan saja tanpa peringatan.
"Mas... aku tidak setuju," ucapku pelan namun tegas.
Genggaman tangan Mas Danu melemas. Ia tampak terkejut. "Tapi kenapa, Num? Ini Mbak Sari, kakak kandungku sendiri. Dia tidak mungkin menjerumuskan kita. Dia punya uangnya, dia cuma butuh 'administrasi' atas nama Mas."
Aku menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. "Mas, dengarkan aku. Hari apes tidak ada yang tahu. Hari ini Mbak Sari kerja di luar dengan gaji besar, tapi siapa yang menjamin hari esok? Bagaimana kalau perusahaannya bangkrut? Bagaimana kalau dia sakit dan harus pulang? Bagaimana kalau ada regulasi baru yang membuat dia tidak bisa mengirim uang?"
"Itu pemikiran yang terlalu jauh, Num," potong Mas Danu dengan nada sedikit meninggi.
"Itu pemikiran yang realistis, Mas! Kalau hal buruk itu terjadi, yang dikejar bank bukan Mbak Sari di Dubai, tapi kamu di sini. Rumah ini, motor kita, bahkan nama baikmu di BI Checking akan hancur. Kita baru saja mulai menata hidup. Kita punya mimpi sendiri. Kalau namamu sudah terpakai untuk utang orang lain, bagaimana kalau suatu saat kita benar-benar butuh untuk urusan mendesak kita sendiri?"
Malam itu berakhir dengan keheningan yang menyakitkan. Mas Danu tidur memunggungiku. Aku tahu dia kecewa, mungkin dia merasa aku adalah istri yang pelit dan tidak tahu balas budi pada keluarganya. Di kegelapan kamar, aku menangis dalam diam. Aku tidak membenci Mbak Sari, aku hanya sedang menjaga satu-satunya kapal yang aku tumpangi agar tidak bocor.
Keesokan harinya, suasana masih kaku. Mas Danu berangkat kerja tanpa mencium keningku seperti biasanya. Rasanya sesak sekali. Namun, aku tetap teguh. Aku tahu, pihak bank pasti akan meminta tanda tangan istri sebagai syarat mutlak peminjaman agunan atau kredit tanpa agunan dalam jumlah besar. Tanpa tanda tanganku, rencana itu tidak akan jalan.
Seminggu berlalu. Mbak Sari meneleponku langsung. Suaranya di telepon terdengar ramah namun penuh tekanan.
"Num, Mas Danu sudah cerita kan? Tolonglah Mbak kali ini saja. Mbak sudah keluar banyak uang untuk rumah itu, sayang kalau berhenti di tengah jalan. Mbak jamin, Hanum tidak akan pusing soal cicilan. Mbak kirim langsung ke rekening kalian tiap bulan."
Aku memejamkan mata, memohon kekuatan pada Tuhan. "Mbak Sari, maafkan Hanum. Hanum sangat menghormati Mbak, tapi untuk urusan pinjam nama di bank, Hanum tetap pada keputusan awal. Hanum tidak berani. Hanum ingin hubungan kita tetap murni karena kasih sayang, bukan karena beban utang-piutang yang bisa merusak silaturahmi kalau ada apa-apa nanti."
Ada jeda lama di seberang telepon. "Jadi kamu tidak percaya sama Mbak sendiri?" suaranya mendingin.
"Ini bukan soal percaya atau tidak, Mbak. Ini soal prinsip perlindungan rumah tangga kami. Maafkan Hanum," jawabku dengan suara bergetar.
Telepon ditutup sepihak. Aku terduduk lemas di lantai dapur, terisak. Aku merasa seperti orang jahat. Aku merasa seperti duri dalam keluarga mereka.
Sore harinya, Mas Danu pulang dengan wajah letih. Ia duduk di kursi teras, melihatku yang sedang menyiram tanaman.
"Num," panggilnya.
Aku menoleh ragu. "Ya, Mas?"
"Mbak Sari barusan telepon lagi. Dia marah besar. Dia bilang aku suami takut istri," Mas Danu menunduk, memainkan kunci motornya.
Hatiku mencelos. "Lalu, apa kata Mas?"
Mas Danu diam sejenak, lalu menatapku dalam-dalam. "Aku bilang ke Mbak Sari... Hanum benar. Aku ini kepala keluarga, tapi kamu adalah penjaga gerbangnya. Kalau penjaga gerbang sudah merasa ada bahaya, aku sebagai nahkoda tidak boleh keras kepala menabrakkan kapal ini. Aku bilang ke Mbak Sari, aku tidak bisa memaksamu tanda tangan karena itu hakmu. Aku minta maaf padanya, dan aku bilang aku akan bantu dengan cara lain—mungkin menyisihkan sedikit gajiku tiap bulan untuk beli semen atau cat—tapi tidak dengan meminjamkan namaku ke bank."
Aku menjatuhkan selang air, berlari ke arahnya dan memeluknya erat. Air mataku tumpah di bahunya. "Terima kasih, Mas... terima kasih sudah mau mengerti."
"Aku sempat marah padamu, Num. Tapi setelah kupikirkan lagi di kantor, kalau seandainya benar aku kehilangan pekerjaan dan Mbak Sari juga ada masalah di sana, kita mau tinggal di mana? Di bawah jembatan? Aku yang seharusnya melindungimu, bukan malah menjaminkan masa depanmu untuk kenyamanan orang lain, sekalipun itu kakakku."
Akhirnya, Mbak Sari mencari jalan lain. Entah menggunakan nama siapa, atau mungkin dia mengambil pinjaman di tempat kerjanya di sana. Kami tidak pernah bertanya lagi. Hubungan kami sempat mendingin selama beberapa bulan. Ibu mertua juga sempat menyindir halus saat lebaran, tapi aku dan Mas Danu hanya tersenyum dan tetap melayani Ibu dengan sebaik mungkin.
Waktu berlalu. Dua tahun kemudian, badai yang aku takuti itu benar-benar datang, tapi bukan kepada kami.
Pandemi melanda dunia. Perusahaan kargo tempat Mbak Sari bekerja melakukan pengurangan karyawan besar-besaran. Mbak Sari termasuk yang terkena PHK. Dia pulang ke Indonesia dengan pesangon yang tidak seberapa karena status kontraknya. Rumah besarnya di kampung sudah jadi, namun ia tidak punya lagi penghasilan tetap yang besar untuk biaya perawatan dan gaya hidup seperti dulu.
Suatu malam, Mbak Sari datang ke rumah kami. Dia menangis di ruang tamu yang sama tempat dulu kami berdebat.
"Danu... Hanum... Mbak mau minta maaf," isaknya. "Mbak baru sadar sekarang. Waktu itu Mbak sombong karena merasa uang Mbak tidak akan habis. Ternyata benar kata Hanum, hari apes tidak ada yang tahu. Mbak tidak bisa membayangkan kalau waktu itu kalian jadi pinjam bank pakai nama Danu. Dengan kondisi Mbak yang tidak kerja sekarang, pasti kalian yang akan dikejar-kejar bank setiap bulan. Kalian pasti hancur karena ulah Mbak."
Mas Danu memegang tangan kakaknya. "Sudahlah, Mbak. Yang penting Mbak sudah pulang dengan selamat. Rumah itu sudah jadi, bisa Mbak tempati dengan Ibu. Itu sudah cukup."
Mbak Sari menoleh padaku, matanya sembab. "Hanum, terima kasih ya. Terima kasih sudah menjadi istri yang berani berkata 'tidak'. Kalau bukan karena ketegasanmu, mungkin sekarang Mas Danu sudah kehilangan harga diri karena gagal bayar bank, dan hubungan kita mungkin sudah hancur total karena saling menyalahkan. Kamu benar-benar menjaga keluarga ini."
Aku memeluk kakak iparku itu. Tidak ada lagi rasa kesal, yang ada hanya rasa syukur yang membuncah.
Kini, rumah Mbak Sari sudah berdiri megah di kampung. Hubungan kami tetap baik, bahkan lebih erat dan saling menghormati. Mas Danu menjadi suami yang jauh lebih bijak dalam mengambil keputusan, selalu melibatkan aku dalam setiap langkah besar.
Aku belajar satu hal penting: Mencintai keluarga bukan berarti harus mengiyakan semua keinginan mereka yang berisiko. Terkadang, bentuk cinta yang paling tinggi adalah keberanian untuk menolak sesuatu yang berpotensi menghancurkan kapal yang sedang kita kayuh bersama.
Alhamdulillah, rumah itu jadi, dan yang lebih penting, rumah tangga kami serta persaudaraan kami tetap utuh tanpa ada satu pun pihak yang merasa terbebani. Karena di balik ketegasan seorang istri, terkadang ada doa yang sedang menjaga keselamatan seluruh keluarga.
***