Di sebuah sudut kota yang basah oleh hujan, Johan Romelo Sabri—yang akrab disapa Romel—duduk termenung di ambang jendela. Di jemarinya, sebatang rokok menyala, asapnya menari-nari sebelum hilang ditelan dinginnya udara. Baginya, sejak saat itu rokok menjadi teman paling setia, menggantikan hangatnya percakapan yang kini hanya tinggal gema.
Hatinya masih tertinggal di masa lalu, pada sosok Monalisa Nakita Alam. Mona adalah cinta yang ia jaga dengan seluruh jiwanya, namun ironisnya, ia hanya menjadi penjaga jodoh orang lain. Harapan-harapan manis yang dulu ditaburkan Mona kini terasa seperti janji kosong yang menguap bersama hujan. Mona telah memilih jalannya di negeri seberang, membangun hidup baru sebagai istri dari Robert Sky Donaldson, seorang pria asing yang memberinya marga baru.
Kabar tentang Mona kini hanya sampai lewat potongan cerita di media sosial. Romel tahu Mona tampak bahagia dengan putri kecilnya, Valeria Tammy Alam Donaldson. Nama tengah "Alam" pada anak itu seolah menjadi satu-satunya benang merah yang masih menghubungkan Romel dengan silsilah keluarga Mona, namun keberadaan nama "Donaldson" di belakangnya adalah pengingat pahit bahwa jarak mereka sudah tak terukur lagi oleh kilometer.
Di tengah lamunan yang menyesakkan itu, sebuah realita baru menanti Romel. Keluarganya telah mengatur sebuah taaruf. Ia dijodohkan dengan sepupunya sendiri, Miana Suri Zahirah. Mian adalah sosok yang baik, namun bagi Romel, membuka hati terasa seperti memaksa luka yang belum kering untuk kembali berjalan.
Sambil menatap rintik hujan di kaca, Romel menghembuskan napas panjang. Ia terjebak di antara kesetiaan pada bayang-bayang Mona dan keharusan untuk menerima Mian. Di jendela itu, ia sadar bahwa ia telah lama kehilangan arah, sementara wanita yang ia cintai sudah jauh melangkah melintasi samudra.
Rumah keluarga besar Sabri riuh rendah oleh suara tawa dan aroma masakan, namun bagi Romel, suasana itu terasa begitu asing. Ia berdiri di sudut teras, menjauh dari keramaian, membiarkan dinginnya sisa hujan menyentuh kulitnya. Di tangannya, kepul asap rokok kembali menjadi pelarian, sebuah kebiasaan yang lahir sejak saat itu, sejak surat undangan pernikahan Mona dan Robert mendarat di meja belajarnya bertahun-tahun lalu.
"Mas Romel?" sebuah suara lembut memecah lamunannya.
Romel menoleh. Di hadapannya berdiri Mian mengenakan gamis berwarna pastel yang bersahaja, dengan senyum yang menyimpan ketulusan, bukan janji-janji kosong seperti yang sering ia terima dari Mona. Sebagai sepupu jauh, mereka jarang bertemu, dan kini pertemuan ini terasa begitu berat karena membawa label "taaruf".
"Rokoknya hampir habis, Mas. Nanti sesak," ucap Mian pelan, matanya tidak menghakimi, justru menyimpan simpati yang dalam.
Romel tertegun. Ia teringat bagaimana dulu Mona selalu memintanya berhenti merokok demi masa depan mereka, namun wanita itu pula yang akhirnya meninggalkannya untuk membangun masa depan dengan pria asing di luar negeri. Kini, Mona telah menjadi bagian dari keluarga Donaldson, dan putri kecilnya, Valeria , mungkin tak akan pernah mengenal sosok paman bernama Romel yang dulu begitu memuja ibunya.
"Hanya teman di kala hujan, Mi," jawab Romel singkat, suaranya parau.
Mian mendekat satu langkah, menjaga jarak yang sopan.
"Aku tahu, pindah ke hati yang baru itu tidak semudah pindah rumah. Tapi Mas, jangan biarkan diri Mas terkunci di jendela yang sama sementara hujannya sudah reda."
Kata-kata Mian menghujam tepat di ulu hati Romel. Ia melihat ketulusan di mata Mian, sesuatu yang selama ini ia abaikan karena terlalu sibuk menjaga bayang-bayang jodoh orang lain. Di dalam rumah, keluarga mereka sedang membicarakan masa depan, sementara di luar sini, Romel mulai menyadari bahwa mungkin, Mian adalah jawaban yang dikirim Tuhan untuk menyembuhkan luka yang dibawa angin dari seberang samudra.
Romel terdiam. Ia menatap sisa rokok di jemarinya yang hampir habis, lalu menekannya pelan di asbak hingga padam. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia membalikkan badan, membelakangi jendela hujan itu, dan menatap Mian sepenuhnya.
***
𝗗𝗶 𝗮𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗲𝗻𝗱𝗲𝗹𝗮 𝗮𝗸𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗼𝘀 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮
𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗿𝗶𝗻𝗱𝘂 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗶𝗻𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗸𝗻𝘆𝗮
𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻-𝘁𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗮𝗸𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝘁𝘂𝗸
𝗻𝗮𝗺𝘂𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝘄𝗮𝗯 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝘂𝗻𝘆𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗸𝘂𝗸
𝗔𝗸𝘂 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗷𝗮 𝗻𝗮𝗺𝗮𝗺𝘂 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗿𝗶𝗻𝘁𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵
𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗸𝗮𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗵𝘂𝗹𝘂 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘂𝗵
𝗠𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗮𝘀𝗶𝗻𝗴 𝗶𝘁𝘂 𝗸𝗶𝗻𝗶 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗴𝗮𝗿𝗶 𝗹𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗵𝗺𝘂
𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗸𝘂 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝘀𝗶𝗯𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗻𝗴𝘂𝘁𝗶 𝘀𝗶𝘀𝗮-𝘀𝗶𝘀𝗮 𝗮𝗯𝘂𝗺𝘂
𝗟𝗮𝗹𝘂 𝗶𝗮 𝗱𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗮𝘄𝗮 𝗽𝗮𝘆𝘂𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗯𝗶𝗰𝗮𝗿𝗮
𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗵𝘂𝗷𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗽𝗶 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮
𝗜𝗮 𝘁𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮𝗸𝘂 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮𝗸𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘁𝗮𝗽
𝘀𝗲𝗯𝗮𝗯 𝗱𝗶 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗱𝗮 𝗹𝗮𝗻𝗴𝗶𝘁 𝗯𝗮𝗿𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗲𝘁𝗮𝗽
𝗞𝘂𝗺𝗮𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗿𝗮 𝗱𝗶 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗿𝗶, 𝗸𝘂𝗽𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴𝗶 𝗷𝗲𝗻𝗱𝗲𝗹𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗮𝘀𝗮𝗵
𝘀𝗮𝗷𝗮𝗸 𝗶𝗻𝗶 𝘁𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴𝗺𝘂 𝗯𝗶𝗮𝗿𝗹𝗮𝗵 𝗶𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗲𝗻𝘁𝗶 𝗱𝗶 𝘀𝗶𝗻𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗽𝗮𝘀𝗿𝗮𝗵
𝗦𝗲𝗯𝗮𝗯 𝘀𝘂𝗿𝗮𝘁-𝘀𝘂𝗿𝗮𝘁𝗸𝘂 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗹𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁
𝗱𝗮𝗻 𝗸𝗶𝗻𝗶, 𝗱𝗶 𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗮𝗻𝗸𝘂, 𝗮𝗱𝗮 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝘂𝗹𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁
( 𝘚𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘏𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 )