Setelah pernikahan Cinderella dengan Pangeran, istana dipenuhi kebahagiaan.
Namun di rumah keluarga Tremaine…
Tidak ada musik.Tidak ada tawa.
Hanya keheningan yang membuat Drizella Tremaine semakin kesal.
“Semua ini salahnya!” bentaknya, melempar sisir ke meja.“Dia yang merebut segalanya!”
Meski pesta telah berakhir, rasa iri di hatinya belum juga pergi.
Ia masih sama—keras, sinis, dan tidak mau kalah.
Suatu hari, ibu mereka, Lady Tremaine, memaksa Drizella dan Anastasia pergi ke kota untuk “mencari kesempatan baru”.
Dengan wajah kesal, Drizella berjalan di pasar desa.
“Tempat kotor… orang-orang biasa…” gumamnya jijik.
Namun saat ia lewat, seseorang tanpa sengaja menabraknya.
“Maaf!” kata pria itu cepat.
Drizella langsung marah.“Kamu tidak lihat jalan?!”
Pria itu tidak membalas dengan marah.Ia justru mengangguk sopan.
“Aku salah.Tapi kamu juga terlihat seperti sedang marah sejak sebelum aku menabrakmu.”
Drizella terdiam sesaat.
Berani sekali orang ini.
“Aku tidak peduli dengan pendapatmu,” katanya dingin.
Pria itu tersenyum tipis.“Namaku Edmund.”
Drizella mendengus dan pergi.
Namun… kata-katanya tadi terus terngiang.
Hari-hari berikutnya, Drizella beberapa kali bertemu Edmund lagi—di pasar, di jalan, bahkan di taman.
Dan setiap kali, Edmund selalu sama yang Tenang.Tidak takut.
Tidak mencoba menyenangkannya.
Dan yang paling membuat Drizella kesal…
Ia tidak pernah terkesan oleh sikap angkuhnya.
Suatu sore, Drizella akhirnya tidak tahan.
“Kenapa kamu selalu muncul?” tanyanya tajam.
Edmund mengangkat bahu.“Mungkin karena kamu selalu datang ke tempat yang sama.”
Drizella terdiam.
Untuk pertama kalinya… ia kehabisan kata.
Tanpa ia sadari, percakapan mereka mulai berubah.
Dari sindiran… menjadi perdebatan.Dari perdebatan… menjadi kebiasaan.
Namun Drizella tetap Drizella.
Ia masih mudah kesal, masih sering meremehkan, masih keras kepala.
Sampai suatu hari, Edmund berkata,
“Kamu tahu? Kamu sebenarnya tidak seburuk yang kamu pikir harus kamu tunjukkan.”
Drizella langsung tersinggung.
“Aku tidak berpura-pura!”
“Justru itu,” jawab Edmund pelan.“Kamu terlalu sibuk menjadi keras… sampai lupa jadi jujur.”
Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari hinaan apa pun.
Malam itu, Drizella duduk sendiri.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menyalahkan Cinderella.
Ia menyalahkan dirinya sendiri.
Hari berikutnya, saat bertemu Edmund lagi, ia tidak langsung marah.
“Aku… tidak tahu bagaimana caranya berubah,” katanya canggung.
Edmund tersenyum kecil.
“Tidak perlu berubah jadi orang lain.Cukup berhenti jadi seseorang yang kamu sendiri tidak suka.”
Perubahan itu tidak instan.
Drizella masih sering kesal.Masih sering gagal.
Namun kali ini… ia mencoba.
Dan Edmund tetap ada—bukan untuk mengubahnya, tapi untuk menerimanya sambil mendorongnya jadi lebih baik.
Suatu hari, dari kejauhan, Cinderella melihat Drizella berbicara dengan seseorang… tanpa marah, tanpa memerintah.
Cinderella tersenyum pelan.
Mungkin, tidak semua kisah harus dimulai dengan kebaikan…
tapi bisa berakhir dengan harapan.
Tidak semua orang berubah karena keajaiban.Kadang, perubahan datang dari pertemuan sederhana… dengan seseorang yang melihat kita apa adanya.
Tamat.