Di tepi dapur sebuah rumah, hiduplah koloni semut yang rajin.Di antara mereka, ada seekor semut kecil bernama Timo yang terkenal paling berani—atau lebih tepatnya, tidak tahu diri.
Suatu sore, tercium aroma manis dari meja.Di atasnya ada sepiring ketan putih yang lengket, masih hangat, ditaburi kelapa.
“Jangan ke sana,” kata Rara, semut yang lebih tua.“Ketan itu berbahaya.Lengketnya bisa menjebak kita.”
Timo tertawa kecil.“Ah, kalian terlalu penakut! Cuma makanan biasa.”
Tanpa pikir panjang, Timo memanjat kaki meja dan sampai ke piring ketan.Aromanya membuatnya semakin yakin.
“Lihat? Tidak ada apa-apa,” katanya sombong.
Ia pun melangkah ke atas ketan.
Langkah pertama terasa aman.Langkah kedua… mulai terasa aneh.Langkah ketiga—kakinya menempel.
“Hah?” Timo mencoba menarik kakinya.Tapi semakin ia bergerak, tubuhnya justru semakin terjebak dalam lengketnya ketan.
“Rara! Tolong!” teriaknya panik.
Dari bawah meja, Rara dan semut lainnya melihat.
“Aku sudah bilang…” gumam Rara, tapi ia tetap memanggil bantuan.
Beberapa semut mencoba menolong dengan menarik Timo dari pinggir.Namun ketan itu terlalu lengket.
“Tahan, Timo! Jangan banyak bergerak!” teriak Rara.
Tapi karena panik, Timo terus meronta. Akibatnya, ia semakin tenggelam dalam ketan.
Akhirnya, dengan usaha keras, semut-semut itu berhasil menarik Timo keluar—meskipun tubuhnya sudah penuh sisa ketan dan ia kelelahan.
Timo terdiam. Nafasnya tersengal, tubuhnya lengket dan kotor.
“Aku… salah,” katanya pelan.“Aku terlalu meremehkan sesuatu yang tidak aku pahami.”
Rara mendekat.“Berani itu baik, Timo.Tapi kalau tidak pakai hati-hati, itu bukan berani… itu ceroboh.”
Timo menunduk.Sejak hari itu, ia tetap berani—tapi lebih tahu diri dan mau mendengar.
Jangan meremehkan sesuatu yang belum kita pahami.Keberanian tanpa kehati-hatian hanya akan membawa kita ke masalah.
Tamat