“Enaknya hidup bebas ya… gak perlu setia sama satu orang.”
Kalimat itu pertama kali didengar oleh Kak Rani dari dapur kecil sharing flat itu. Ia sedang menuang air panas ke gelas kopinya ketika suara Melati terdengar dari ruang tengah. Ada tawa kecil, lalu suara lain menimpali.
“Open marriage gitu, loh. Sama-sama bebas. Gak ada yang ngatur.”
Rani tidak ikut nimbrung. Ia hanya diam, menggenggam gelasnya. Istilah itu terasa asing sekaligus dingin. Open marriage. Pernikahan terbuka. Katanya, dua orang menikah tapi tetap boleh punya pasangan lain.
Bagi Rani, itu terdengar seperti pintu rumah yang sengaja dibiarkan terbuka… dan semua orang dipersilakan masuk.
Sharing flat itu sederhana. Tiga kamar, satu ruang tengah, dapur kecil, dan balkon sempit yang dipenuhi jemuran. Rani sudah tinggal di sana hampir setahun. Penghuninya sering berganti, tapi ia terbiasa.
Waktu itu, yang tinggal bersamanya adalah Melati—penghuni lama yang cerewet tapi baik—dan seorang perempuan baru bernama Cahaya.
Cahaya datang dengan koper besar, ditemani seorang pria. Pria itu membantu mengangkat barang, memasang lampu, bahkan membersihkan kamar. Mereka tampak seperti pasangan suami istri.
“Suami?” tanya Rani waktu itu.
Cahaya tersenyum. “Iya.”
Malam itu, pria itu menginap. Rani tidak mempermasalahkan. Toh mereka sudah menikah. Bahkan beberapa hari kemudian, Rani sering melihat Cahaya video call dengan seorang anak kecil.
“Anak aku,” kata Cahaya bangga.
Anak itu memanggilnya “Mama”.
Ada tawa.
Ada rindu yang nyata.
Semua terlihat normal.
Beberapa minggu kemudian, pria itu pulang ke kota lain. Cahaya mulai menjalani rutinitas sendiri. Ia bekerja shift malam, pulang pagi, kadang memasak, kadang tidak pulang seharian.
Lalu suatu malam, seorang pria lain datang.
Rani melihatnya sekilas. Tinggi, jaket hitam, wajah asing. Ia mengetuk kamar Cahaya. Pintu dibuka. Mereka tertawa pelan. Pintu tertutup.
Rani tidak berpikir buruk. Mungkin saudara. Mungkin teman kerja. Kota besar penuh kemungkinan.
Tapi pria itu datang lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Kadang malam. Kadang siang. Kadang menginap.
Suatu pagi, Rani keluar kamar dan melihat sepatu pria berbeda di depan pintu Cahaya. Bukan yang kemarin. Bukan juga yang pertama.
Ia mulai merasa tidak nyaman.
Melati hanya mengangkat bahu. “Mungkin sepupunya.”
Rani mencoba percaya.
Namun semakin lama, semakin sulit. Tawa yang berbeda. Parfum yang berbeda. Suara yang berbeda. Kadang Rani mendengar pertengkaran kecil. Kadang suara tangis. Kadang pintu dibanting.
Suatu malam, Rani bangun karena suara keras. Cahaya sedang bertengkar dengan seorang pria di lorong.
“Kamu janji cuma aku!” suara pria itu.
“Jangan drama! Aku gak terikat sama kamu!” balas Cahaya.
“Tapi kamu udah nikah!”
“Terus kenapa? Itu urusan aku!”
Rani menutup pintunya. Dadanya berdebar. Ia tidak ingin ikut campur, tapi kata-kata itu menusuk telinganya.
Beberapa minggu kemudian, Cahaya mendadak pindah. Tidak banyak penjelasan. Ia hanya pamit singkat.
“Dapet tempat lain. Lebih dekat kerja.”
Kamar itu kosong beberapa hari, lalu diisi penghuni baru: Dahlia. Perempuan ramah dengan senyum lembut. Ia membawa tanaman kecil dan rak buku.
Malam pertama, mereka mengobrol di dapur.
“Gue dapet kamar ini dari temen,” kata Dahlia. “Dia mau nikah, jadi pindah.”
“Temen?” tanya Rani.
“Iya, namanya Cahaya. Sepupu gue juga.”
Rani terdiam.
“Nikah?” ia mengulang.
“Iya. Minggu depan katanya.”
Rani mengernyit. “Bukannya… dia udah nikah?”
Dahlia berhenti mengaduk teh. “Maksudnya?”
“Dia bilang punya suami… bahkan punya anak.”
Dahlia menatap Rani lama. Lalu tertawa kecil, ragu. “Iya… dia emang udah nikah.”
“Terus… ini nikah lagi?”
Dahlia mengangguk pelan. “Katanya open marriage. Suaminya tahu.”
Rani merasa perutnya mual.
Dahlia melanjutkan, “Dia bilang… cinta itu gak harus satu. Selama jujur, gak masalah.”
Rani menatap meja. Kata “jujur” terasa pahit. Ia teringat pria-pria yang datang. Pertengkaran. Tangis. Pintu dibanting.
“Dia nikah sama siapa?” tanya Rani.
“Cowok yang sering ke sini katanya. Yang tinggi, jaket hitam.”
Rani teringat wajah itu. Mata tajam. Suara keras.
Ia merasa ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Beberapa hari kemudian, Dahlia menunjukkan undangan digital. Foto Cahaya dengan pria itu. Mereka tersenyum. Bahagia. Seolah tidak ada yang aneh.
Di caption tertulis:
“Cinta bukan soal memiliki, tapi berbagi. Kami memilih jalan kami sendiri.”
Rani menutup ponsel. Ia tidak tahu harus merasa apa. Kesal. Muak. Sedih. Semua bercampur.
Beberapa minggu berlalu. Kehidupan kembali normal. Sampai suatu malam, Dahlia pulang dengan wajah pucat.
“Kak…” suaranya gemetar.
“Ada apa?”
“Cahaya… kecelakaan.”
Rani membeku.
“Dia berantem sama suami barunya. Katanya suami lamanya datang. Mereka ribut. Dia keluar naik motor… terus ditabrak.”
Sunyi jatuh.
Rani duduk perlahan. Dadanya terasa berat.
“Gimana kondisinya?” tanyanya pelan.
“Dirawat. Tapi… kritis.”
Kabar itu seperti batu jatuh ke air. Riaknya pelan tapi dalam.
Beberapa hari kemudian, Dahlia kembali membawa kabar. Kali ini matanya merah.
“Dia… gak selamat.”
Rani menutup wajahnya. Ia bahkan tidak terlalu dekat dengan Cahaya. Tapi rasa kehilangan itu nyata. Dan ada sesuatu yang lebih pahit: semuanya terasa tidak perlu.
Dahlia menceritakan detail yang ia dengar. Suami lama datang ingin menjemput anak. Suami baru marah. Mereka saling menyalahkan. Cahaya terjebak di tengah. Kata-kata kasar. Tuduhan. Tangis.
Tidak ada lagi konsep “bebas”.
Tidak ada lagi “open”.
Yang ada hanya luka.
Anak Cahaya kini tinggal dengan neneknya. Dua pria yang mengaku mencintainya saling menyalahkan. Keluarga terpecah. Dan satu nyawa hilang.
Rani duduk di balkon malam itu. Angin dingin menyentuh wajahnya. Ia teringat kalimat itu.
“Enaknya hidup bebas ya…”
Ternyata kebebasan tanpa batas bukanlah kebahagiaan.
Ia bisa berubah jadi jurang.
Rani merasa marah. Pada konsep yang membungkus luka dengan kata indah. Pada kebebasan yang mengabaikan tanggung jawab. Pada cinta yang berubah jadi perebutan.
Tapi ia juga merasa sedih. Karena di balik semua itu, Cahaya hanyalah manusia yang mungkin ingin dicintai lebih banyak… tanpa sadar bahwa cinta yang dibagi tanpa batas bisa berubah menjadi racun.
Dahlia duduk di sampingnya.
“Kasihan anaknya,” katanya pelan.
Rani mengangguk.
Kadang manusia mencari kebebasan, tapi lupa bahwa hati bukan benda. Ia rapuh. Ia bisa retak. Dan ketika terlalu banyak orang masuk, tidak ada lagi ruang untuk utuh.
Sharing flat itu kembali sunyi. Kamar yang dulu ditempati Cahaya kini kosong lagi. Tapi Rani merasa, cerita itu masih tertinggal di dinding.
Pintu yang dibuka terlalu lebar…
Akhirnya tidak hanya membiarkan cinta masuk,
tapi juga konflik, cemburu, dan kehilangan.
Dan yang paling menyakitkan—
yang pergi bukan hanya hubungan,
melainkan satu kehidupan yang tidak pernah bisa kembali.