Ternyata benar, rasa yang paling menyakitkan bukan hambar, tapi rasa yang memanggil kembali kenangan yang sudah pergi...
Di sebuah sudut kafe yang tenang, aroma crispy shredded chicken atau ayam goreng kriuk saus asam manis yang tersaji di atas meja kayu itu tiba-tiba menarik paksa ingatan Kintania Fatih—atau yang akrab dipanggil Tani—ke masa lalu.
Tani menatap piring itu dengan mata berkaca-kaca. Di sampingnya, Dendi Maulana menyentuh pundaknya pelan, mencoba memberi kekuatan.
"Masih ingat cara Andika Aditya membagi cabai merahnya untukmu, Tan?" tanya Dendi lirih.
Tani mengangguk pelan. Dahulu, setiap kali mereka bertiga berkumpul, Dika selalu menjadi sosok yang paling sibuk memastikan ayam goreng kesukaan Tani ini tersaji sempurna. Dika akan membuang biji cabainya karena tahu Tani tak tahan pedas, lalu tertawa renyah saat melihat Tani makan dengan lahap hingga sausnya belepotan.
"Dia selalu bilang, makanan ini adalah bentuk kasih sayang yang bisa dikunyah," kenang Tani dengan suara bergetar.
Dendi hanya diam, membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Kini, hanya ada kursi kosong di antara mereka. Suasana hangat sore itu mendadak terasa dingin. Tani menyuap satu potong ayam yang kini terasa hambar, bukan karena rasanya yang berubah, tapi karena tangan yang biasanya menyuapkannya telah pergi jauh.
Air mata Tani akhirnya luruh tepat di atas saus yang berkilau itu. Ia menutup mata rapat-rapat, memeluk erat memori tentang tawa Dika yang kini senyap, sambil merindukan setiap suapan dan kehangatan masakan itu kembali hadir di tengah-tengah mereka.
"Masih hambar ya, Tan?" Dendi memecah keheningan, suaranya parau menahan sesak yang sama.
Tani meletakkan sumpitnya dengan tangan gemetar. Ia menatap piring ayam krispi itu, yang warnanya masih secantik dulu, tapi jiwanya seolah hilang.
"Bukan hambar, Den. Tapi rasanya menyakitkan. Setiap kunyahan ini justru memanggil suara Dika yang bilang, 'Makan yang banyak, biar kamu kuat ngadepin aku.''
Tani tersenyum getir, air mata jatuh tanpa permisi.
"Dulu aku benci kalau dia naruh potongan cabai merah ini di piringku hanya untuk menggodaku. Sekarang, aku mau kasih dia seluruh cabai di dunia ini, asal dia duduk lagi di kursi itu."
Dendi menunduk, menatap kursi kosong di antara mereka yang kini terasa begitu luas.
"Dia pernah bilang padaku, kalau suatu saat dia nggak ada, dia mau rasa masakan ini yang jadi peluknya buat kamu."
Tani menggeleng lemah, bahunya terguncang hebat.
"Tapi peluk dari rasa itu nggak pernah cukup, Den. Aku nggak cuma butuh rasanya. Aku mau dia. Aku mau tawa berisiknya saat aku kepedasan. Aku mau denger dia panggil namaku sekali lagi di depan piring ini."
Di bawah temaram lampu kafe, mereka berdua tenggelam dalam duka yang sama. Tani kembali menatap piring itu dengan tatapan kosong, merindukan setiap detik di mana masakan itu bukan sekadar makanan, melainkan saksi bisu kebahagiaan yang kini tinggal kenangan.Dan Tani menyentuh kursi kosong di depannya, seolah berharap bisa merasakan hangat tubuh Dika yang tertinggal di sana.
....
Pernahkah kalian merindukan seseorang hanya karena mencium aroma makanan tertentu?