Bau karbol yang menyengat biasanya membawa ketenangan bagi Aris. Baginya, aroma itu adalah simbol kehidupan baru, tempat di mana tangis bayi pertama kali pecah. Namun siang itu, di koridor lantai tiga Rumah Sakit Bhakti Mulia, bau karbol terasa mencekik.
Adiknya, Riana, baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki tampan setelah perjuangan belasan jam yang melelahkan. Suami Riana sedang dalam perjalanan dinas dari luar kota, menyisakan Aris sebagai satu-satunya pelindung di sana.
"Mas, laper..." bisik Riana lemah dari ranjangnya. Wajahnya pucat, tapi matanya berbinar menatap boks bayi transparan di sampingnya. "Cari makan gih. Dari semalam Mas Aris belum masuk nasi, kan?"
Aris tersenyum, mengusap kepala adiknya. "Beneran nggak apa-apa ditinggal sendiri? Keponakan Mas yang ganteng ini gimana?"
"Kan ada suster, Mas. Aman. Udah, sana."
Aris mengangguk. Ia melangkah keluar kamar, menuju lift untuk turun ke kantin di lantai dasar. Perutnya memang sudah keroncongan hebat. Namun, baru saja pintu lift terbuka di hadapannya, sebuah desir halus di tengkuknya membuat Aris terpaku.
Ada sesuatu yang salah.
Perasaan itu tidak rasional. Seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Aris teringat tatapan Suster Lastri—perawat yang sejak tadi berjaga di ruang bayi. Suster itu tampak gelisah, matanya sering menghindari kontak mata, dan tangannya gemetar saat mengganti popok keponakannya tadi.
Kenapa dia seolah ingin aku cepat-cepat pergi?
Langkah Aris terhenti tepat di depan pintu lift. Suara batinnya berteriak: Balik, Aris! Sekarang!
Mengabaikan rasa lapar yang melilit, Aris berputar arah. Ia tidak menggunakan lift, melainkan berlari menaiki tangga darurat menuju bangsal persalinan. Napasnya memburu bukan karena lelah, tapi karena firasat buruk yang kian menguat.
---
Saat Aris sampai di depan ruang perawatan Riana, langkahnya melambat. Pintu kamar sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat Suster Lastri berdiri membelakangi pintu. Di depannya, ada seorang wanita paruh baya berpakaian mewah, lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya.
Wanita itu menggendong seorang bayi yang dibalut selimut biru.
Itu selimut keponakan Aris.
"Cepat bawa pergi sebelum kakaknya kembali," bisik Suster Lastri dengan nada dingin yang tak pernah Aris dengar sebelumnya. "Uangnya sudah saya terima setengah di rekening. Sisanya harus lunas malam ini."
Wanita itu mengangguk cepat, wajahnya tampak tegang sekaligus ambisius. "Tenang saja. Anak ini akan hidup bak pangeran. Lebih baik dia bersamaku daripada bersama ibunya yang hanya orang biasa ini."
Darah Aris mendidih. Dunia seolah berhenti berputar. Dengan satu sentakan kasar, ia mendorong pintu kamar hingga menghantam dinding.
BRAK!
"Mau dibawa ke mana bayi itu?" suara Aris menggelegar, memenuhi ruangan yang tadinya sunyi.
Suster Lastri terlonjak hebat, wajahnya seketika sepucat kertas. Sementara wanita asing itu mengeratkan pelukannya pada sang bayi, mencoba bersembunyi di balik punggung suster.
"Mas Mas Aris? Bukannya Mas ke bawah cari makan?" tanya Suster Lastri gagap, suaranya bergetar hebat.
Aris melangkah maju, matanya menatap tajam, penuh amarah yang tertahan. "Untung aku nggak jadi makan, Suster. Kalau aku pergi, mungkin aku nggak akan pernah melihat keponakanku lagi. Apa yang kalian lakukan?!"
"Ini... ini hanya pemeriksaan rutin, Mas," kilah Suster Lastri, mencoba mengatur napasnya agar tampak tenang. Ia bahkan sempat-sempatnya tersenyum tipis, sebuah senyum palsu yang memuakkan. "Ibu ini adalah kerabat jauh keluarga pasien. Dia ingin menggendong sebentar."
"Kerabat? Riana nggak punya kerabat yang wajahnya seperti penculik!" bentak Aris. Ia menoleh ke arah Riana yang terbangun karena keributan itu. Riana tampak bingung, tangannya meraba-raba boks bayi yang kini kosong.
"Mas Aris... ada apa? Anakku mana?" suara Riana parau, penuh ketakutan.
Aris menunjuk wanita asing itu. "Kembalikan bayinya. SEKARANG!"
Wanita berpakaian mewah itu mencoba melarikan diri menuju pintu, namun Aris lebih cepat. Ia mengunci pintu kamar dan berdiri tegak menghalanginya.
"Kalian tidak akan keluar dari sini kecuali dengan borgol polisi," desis Aris.
"Mas, tolong jangan salah paham," Suster Lastri mendekat, mencoba menyentuh lengan Aris dengan akting memelasnya. "Saya hanya ingin membantu bayi ini mendapatkan masa depan yang lebih baik. Ibu ini kaya raya, dia kehilangan bayinya saat lahir kemarin. Sementara Riana... dia akan kesulitan membesarkan anak ini sendirian tanpa suami yang menetap."
"Masa depan yang baik?" Aris tertawa getir, matanya berkaca-kaca karena rasa tidak percaya. "Kau seorang perawat! Kau disumpah untuk menjaga nyawa, bukan menjualnya! Kau pikir kasih sayang ibu bisa ditukar dengan uang?"
Riana, meski dengan sisa tenaganya, berusaha turun dari ranjang. Ia merangkak, meraih ujung baju wanita yang menggendong bayinya. "Tolong... itu anakku... kembalikan..." tangisnya pecah. Isak tangis seorang ibu yang baru saja melahirkan itu terdengar begitu menyayat hati.
Melihat Riana yang bersimpuh di lantai, amarah Aris mencapai puncaknya. Ia menyambar ponselnya dan menekan nomor darurat. "Halo, polisi? Saya melaporkan percobaan penculikan bayi di RS Bhakti Mulia. Pelakunya adalah perawat rumah sakit sendiri."
Mendengar kata "polisi", wanita asing itu panik. Ia meletakkan bayi itu secara kasar di atas sofa dan mencoba mendorong Aris agar bisa lari. Namun Aris tetap kokoh. Suster Lastri jatuh terduduk, ia mulai menangis histeris, menyadari bahwa karier dan hidupnya baru saja berakhir.
---
Satu jam kemudian, suasana kamar sudah berubah. Polisi telah membawa Suster Lastri dan wanita asing itu ke markas untuk penyelidikan lebih lanjut. Pihak manajemen rumah sakit sibuk meminta maaf dengan wajah penuh keringat dingin.
Aris duduk di tepi ranjang Riana. Adiknya itu kini memeluk erat bayinya, seolah takut jika ia berkedip, keajaiban kecil itu akan hilang lagi. Bayi itu tenang, tidak sadar bahwa beberapa menit yang lalu, takdir hidupnya hampir berubah secara tragis.
"Mas..." bisik Riana di sela tangisnya. "Makasih ya. Kalau Mas tadi beneran pergi makan..."
Aris mengusap air mata di pipi adiknya. "Tuhan yang gerakin kaki Mas buat balik, Ri. Firasat itu nggak pernah bohong kalau soal keluarga."
Ia menatap keponakannya yang kini terlelap. Aris berjanji dalam hati, ia akan menjadi benteng terdepan bagi keluarga kecil ini. Baginya, kemewahan dunia yang ditawarkan wanita tadi tak akan pernah sebanding dengan satu senyum tulus dari bayi yang kini berada di pelukan hangat ibunya.
Di balik jendela rumah sakit, matahari sore mulai terbenam, menyisakan semburat jingga yang tenang. Kejahatan mungkin mencoba menyelinap di antara putihnya seragam perawat, namun cinta seorang kakak dan ketajaman nurani telah memenangkan pertempuran hari itu.