Bagian 3: Hari yang Terlalu Cepat Berakhir
Pagi itu terasa berbeda.
Udara lebih dingin dari biasanya. Langit kelabu seolah enggan membuka hari. Dan di dalam rumah kecil yang rapuh itu, Rudi terbangun dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Seperti ada sesuatu yang salah.
Ia langsung menoleh ke arah bapaknya.
Masih terbaring.
Masih diam.
Namun napasnya… sangat pelan.
Hampir tak terdengar.
“Pak…” panggil Rudi lirih sambil mendekat.
Perlahan, bapaknya membuka mata. Sorotnya lemah, tapi masih ada.
“Rudi…” bisiknya.
Rudi memaksakan senyum.
“Iya, Pak. Rudi di sini.”
Bapaknya menatap Rudi lama. Sangat lama. Seolah sedang menyimpan setiap detail wajah anaknya ke dalam ingatan.
“Rudi… hari ini… jangan lama-lama di luar…” katanya pelan.
Rudi terdiam.
Biasanya bapaknya tidak pernah berkata seperti itu.
“Iya, Pak… Rudi pulang cepat…” jawabnya.
Namun di dalam hatinya, ada kegelisahan yang semakin besar.
Di pasar, Rudi tidak seperti biasanya.
Ia tidak banyak bicara. Tidak juga banyak tersenyum.
Namun ia bekerja lebih keras dari hari-hari sebelumnya.
Seolah waktu sedang mengejarnya.
Setiap kali ada pekerjaan, ia langsung mengambilnya.
Tanpa pikir panjang. Tanpa peduli rasa sakit.
Karung beras.
Peti buah.
Karung sayur.
Semua ia angkut.
Keringat membasahi tubuhnya sejak pagi. Tangannya yang sudah luka kembali terbuka. Perihnya menusuk, tapi ia bahkan tidak sempat mengeluh.
Di kepalanya hanya ada satu tujuan:
Hari ini… harus cukup.
Hari ini… roti itu harus terbeli.
Menjelang siang, tubuh Rudi mulai gemetar.
Ia belum makan sejak pagi.
Perutnya kosong, tapi ia mengabaikannya.
Saat seorang pedagang meminta bantuan mengangkat dua karung sekaligus, Rudi sempat ragu.
Namun hanya sebentar.
“Aku bisa…” bisiknya.
Ia mencoba mengangkat keduanya.
Beratnya luar biasa.
Langkahnya goyah. Nafasnya terengah.
Satu langkah…
Dua langkah…
Hingga akhirnya—
“Bruk!”
Rudi jatuh.
Karung itu menimpanya.
Beberapa orang langsung mendekat.
“Eh, kamu nggak apa-apa?” tanya seseorang.
Rudi mengangguk cepat, meski kepalanya masih pusing.
“Ng… nggak apa-apa…”
Ia bangkit lagi.
Memaksakan diri.
Karena ia tidak punya waktu untuk berhenti.
Sore hari.
Matahari mulai turun.
Rudi duduk di sudut pasar, tangannya gemetar saat menghitung uang.
Koin demi koin.
Lembar demi lembar.
Ia menghitung sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu ia terdiam.
Matanya membesar.
Cukup.
Akhirnya cukup.
Napasnya tercekat. Entah kenapa, matanya langsung berkaca-kaca.
“Bisa… akhirnya bisa…” bisiknya pelan.
Untuk pertama kalinya, Rudi tersenyum lebar.
Senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya.
Ia berdiri cepat.
Dan tanpa menunda, ia berlari.
Warung roti bakar itu masih buka.
Asap tipis mengepul dari panggangan. Aroma manisnya langsung menyambut Rudi yang datang dengan napas terengah.
“Bu… Bu…” katanya sambil mencoba mengatur napas.
Penjual itu menoleh.
“Iya, Rud? Mau beli?”
Rudi mengangguk cepat.
“Roti bakar… keju coklat… yang spesial…”
Penjual itu tersenyum.
“Kamu beneran jadi beli ya?”
Rudi hanya mengangguk lagi, matanya berbinar.
“Iya… buat Bapak…”
Penjual itu mulai membuat roti tersebut dengan hati-hati.
Rudi memperhatikan setiap prosesnya.
Roti dipanggang hingga kecokelatan.
Mentega dioleskan.
Coklat dituangkan dengan lembut.
Keju diparut hingga menutupi permukaan.
Aroma hangatnya membuat perut Rudi kembali terasa perih.
Namun kali ini, ia tersenyum.
Bukan karena lapar.
Tapi karena bahagia.
Akhirnya… ia bisa memberikan sesuatu yang diinginkan bapaknya.
“Ini, Rud…” kata penjual sambil menyerahkan bungkusan roti.
Rudi menerimanya dengan dua tangan.
Hati-hati sekali.
Seolah itu adalah sesuatu yang sangat rapuh.
“Terima kasih, Bu…” katanya tulus.
“Yang hati-hati di jalan ya.”
Rudi mengangguk.
Lalu ia berlari.
Langit mulai gelap.
Hujan turun perlahan.
Namun Rudi tidak peduli.
Ia terus berlari, memeluk bungkusan roti itu erat di dadanya agar tidak basah.
“Pak pasti senang…” katanya sambil tersenyum sendiri.
“Pak pasti suka…”
Langkahnya semakin cepat.
Meski kakinya sakit. Meski tubuhnya lelah.
Ia tidak berhenti.
“Pak! Rudi pulang!”
Suara itu menggema saat ia membuka pintu rumah.
Namun—
Tidak ada jawaban.
Rudi berhenti.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
“Pak…?”
Ia melangkah masuk perlahan.
Rumah itu… terlalu sunyi.
Tidak ada suara napas. Tidak ada batuk.
Tidak ada apa-apa.
Tangannya mulai gemetar.
“Pak… ini Rudi… Rudi bawa roti…”
Ia mendekat ke tempat tidur.
Dan di sanalah—
Bapaknya terbaring diam.
Mata terpejam.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
“Pak…?” suara Rudi pecah.
Ia menggoyang pelan.
“Pak… bangun… Pak… Rudi pulang…”
Tidak ada respon.
Rudi mulai panik.
“Pak! Lihat ini… roti… yang Bapak mau…”
Tangannya gemetar saat membuka bungkusan itu.
Aroma hangat masih ada.
Namun tak ada yang menyambut.
Ia menggoyang lebih kuat.
“Pak! Jangan tidur dulu… Pak…”
Sunyi.
Hanya suara hujan di luar.
Dan napas Rudi yang mulai terisak.
Roti itu perlahan jatuh dari tangannya.
Isinya tumpah di lantai.
Keju dan coklat menempel di tanah.
Rudi tidak peduli.
Ia langsung memeluk tubuh bapaknya.
Dingin.
Tubuh itu sudah dingin.
“Pak…” suaranya nyaris tidak terdengar.
Air mata mulai jatuh.
Satu per satu.
Lalu semakin banyak.
“Pak… Rudi udah beli… Pak…”
Tangisnya pecah.
“Bapak bangun… kita makan bareng… ya, Pak…”
Namun tak ada jawaban.
Tak akan pernah ada lagi.
Malam itu, hujan turun semakin deras.
Di dalam rumah kecil yang rapuh, seorang anak kecil memeluk tubuh yang tak lagi bernyawa.
Semua perjuangannya.
Semua lelahnya.
Semua harapannya.
Datang… terlambat.
Roti bakar keju coklat yang hangat perlahan menjadi dingin.
Sama seperti dunia Rudi…
Yang kehilangan satu-satunya alasan untuk terus kuat.
Malam itu terasa tidak pernah benar-benar berlalu bagi Rudi.
Ia masih memeluk tubuh bapaknya yang kaku, seolah dengan begitu waktu bisa berhenti, atau bahkan mundur. Hujan di luar terus turun tanpa henti, seperti ikut menangisi sesuatu yang tak lagi bisa diperbaiki.
“Pak… bangun, ya…” bisiknya pelan.
Namun tubuh itu tetap diam.
Rudi tidak tahu berapa lama ia berada di sana. Waktu seakan kehilangan arti. Yang ia tahu hanya satu—ia belum siap ditinggalkan.
Pagi datang tanpa permisi.
Cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding yang retak. Menyentuh wajah Rudi yang tertidur dalam posisi duduk, masih memeluk bapaknya.
Ketukan pintu terdengar pelan.
“Rudi… kamu di dalam?”
Suara itu milik Bu Sari, tetangga yang kadang membantu mereka.
Rudi tidak menjawab.
Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras.
“Rudi?”
Pintu terbuka perlahan.
Bu Sari masuk… dan langsung terdiam.
Pemandangan di depannya membuat napasnya tercekat.
“Ya Allah…” lirihnya.
Ia segera mendekat, menyentuh bahu Rudi.
“Rudi…”
Rudi membuka mata perlahan. Tatapannya kosong.
“Bapak tidur, Bu…” katanya pelan.
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup untuk menghancurkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Bu Sari memeluk Rudi erat.
“Bapakmu… sudah nggak sakit lagi, Nak…” katanya dengan suara bergetar.
Rudi tidak menangis.
Tidak lagi.
Seolah air matanya sudah habis semalam.
Hari itu, rumah kecil itu ramai.
Beberapa warga datang membantu. Ada yang mengurus jenazah, ada yang menyiapkan kain kafan, ada yang hanya berdiri diam dengan wajah sedih.
Rudi hanya duduk di sudut.
Diam.
Matanya mengikuti setiap gerakan orang-orang, tapi pikirannya seperti tidak ada di sana.
Sesekali ia menoleh ke arah lantai.
Di sana, sisa roti bakar masih terlihat.
Sudah dingin. Sudah kotor.
Tak tersentuh.
Saat jenazah bapaknya dibawa keluar, Rudi berdiri.
Langkahnya pelan.
Ia mendekat.
Menatap wajah bapaknya untuk terakhir kali.
“Pak…” bisiknya.
Ia ingin mengatakan banyak hal.
Tentang lelahnya.
Tentang perjuangannya.
Tentang roti yang akhirnya ia beli.
Namun tak satu pun kata keluar.
Yang tersisa hanya diam… dan sesal.
Setelah pemakaman selesai, rumah itu kembali sepi.
Lebih sepi dari sebelumnya.
Kali ini… benar-benar kosong.
Tidak ada suara batuk.
Tidak ada suara napas.
Tidak ada yang memanggil namanya.
Rudi duduk di tempat biasa.
Di dekat kasur tipis itu.
Tangannya memegang koin-koin yang dulu ia kumpulkan.
Sekarang… tidak ada lagi tujuan untuk menabung.
Ia menatap roti bakar yang sudah mengeras.
Perlahan, ia mengambilnya.
Membersihkan sedikit kotoran yang menempel.
Lalu… menggigitnya.
Rasanya manis.
Keju dan coklat masih terasa.
Namun di mulut Rudi, rasanya pahit.
Sangat pahit.
Air matanya jatuh lagi.
Kali ini tanpa suara.
“Harusnya… Bapak yang makan…” bisiknya.
Hari-hari setelah itu berjalan tanpa arah.
Rudi masih pergi ke pasar.
Masih bekerja.
Masih mengangkat barang.
Namun kini… tidak ada lagi yang ia pikirkan saat bekerja.
Tidak ada lagi yang ia tunggu saat pulang.
Ia hanya berjalan.
Seperti bayangan.
Suatu sore, saat ia kembali melewati warung roti bakar itu, langkahnya terhenti.
Penjual itu melihatnya.
“Rudi…” panggilnya pelan.
Rudi mendekat.
Tidak berkata apa-apa.
Penjual itu terdiam sejenak, lalu bertanya hati-hati,
“Bapakmu… gimana?”
Rudi menunduk.
“Udah nggak sakit lagi…” jawabnya pelan.
Penjual itu mengerti.
Ia tidak melanjutkan pertanyaan.
Hanya mengambil satu roti bakar dari panggangan.
“Ini… buat kamu…”
Rudi menggeleng.
“Nggak punya uang…”
“Ini gratis,” jawabnya lembut.
Rudi ragu.
Namun akhirnya ia menerimanya.
Ia duduk di bangku kecil di depan warung.
Menatap roti itu lama.
Lalu menggigitnya pelan.
Kali ini… rasanya tetap manis.
Namun hatinya masih kosong.
Malam itu, Rudi kembali ke rumahnya.
Ia duduk di tempat biasa.
Menatap langit-langit.
“Pak…” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Namun untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia tersenyum kecil.
Bukan karena bahagia.
Tapi karena ia mulai mengerti.
Bahwa meski bapaknya sudah tidak ada…
Semua perjuangannya dulu tidak sia-sia.
Karena ia pernah membuat bapaknya berharap.
Dan ia sudah berusaha… sekuat yang ia bisa.
Di sudut ruangan, lampu minyak kembali menyala.
Hujan turun pelan di luar.
Dan seorang anak kecil, yang terlalu cepat dewasa oleh keadaan, belajar satu hal yang paling sulit dalam hidup:
Merelakan.