Bagian 2: Luka yang Disembunyikan
Hari-hari berikutnya tidak pernah benar-benar berubah bagi Rudi.
Pagi tetap datang terlalu cepat.
Pasar tetap bising.
Dan hidup tetap terasa berat untuk anak seusianya.
Namun ada satu hal yang perlahan berubah—napas bapaknya.
Semakin hari, semakin berat.
Pagi itu, Rudi terbangun karena suara batuk yang lebih keras dari biasanya.
“Uhuk… uhuk…!”
Rudi langsung bangkit.
“Pak!” Ia berlari mendekat.
Bapaknya membungkuk, menutup mulut dengan kain lusuh. Tubuhnya bergetar setiap kali batuk datang. Rudi menahan napas ketika melihat noda merah samar di kain itu.
Darah.
Jantungnya langsung berdegup kencang.
“Pak… ini… darah ya?” suara Rudi gemetar.
Bapaknya cepat-cepat menyembunyikan kain itu.
“Ah… nggak apa-apa… cuma batuk biasa…” jawabnya pelan, memaksakan senyum.
Rudi tahu itu bohong.
Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa selain percaya.
Karena kenyataan terasa terlalu menakutkan untuk diterima.
Hari itu, langkah Rudi menuju pasar terasa lebih berat dari biasanya.
Bukan karena lelah.
Tapi karena pikirannya dipenuhi bayangan bapaknya yang batuk darah.
Ia bekerja lebih keras.
Lebih cepat.
Lebih nekat.
Ia menerima semua pekerjaan tanpa memilih.
Karung lebih berat? Diangkat.
Barang lebih banyak? Diangkut.
Jarak lebih jauh? Ditempuh.
Beberapa pedagang bahkan mulai heran.
“Kamu nggak capek, Rud?” tanya seorang ibu penjual sayur.
Rudi hanya tersenyum tipis.
“Biasa aja, Bu…”
Padahal telapak tangannya sudah penuh luka baru.
Kulitnya mengelupas di beberapa bagian. Bahunya terasa seperti terbakar.
Namun setiap kali rasa sakit datang, ia hanya mengingat satu hal:
Bapak butuh obat.
Bapak harus sembuh.
Dan… roti bakar itu.
Menjelang siang, matahari terasa semakin kejam.
Rudi hampir terjatuh saat mengangkat peti buah yang terlalu besar. Kakinya goyah, tubuhnya limbung, tapi ia tetap bertahan.
Sampai akhirnya—
“Bruk!”
Peti itu jatuh.
Beberapa buah berguling ke tanah.
“Eh! Hati-hati dong!” bentak pemiliknya.
Rudi langsung panik.
“Maaf, Pak… maaf…” katanya sambil buru-buru memungut buah yang jatuh.
Pria itu menghela napas kesal.
“Udah, udah… lain kali jangan ceroboh. Nih, ambil upahnya.”
Uang itu diberikan, tapi jumlahnya lebih sedikit dari biasanya.
Rudi menerimanya tanpa protes.
Ia tidak punya pilihan.
Sore hari, Rudi duduk di sudut pasar, menghitung hasil kerjanya.
Tidak sebanyak kemarin.
Ia menggigit bibir.
“Harus lebih banyak lagi…” gumamnya.
Ia menatap tangannya yang penuh luka.
Perih.
Namun ia justru menggenggamnya erat.
Seolah rasa sakit itu adalah pengingat bahwa ia belum boleh berhenti.
Dalam perjalanan pulang, langkah Rudi kembali melewati warung roti bakar itu.
Aroma manis kembali menyapa.
Kali ini lebih menggoda.
Ia berhenti lagi.
Menatap roti yang dipanggang perlahan di atas arang.
Keju meleleh, coklat mengalir di sela-sela roti yang kecokelatan.
Rudi menelan ludah.
Ia membayangkan bapaknya menggigit roti itu. Wajahnya mungkin akan tersenyum. Mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Rudi merogoh sakunya.
Uangnya belum cukup.
Masih kurang.
Ia menghela napas panjang.
“Sebentar lagi…” bisiknya.
Lalu ia pergi lagi.
Namun kali ini, langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
Saat sampai di rumah, suasana terasa berbeda.
Sepi.
Terlalu sepi.
“Pak…?” panggil Rudi pelan.
Tidak ada jawaban.
Ia masuk dengan cepat.
Bapaknya masih di tempat tidur, tapi kali ini wajahnya pucat. Napasnya lebih pelan… terlalu pelan.
Rudi langsung mendekat.
“Pak… Rudi pulang…”
Perlahan, bapaknya membuka mata.
“Rudi…” suaranya hampir tak terdengar.
Rudi tersenyum lega, meski matanya mulai basah.
“Iya, Pak… Rudi di sini…”
Bapaknya menatap Rudi lama. Seolah ingin menghafal wajah anaknya.
“Capek ya…” bisiknya.
Rudi menggeleng cepat.
“Nggak, Pak. Rudi kuat.”
Bohong.
Tapi ia ingin bapaknya percaya.
Malam itu, Rudi menyuapi bapaknya dengan lebih hati-hati dari biasanya.
Setiap suapan terasa seperti sesuatu yang sangat berharga.
Namun bapaknya hanya makan sedikit.
Sisanya ditolak pelan.
“Udah… Bapak kenyang…”
Padahal jelas belum.
Rudi tahu itu.
Tapi ia tidak memaksa.
Setelah bapaknya tertidur, Rudi kembali duduk di sudut ruangan.
Lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin.
Ia membuka tangannya.
Koin-koin kembali dihitung.
Hari ini bertambah.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi ia bisa membeli roti itu.
Namun untuk pertama kalinya, Rudi merasa takut.
Bagaimana kalau… ia terlambat?
Pikiran itu datang tiba-tiba.
Dan langsung membuat dadanya sesak.
Rudi menggeleng keras.
“Enggak… enggak boleh…” bisiknya.
Ia menggenggam koin itu kuat-kuat.
“Bapak pasti nunggu… pasti…”
Namun di sudut ruangan, napas bapaknya terdengar semakin lemah.
Seolah waktu diam-diam mulai habis.
Malam semakin larut.
Hujan turun lagi.
Dan di antara suara rintik yang jatuh ke atap bocor, seorang anak kecil duduk sendirian, memeluk harapan yang semakin rapuh.
Ia tidak tahu…
Bahwa waktu tidak selalu menunggu.