Bagian 1: Pagi yang Terlalu Cepat Dewasa
Pagi di sudut kota itu selalu datang terlalu cepat bagi seorang anak bernama Rudi.
Langit bahkan belum sepenuhnya terang ketika Rudi sudah membuka matanya. Atap rumahnya yang bocor masih meneteskan sisa air hujan semalam, jatuh perlahan ke dalam ember tua yang diletakkan di sudut ruangan. Bunyi “tik… tik… tik…” menjadi semacam alarm alami yang tak pernah gagal membangunkannya.
Rudi mengusap matanya pelan. Tubuhnya masih terasa pegal, terutama di bagian bahu dan punggung. Bekas kemarin mengangkat karung beras yang terlalu berat untuk tubuhnya yang kecil.
Namun ia tidak punya pilihan untuk berlama-lama memeluk rasa lelah.
Ia menoleh ke samping.
Di atas kasur tipis yang sudah kempes, bapaknya terbaring. Nafasnya terdengar berat. Kadang tersendat, kadang panjang seperti orang yang sedang berjuang mempertahankan sesuatu yang hampir hilang.
Rudi duduk perlahan, mendekat.
“Pak…” panggilnya lirih.
Tak ada jawaban, hanya suara napas kasar yang menjawab.
Rudi menelan ludah. Ia sudah terbiasa melihat kondisi itu, tapi setiap pagi tetap saja ada rasa takut yang sama—takut kalau suatu hari ia bangun, dan semuanya sudah terlambat.
Ia menyentuh tangan bapaknya.
Masih hangat.
Rudi menghela napas lega, meski hanya sedikit.
“Rudi ke pasar dulu ya, Pak… nanti Rudi beliin obat,” katanya pelan, meski ia tahu bapaknya mungkin tidak benar-benar mendengar.
Namun ia selalu bicara. Selalu.
Karena bagi Rudi, selama ia masih berbicara, berarti bapaknya masih ada untuk mendengarkan.
Ia berdiri, mengambil baju lusuhnya yang tergantung di paku dinding. Bau lembab masih menempel, tapi itu bukan hal yang bisa ia pilih.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
“Rudi pasti balik cepat, Pak…”
Kalimat itu selalu sama setiap hari. Dan setiap hari pula, ia berharap itu bukan janji kosong.
Pasar sudah mulai ramai saat Rudi tiba.
Suara pedagang saling bersahutan, aroma sayur, ikan, dan tanah basah bercampur menjadi satu. Orang-orang dewasa berlalu-lalang dengan langkah cepat, sebagian bahkan tidak menyadari keberadaan Rudi yang berdiri di sudut, menunggu pekerjaan.
“Angkut, Pak… Bu… angkut barang…” katanya pelan, hampir seperti berbisik.
Seorang pria menunjuk ke arah karung beras.
“Itu, angkat ke mobil. Cepat ya.”
Rudi mengangguk.
Ia mendekati karung itu. Tangannya yang kecil mencoba meraih bagian bawah, lalu dengan susah payah ia mengangkatnya ke pundak.
Tubuhnya langsung goyah.
Berat.
Terlalu berat.
Namun ia menggigit bibir, menahan rasa sakit yang menjalar ke bahunya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Setiap langkah terasa seperti memindahkan gunung.
Namun di kepalanya hanya ada satu hal: obat untuk bapak.
Ia tidak boleh jatuh.
Tidak boleh menyerah.
Menjelang siang, matahari mulai terik. Keringat membasahi tubuh Rudi. Bajunya menempel, napasnya terengah.
Hari itu ia sudah mengangkut entah berapa banyak barang. Tangan kecilnya mulai lecet. Ada bagian yang bahkan mulai mengeluarkan darah tipis.
Ia duduk sebentar di pinggir pasar, membuka bungkusan nasi yang ia beli pagi tadi.
Hanya nasi putih dan sedikit tempe.
Rudi menatapnya lama.
Lalu perlahan, ia menutup kembali bungkusan itu.
“Buat nanti aja…” gumamnya.
Perutnya memang lapar, tapi ia sudah terbiasa menunda.
Karena ia tahu, uang yang ia punya harus cukup.
Untuk obat.
Untuk makan bapak.
Untuk bertahan hidup.
Bukan untuk dirinya.
Sore mulai turun ketika Rudi selesai bekerja.
Langkahnya gontai, tapi di tangannya ada beberapa lembar uang lusuh dan koin-koin kecil. Ia menghitungnya berulang kali, memastikan jumlahnya.
Cukup untuk beli obat hari ini.
Itu sudah membuatnya sedikit lega.
Dalam perjalanan pulang, ia melewati sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Aroma manis langsung menyambutnya.
Rudi berhenti.
Matanya tertuju pada sebuah roti bakar di atas panggangan. Keju meleleh di atasnya, bercampur coklat yang tampak kental dan mengkilap.
Ia menelan ludah.
Tiba-tiba, suara bapaknya teringat jelas di kepalanya.
“Rudi… dulu Bapak sering lihat orang makan roti bakar keju coklat… kelihatannya enak sekali…”
Rudi menatap roti itu lama.
Lama sekali.
Seolah ia sedang melihat sesuatu yang jauh dari jangkauannya.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang yang tadi ia kumpulkan.
Lalu menggeleng pelan.
“Belum bisa…” bisiknya.
Ia menyimpan kembali uang itu.
Dan melangkah pergi.
Namun sejak saat itu, satu tekad kecil tumbuh di hatinya.
Suatu hari…
Ia akan membelikan roti itu untuk bapaknya.
Apapun caranya.
Malam datang bersama rasa lelah yang tak terucap.
Rudi membuka pintu rumah pelan.
“Pak… Rudi pulang…”
Ia mendekat, membantu bapaknya duduk sedikit, lalu menyuapi dengan nasi yang tadi ia tahan seharian.
Setiap suapan terasa seperti kemenangan kecil.
“Enak, Pak?” tanya Rudi.
Bapaknya hanya mengangguk lemah.
Namun bagi Rudi, itu sudah cukup.
Sangat cukup.
Malam itu, saat bapaknya terlelap, Rudi duduk di sudut ruangan.
Ia membuka telapak tangannya.
Koin-koin kecil berkilau redup di bawah cahaya lampu minyak.
Ia memisahkan sebagian.
“Ini buat obat…”
“Ini buat makan…”
Lalu tersisa beberapa koin.
Rudi menatapnya lama.
Senyum kecil muncul di wajahnya yang lelah.
“Ini… buat roti Bapak…”
Ia menggenggam koin itu erat.
Seolah sedang menggenggam harapan kecil yang tidak boleh hilang.
Di luar, hujan kembali turun.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Rudi tidak hanya bertahan hidup.
Ia mulai bermimpi.