Sore itu, di sudut kafe yang temaram, Ana menumpahkan segalanya tentang kegagalan presentasi, ekspektasi orang tua, hingga rasa lelah yang menghimpitnya.
Senja mendengarkan dengan punggung tegak, matanya menatap Ana dengan ketulusan yang menenangkan. Tangan Senja sesekali mengusap punggung tangan sahabatnya itu.
"Semua akan baik-baik saja, Na. Kamu sudah berusaha sangat keras. Aku di sini untukmu, kapan pun kamu butuh tempat bersandar," ucap Senja. Suaranya lembut, seperti melodi yang mampu meredam badai di hati Ana.
Ana menghela napas lega, seolah separuh bebannya telah berpindah. "Terima kasih, Senja. Kamu selalu punya kata-kata yang tepat. Kamu beruntung ya, sepertinya hidupmu selalu tenang dan stabil."
Senja hanya tersenyum. Senyum yang ia gunakan sebagai topeng untuk menyembunyikan retakan di balik dadanya.
Saat Senja melangkah masuk ke kamarnya yang sunyi, kehangatan yang ia berikan pada Ana tadi menguap seketika. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu bersandar di sana dalam kegelapan.
Pikirannya mulai berisik. Ada rasa sesak yang ingin ia teriakkan, tentang rasa sepi yang menggerogoti dan kelelahan mental yang sudah di ujung tanduk. Namun, setiap kali ia ingin meraih ponsel untuk mencari seseorang atau siapa pun untuk bicara, hatinya langsung membeku.
“Jangan,” bisik nuraninya. “Ana sedang sulit. Teman-temanmu yang lain juga punya beban. Mengeluh hanya akan menjadikanmu beban bagi mereka."
Baginya, menceritakan masalah sendiri adalah sebuah bentuk ketidakpantasan. Ia merasa dunianya harus tetap terlihat rapi agar tidak merepotkan orang lain. Ia merasa tidak berhak mencuri kedamaian orang lain hanya untuk menampung kegelisahannya yang ia anggap tak berujung.
Senja duduk di meja belajar, membuka buku sketsanya. Di ruangan itu, tidak ada suara selain detak jam dinding.
Tik. Tak. Tik. Tak.
Setiap detakan seolah menjadi suara ejekan yang bergema. Tik, kamu sendirian. Tak, tidak ada yang peduli. Tik, suaramu tidak akan terdengar.
Senja mulai menggoreskan pensilnya. Ia tidak menggambar pemandangan atau bunga. Ia menggambar sebuah kotak kayu yang tertutup rapat, dengan banyak gembok di sekelilingnya, dan di dalamnya ada sesosok wanita yang sedang menutup telinga.
"Aku baik-baik saja," gumamnya pada kesunyian. "Besok akan baik-baik saja."
Ia berbicara pada dirinya sendiri, mencoba menjadi "Senja yang bijak" untuk dirinya sendiri. Namun, malam ini, kata-kata menenangkan itu terasa hambar. Sambil terus mengarsir sketsanya dengan garis-garis tajam yang gelap, ia membiarkan detak jam dinding terus menemaninya satu-satunya saksi atas tangisan tanpa air mata dari seorang wanita yang lupa bagaimana caranya meminta tolong.
Malam-malam berikutnya tetap sama. Senja masih menjadi tempat sampah bagi keluh kesah Ana dan teman-temannya yang lain, sementara ia sendiri makin tenggelam dalam bisu. Hingga suatu malam, saat rasa sesak itu sudah hampir mencapai puncaknya, Senja mencari pelarian di dunia maya.
Ia menemukan sebuah grup daring bernama "Goresan Sunyi", sebuah komunitas kecil bagi mereka yang lebih fasih berbicara lewat sketsa daripada kata-kata. Di sana, orang-orang mengunggah karya mereka tanpa perlu menjelaskan maknanya.
Senja ragu sejenak, namun akhirnya ia mengunggah sketsa kotak kayu bergembok yang ia buat tempo hari. Ia tidak menulis Caption apa pun, hanya sebuah titik. Ia berpikir, di antara ribuan unggahan, miliknya akan tenggelam begitu saja.
Namun, hanya dalam hitungan menit, sebuah notifikasi muncul. Seseorang dengan nama akun Leo menyukai unggahannya dan mengirimkan sebuah pesan pribadi.
Senja membuka pesan itu dengan jantung berdebar. Ia mengira akan menerima pujian standar seperti "Bagus sekali" atau "Teknik arsirnya keren". Namun, pesan dari Leo berbeda.
"Kotaknya terlihat sangat berat. Pasti melelahkan ya, harus terus menjaga gembok-gembok itu agar tidak ada yang tahu apa yang pecah di dalamnya?"
Senja terpaku. Jemarinya membeku di atas layar ponsel. Itu adalah kali pertama seseorang melihat melampaui garis-garis pensilnya. Selama ini, orang melihat Senja sebagai pelabuhan yang kokoh, tapi pria asing ini justru melihatnya sebagai kotak yang retak.
Tanpa sadar, Senja membalas, "Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain dengan kuncinya."
Leo membalas dengan sebuah foto sketsa miliknya sendiri. Sebuah gambar mercusuar di tengah badai, namun lampu mercusuar itu redup karena kehabisan bahan bakar.
"Mercusuar sering lupa bahwa dia juga butuh cahaya agar tidak mati di tengah laut," tulis Leo. "Kamu tidak egois jika sesekali membiarkan lampumu padam, Senja. Kamu tidak harus selalu menjadi yang paling kuat."
dalam waktu bertahun-tahun, ini kali pertama Senja merasa benar-benar "didengar", justru oleh seseorang yang belum pernah ia temui. Leo tidak bertanya apa masalahnya, tidak menanyakan siapa yang menyakitinya, dan tidak memberikan nasihat "semua akan baik-baik saja" yang selama ini sering Senja ucapkan pada orang lain.
Leo hanya ada di sana, memahami frekuensi kesunyian yang sama.
Detak jam dinding di kamar Senja malam itu tidak lagi terdengar mengejek. Suaranya seolah berirama dengan detak jantungnya yang perlahan mulai tenang. Di bawah remang lampu kamar, Senja kembali membuka buku sketsanya.
Ia mulai menggambar lagi. Kali ini, ia menggambar sebuah gembok yang sedikit terbuka, dan dari celahnya, muncul setitik cahaya kecil. Ia berbicara pada dirinya sendiri, namun kali ini bukan untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja, melainkan untuk mengakui bahwa ia sedang terluka.
Dan bagi Senja, pengakuan itu adalah langkah pertama untuk benar-benar sembuh. Lewat Goresan Sunyi dan pria bernama Leo, Senja akhirnya paham, bahwa di dunia ini, ada jiwa-jiwa yang bisa mendengar teriakanmu, bahkan saat kamu memilih untuk tetap diam.
_____________
"Kemuliaanmu bukan diukur dari seberapa kuat kau menampung duka dunia, melainkan dari keberanianmu untuk tidak tuli pada jeritan jiwa. Jangan menjadi mercusuar yang menerangi lautan orang lain saat kau sendiri karam dalam gelap. Berbagi beban bukan tentang merepotkan, tapi tentang memberi ruang bagi sebuah tangan untuk menemanimu melangkah pulang."