Tahun 1920, Batavia
Lantai kayu galeri seni itu berderit pelan saat Adnan melangkah mendekati lukisan terakhirnya. Di sana, seorang wanita dengan selendang sutra biru sedang menatap cakrawala. Model lukisan itu adalah Elara, putri seorang bangsawan yang cintanya terlarang bagi pelukis jalanan seperti Adnan.
"Jika di kehidupan ini kita adalah garis yang tak boleh bersinggungan," bisik Adnan saat Elara berdiri di sampingnya untuk terakhir kali sebelum dijodohkan, "maka aku akan mencari warnamu di kehidupan selanjutnya."
Elara melepas cincin perak polos dari jarinya dan menekankannya ke telapak tangan Adnan. "Cari aku melalui musik, Adnan. Aku akan menunggu di antara nada-nada."
Malam itu, kapal yang membawa Elara pergi dihantam badai besar. Adnan menghabiskan sisa hidupnya melukis wajah yang sama, hingga napas terakhirnya berhenti di depan kanvas yang belum selesai.
Tahun 2026, Jakarta
Aris selalu merasa ada yang hilang dalam setiap sketsa yang ia buat. Sebagai ilustrator digital sukses, ia punya segalanya, namun tangannya selalu gemetar setiap kali ia mencoba menggambar mata seseorang. Ia merasa seperti sedang mencari bayangan.
Suatu sore, Aris berteduh dari hujan di sebuah kafe tua bertema retro. Di sudut ruangan, seorang wanita sedang memainkan piano. Alunan melodinya terasa sangat akrab—sedih, namun penuh harapan. Aris terpaku. Itu bukan lagu yang pernah ia dengar di radio, tapi ia tahu ke mana nada selanjutnya akan bergerak.
Tanpa sadar, Aris mengeluarkan buku sketsanya dan mulai menggambar dengan cepat. Bukan dengan gaya modernnya, melainkan goresan klasik yang terasa sangat alami, seolah tangannya digerakkan oleh memori seratus tahun lalu.
Musik berhenti. Wanita itu, Lara, menoleh. Matanya membelalak melihat Aris yang duduk di pojok kafe.
"Lagu itu..." Aris memulai, suaranya parau. "Judulnya Sketsa Cakrawala, bukan?"
Lara berdiri, tangannya gemetar. "Bagaimana kau tahu? Itu komposisi pribadi yang baru saja kuselesaikan... dan belum pernah kumainkan di depan umum."
Aris mendekat dan menunjukkan buku sketsanya. Di sana, ada gambar seorang wanita berselendang sutra dengan detail yang sangat sempurna, hingga ke gurat kesedihan di matanya. Di jari manis wanita dalam gambar itu, melingkar sebuah cincin perak polos yang sangat mirip dengan cincin yang kini melingkar di leher Lara sebagai kalung.
Lara menyentuh kertas itu, lalu menatap Aris. Ada kilatan pengenalan yang menyakitkan sekaligus melegakan di antara mereka.
"Warnamu," bisik Aris spontan, seolah kata-kata itu sudah mengantre di tenggorokannya selama satu abad. "Aku akhirnya menemukan warnamu."
Lara tersenyum, air mata jatuh di pipinya. "Dan aku sudah selesai menunggu di antara nada, Adnan."
Hujan di luar masih deras, namun di dalam kafe itu, waktu seolah berhenti berputar. Garis yang dulu terputus kini akhirnya bersinggungan kembali, membentuk lukisan yang utuh.