Aroma telur goreng memenuhi dapur kecil itu.
Sedikit gosong di pinggirnya—seperti biasa, karena aku selalu lupa mematikan api tepat waktu.
Dulu kamu akan tertawa.
Mengambil spatula dari tanganku, lalu berkata, “Kamu ini, masak aja nggak becus. Tapi yaudah, aku makan semuanya.”
Sekarang… kamu bahkan tidak melihat ke arahku.
“Kopi kamu di meja,” kataku pelan.
Kamu hanya mengangguk, tanpa benar-benar mendengar. Matamu sibuk menatap layar ponsel. Sudut bibirmu terangkat sedikit—senyum kecil yang dulu hanya muncul saat bersamaku.
Sekarang… bukan untukku lagi.
Aku tahu sejak lama.
Bahkan sebelum aku benar-benar berani mengakuinya.
Dari caramu mengunci ponsel.
Dari parfum asing yang menempel di kemejamu.
Dari pesan singkat yang muncul sekilas—nama perempuan yang tidak pernah kamu ceritakan.
Dan dari cara kamu berhenti menyentuhku.
Hari itu, aku menemukan bukti yang tidak bisa lagi kuabaikan.
Kemejamu tertinggal di kursi. Aku hanya ingin memasukkannya ke mesin cuci. Tapi dari saku depan, ponselmu jatuh.
Layar menyala.
Satu pesan masuk.
“Aku kangen. Besok kamu jadi kan?”
Aku tidak membuka lebih jauh.
Aku tidak perlu.
Tanganku gemetar, tapi anehnya… tidak ada air mata yang jatuh.
Seolah-olah… hatiku sudah lelah lebih dulu.
Malamnya, kamu pulang terlambat.
“Aku lembur,” katamu singkat.
Aku mengangguk, seperti biasa.
Seperti istri yang tidak tahu apa-apa.
“Aku masakin sup. Kamu pasti capek.”
Kamu hanya duduk, makan tanpa banyak bicara. Bahkan tidak menatapku.
Aku memperhatikan wajahmu diam-diam.
Mencoba mencari sisa-sisa pria yang dulu mencintaiku.
Tapi yang kutemukan… hanya seseorang yang tinggal di rumah ini karena kebiasaan.
Hari-hari berikutnya, aku berubah.
Aku bangun lebih pagi.
Memasak lebih rapi.
Belajar resep-resep baru dari internet.
Aku mulai berdandan lagi.
Memakai baju yang dulu kamu suka.
Aku berusaha… menjadi versi terbaik dari diriku.
Karena aku percaya satu hal bodoh:
Kalau aku cukup baik… kamu pasti kembali.
Tapi kamu tidak kembali.
Kamu justru semakin jauh.
“Kenapa sih kamu sekarang aneh?” katamu suatu malam.
Aku terdiam.
“Aneh gimana?”
“Kamu… terlalu berusaha. Jadi nggak kayak kamu yang dulu.”
Hatiku mencelos.
Bukankah aku melakukan semua ini… untukmu?
Suatu sore, aku melihatmu.
Bukan di rumah.
Bukan di kantor.
Tapi di sebuah kafe kecil di sudut kota.
Kamu duduk di sana.
Tertawa.
Tertawa lepas… seperti yang sudah lama tidak kulihat.
Di depanmu, seorang perempuan.
Cantik. Rapi. Percaya diri.
Dia menyentuh tanganmu.
Dan kamu… tidak menariknya.
Aku berdiri di luar kaca.
Hanya beberapa langkah dari kebahagiaan yang bukan lagi milikku.
Aneh… aku tidak masuk.
Aku hanya pergi.
Beberapa hari kemudian, dia datang ke rumah.
Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkan alamatku.
Dia berdiri di depan pintu, tersenyum sopan.
“Kak… kita bisa bicara?”
Aku mengangguk, mempersilahkannya masuk.
Dia duduk di kursi yang biasa kamu tempati.
Melihat sekeliling rumah, seolah menilai.
“Kakaknya baik ya. Pantes dia betah di sini.”
Aku menggenggam ujung bajuku.
“Apa maksud kamu?”
Dia menatapku langsung.
Tanpa ragu. Tanpa bersalah.
“Dia tetap pulang ke kakak… cuma karena kasihan.”
Kalimat itu jatuh… pelan.
Tapi menghancurkan segalanya.
Malam itu, aku tidak menangis.
Aku memasak seperti biasa.
Menyiapkan makan malam seperti biasa.
Saat kamu pulang, aku bahkan tersenyum.
“Makan dulu ya.”
Kamu mengangguk.
Kami makan dalam diam.
Untuk pertama kalinya… bukan karena aku menahan diri.
Tapi karena… tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal.
Lebih awal dari biasanya.
Aku memasak sarapan.
Telur goreng, roti panggang, dan kopi hitam—kesukaanmu.
Aku menatanya rapi di meja.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Bedanya… hari ini adalah yang terakhir.
Aku tidak menunggu kamu bangun.
Aku hanya meninggalkan satu catatan kecil di samping cangkir kopimu.
Tulisan tanganku sedikit bergetar, tapi cukup jelas untuk dibaca:
“Aku sudah tahu sejak lama.
Tapi aku tetap tinggal… karena aku masih berharap.
Sekarang aku pergi…
bukan karena aku berhenti mencintaimu.
Tapi karena aku akhirnya mencintai diriku sendiri.”
Saat kamu terbangun nanti,
sarapanmu akan tetap hangat.
Rumah ini akan tetap rapi.
Tapi aku… tidak akan ada lagi di sini.
Dan untuk pertama kalinya…
aku benar-benar pergi.