Mungkin saat ini semesta memang sedang meminta kita untuk bersabar. Hari-hari kita hanya dipenuhi dengan notifikasi, suara dari balik gawai, dan tatap muka melalui layar yang terkadang terasa dingin. Namun, cobalah lihat dari sisi yang berbeda: kita sebenarnya tidak sedang menderita karena jarak, kita hanya sedang menabung rindu untuk sebuah pertemuan yang jauh lebih hebat dan meledak nanti.
Setiap matahari terbit dan terbenam yang kita lalui masing-masing adalah satu langkah kaki yang lebih dekat menuju garis finis penantian. Hari di mana aku tidak lagi perlu mengucapkan 'sampai jumpa' melalui pesan singkat, atau melihatmu menghilang di balik pintu keberangkatan. Hari di mana aku tidak perlu lagi melepasmu, karena kita sudah berada di titik di mana menetap adalah satu-satunya pilihan.
Biarkan saja rindu ini tumbuh liar dan sedikit menyiksa, biarkan ia menjadi badai yang menguji seberapa kokoh pondasi kepercayaan yang kita bangun. Sebab, cinta yang tidak pernah diuji jarak tidak akan pernah tahu seberapa besar kekuatannya untuk bertahan. Kita sedang ditempa oleh waktu agar saat kita bersama nanti, kita tidak lagi meributkan hal-hal kecil, melainkan merayakan setiap detik kehadiran satu sama lain.
Karena pada akhirnya, sejauh apa pun langkah ini membawa kita pergi, sesulit apa pun medan yang harus kita tempuh, hal yang paling manis dari sebuah perjalanan panjang adalah momen ketika kaki kita akhirnya berhenti melangkah karena telah sampai di rumah. Dan bagiku, rumah bukanlah sebuah bangunan dengan alamat yang tetap—rumahku adalah kamu, di mana pun kamu berada, dan di pelukanmu lah aku akhirnya pulang.